
6. La Maddukelleng
La Maddukelleng merupakan bangsawan yang tinggal di lingkungan istana dan sering dipanggil Arung Singkang dan Arung Peneki.
Julukan Maddukelleng dari Suku Wajo adalah Petta Pammadekaenggi, berarti Tuan yang memerdekakan Wajo. Ia juga dikenal sebagai seorang ksatria, mantan perampok atau bajak laut.
La Maddukelleng dianugerahi Pahlawan Nasional karena berhasil membebaskan Wajo dan Sulewasi Selatan dari kekuasaan Belanda. Taktik yang ia gunakan adalah dengan mengadakan hubungan dagang bersama daerah-daerah yang sering mengadakan transaksi dengan Belanda, sehingga perdagangan Belanda dapat diputuskan.
Baca Juga:Bikin Ucapan Hari Pahlawan? Jangan Lupa Download Logo Hari Pahlawan 2020
La Maddukkelleng meninggal di Sulawesi Selatan pada tahun 1765, dimakamkan di Sengkang. Pada tanggal 6 November 1998 Pemerintah Republik Indonesia berdasarkan SK Presiden RI No. 109/TK/1998 menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepadanya.

7. Opu Daeng Risadju
Opu Daeng Risadju merupakan pahlawan perempuan asli Sulawesi Selatan yang menentang keberadaan Belanda meski sudah berusia senja.
Beliau adalah pendiri cabang Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII) di Palopo pada 14 Januari 1930. Dirinya kemudian meluaskan perjuangannya yang menimbulkan kekhawatiran bagi pemerintah Belanda dan Kerajaan Luwu.
Dalam Buku Pintar Mengenal Pahlawan Indonesia (2018) karya Suryadi Pratama, kegiatan yang dilakukan Opu Daeng dinilai sebagai kekuatan politik yang membahayakan Belanda.
Baca Juga:Download Logo Hari Pahlawan 2020 di Sini, Cocok untuk Gambar Ucapan Selamat
Hal tersebut membuat dirinya dituduh melakukan tindakan provokasi rakyat untuk melawan pemerintah kolonial dan dipenjara selama 13 bulan.