Belum lagi semua daerah berlomba-lomba mengusulkan tokohnya masing-masing.
![Sampul buku biografi Jenderal M Jusuf / [Foto: Istimewa]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2020/11/07/79466-jenderal-m-jusuf.jpg)
"Akan tetapi verifikasi dan bukti kepahlawanan sudah kita serahkan ke tim peneliti, pengkaji gelar Kementerian Sosial. Kita tidak tahu apa masalahnya, karena yang putuskan kan Kementerian sosial," tambahnya.
Asal diketahui, Jenderal TNI (Purn) Andi Muhammad Jusuf Amir atau lebih dikenal dengan nama Jenderal M Jusuf adalah salah satu tokoh militer Indonesia yang sangat berpengaruh dalam sejarah kemiliteran Indonesia.
Jusuf lahir di Kajuara, Bone, Sulawesi Selatan pada 23 Juni 1928 dan meninggal pada 8 September 2004 pada umur 76 tahun.
Baca Juga:Bernilai Rp1,9 Triliun, Waskita Garap Gedung Ikonik Pinisi di Makassar
Ketika para pemimpin nasionalis, Soekarno dan Mohammad Hatta memproklamasikan Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, Jendral Jusuf menunjukkan dukungannya dengan bergabung dengan Devosi Rakyat Indonesia dari Sulawesi (KRIS).
Pada tahun 1950, ia kemudian menjadi ajudan Kolonel Alexander Evert Kawilarang, Panglima KO-TT VII/Wirabuana yang mencakup seluruh Indonesia Timur.
Dalam posisi ini, Jusuf berpartisipasi dalam memadamkan pemberontakan Republik Maluku Selatan (RMS).
Pada Oktober 1959, Jusuf dipindahkan ke Kodam XIV/Hasanuddin menjadi Komandan. Sebagai Panglima Kodam XIV/Hasanuddin, Jusuf bertanggung jawab atas keamanan Sulawesi Selatan dan Tenggara.
Pada tanggal 27 Agustus 1964, Jusuf diangkat sebagai Menteri Perindustrian. Meskipun ini adalah pos sipil, itu tidak mengherankan bahwa Jusuf diangkat ke posisi ini, karena Soekarno memiliki anggota lain dari ABRI dalam kabinetnya untuk alasan lain. Selain pertahanan dan keamanan.
Baca Juga:Waskita Bangun Gedung Ikonik Bergaya Pinisi di Sulsel Senilai Rp1,9 Triliun
![Gambar wajah Andi Makkasau / [Foto : Istimewa]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2020/11/07/96856-andi-makkasau.jpg)
Sementara, Andi Makkasau Parenrengi adalah raja dari Kerajaan Suppa yang juga penguasa lokal yang pertama kali menyatakan kesetiaan pada Negara Kesatuan Republik Indonesia.