Pilihan Terpopuler News Lifestyle Indeks

Selamat dari Bencana Luwu Utara, Begini Kisah Pilu Putri Pariwisata 2017

M Nurhadi Kamis, 23 Juli 2020 | 13:25 WIB

Selamat dari Bencana Luwu Utara, Begini Kisah Pilu Putri Pariwisata 2017
Putri Pariwisata Favorit Indonesia 2017, Tita Kamila tampak menatap rumahnya yang sudah tertimbun tanah dan pohon kayu (Instagram/titakamila)

Saat ini, Tita Kamila bersama keluarganya mengungsi bersama dengan korban selamat lainnya.

SuaraSulsel.id - Bencana alam yang terjadi di Luwu Utara sangat membekas bagi masyarakat setempat Tak terkecuali, Putri Pariwisata Indonesia Sulawesi Selatan 2017.

Tita Kamila Syarifuddin jadi salah satu korban bencana banjir bandang yang melanda Luwu Utara Sulawesi Selatan, Senin (13/7/2020) pekan lalu.

Kepada Makassar Terkini (jaringan Suara.com) hari itu, ia mendengar suara ledakan sekitar pukul 20.30 WITA. kemudian sekitar pukul 21.00 WITA, semua warga Dusun Radda sudah berhamburan keluar rumah usai mendengar suara ledakan. Saat mencari sumber suara, dari arah luar rumah seorang warga meneriakinya untuk pergi karena ada banjir.

“Tiba-tiba kakakku membangunkan saya. Pas terbangun, saya langsung disuruh Ibu keluarkan mobil, tapi pikiranku saat itu kosong karena kaget dengar suara gemuruh dan keras sekali,” ujar dara kelahiran Masamba 4 Juni 1998 ini.

Ia sempat berusaha menyelamatkan barang-barang penting saat banjir sudah mulai naik. Ia juga mempersiapkan mobil untuk segera meninggalkan rumah.

“Jadi pas saya keluarkan mobil, saya parkir depan rumah. Kembali lagi masuk rumah ambil berkas yang sempat ku selamatkan. Berkas-berkas sama MacBook. Itu. Ibuku tidak ada sempat na bawa,” kata Miss catwalk sophie Sulawesi Selatan 2014 ini

Saat itu, ia bersama ibu dan saudaranya sudah menaiki mobil, sedangkan ayahnya memilih untuk menyelammatkan diri dengan motor.

“Saya liat aliran air depan rumah sudah mengamuk, padahal sederas apapun hujan tidak pernah air meluap begitu. Kemudian suara pohon-pohon yang patah sangat jelas terdengar," ungkap Tita sembari terisak.

Ia semakin kalut saat tahu ayahnya tidak lagi tampak di belakang mobil yang ia tumpangi bersama ibu dan kakaknya.

“Pas saya sudah keluar lorong rumah kabur hingga ke depan lorong perumahan Radda. Saya balik ayahku tidak ada di belakangku. Kembali kami cari ayah, eh pas depan SD Radda orang larang kami lewat. Mereka bilang air sudah sampai depan Masjid Al Markas,” ujarnya.

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait