- Warga Kota Makassar dan Kabupaten Gowa kesulitan serta mendapati kenaikan harga LPG 3 kg sejak pekan lalu.
- Pertamina menyatakan belum menerima laporan kelangkaan dari agen tetapi segera melakukan pengecekan langsung ke lapangan.
- Peningkatan konsumsi dan berbagai aktivitas masyarakat memicu lonjakan kebutuhan LPG bersubsidi yang kini terus dipantau Pertamina.
SuaraSulsel.id - Kelangkaan LPG 3 kilogram (kg) mulai dirasakan warga di Kota Makassar dan Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan.
Sejak pekan lalu, warga mengaku kesulitan mendapatkan gas melon yang menjadi salah satu kebutuhan utama rumah tangga tersebut.
Kondisi itu membuat sebagian warga harus berpindah dari satu tempat penjualan ke tempat lainnya demi mendapatkan LPG bersubsidi.
Salah satunya dialami Kurnia, warga Kabupaten Gowa.
Ia mengaku harus berkeliling puluhan kilometer untuk mencari LPG 3 kg, mulai dari kawasan Kampus Teknik Universitas Hasanuddin (Unhas) di Gowa hingga masuk ke wilayah Kota Makassar.
Namun, pencariannya belum membuahkan hasil.
"Gas kosong sejak hari Jumat. Sudah keliling dari Kampus Unhas Gowa sampai Hertasning, tidak ada. Kosong," keluh Kurnia, Senin, 7 September 2026.
Tidak hanya sulit ditemukan, harga LPG 3 kg yang masih tersedia di sejumlah tempat juga disebut mengalami kenaikan.
Kurnia mengatakan, harga yang biasanya berada di kisaran Rp22 ribu per tabung kini bisa mencapai Rp30 ribu. Kenaikan itu bahkan sudah dirasakannya sejak pekan lalu, ketika stok gas masih ditemukan di salah satu penjual.
Baca Juga: Pertamina Batalkan Aturan Beli BBM Subsidi Harus Pakai STNK
"Minggu lalu terakhir saya dapat masih ada, tapi naik juga Rp30 ribu. Padahal biasanya cuma Rp22 ribu. Orang di warung bilang mereka ambil dari agen juga naik," katanya.
Kondisi tersebut membuat kebutuhan LPG rumah tangga menjadi semakin berat. Terutama bagi warga yang tidak memiliki banyak pilihan selain membeli LPG 3 kg untuk keperluan sehari-hari.
Di tengah keluhan warga, pihak Pertamina menyatakan belum menerima laporan terkait kekosongan atau kelangkaan LPG 3 kg dari agen.
Sales Area Manager Retail PT Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi, Rainier Axel Parlindungan Gultom yang dikonfirmasi mengatakan pihaknya belum mendapatkan informasi dari agen mengenai adanya kelangkaan di lapangan.
"Dari agen enggak ada yang info ke kami sebelumnya kalau kosong atau langka," ujar Rainier.
Meski demikian, Pertamina akan segera melakukan pengecekan untuk memastikan kondisi sebenarnya di lapangan.
"Kami segera cek. Khawatir ada yang mengondisikan," katanya.
Sementara itu, Area Manager Communication, Relation, & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi, Lilik Hardiyanto menjelaskan peningkatan kebutuhan LPG 3 kg dapat dipengaruhi oleh meningkatnya aktivitas masyarakat.
Ia bilang kebutuhan LPG bersubsidi juga mengalami peningkatan pada sektor pertanian serta momentum peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang berlangsung di sejumlah daerah.
Pertamina, kata Lilik, telah melakukan sejumlah langkah antisipasi untuk menjaga ketersediaan LPG 3 kg di masyarakat.
Salah satunya dengan mempercepat penyaluran dengan memajukan jadwal distribusi agar pasokan dapat lebih cepat tiba di tingkat agen dan pangkalan.
"Pemantauan stok dan pola konsumsi di agen maupun pangkalan terus dilakukan. Apabila ditemukan wilayah dengan peningkatan kebutuhan signifikan, dapat segera dilakukan langkah penanganan sesuai kondisi lapangan," ujar Lilik.
Pertamina juga terus melakukan pemantauan terhadap pergerakan stok dan pola konsumsi LPG 3 kg di tingkat agen maupun pangkalan.
Langkah tersebut dilakukan untuk mengantisipasi apabila terjadi peningkatan kebutuhan di suatu wilayah yang berpotensi memengaruhi ketersediaan.
Pertamina mengingatkan bahwa LPG 3 kg merupakan produk bersubsidi yang diperuntukkan bagi masyarakat yang berhak.
Penggunaan LPG 3 kg juga memiliki ketentuan. Pertamina mencatat terdapat delapan kelompok atau sektor usaha yang dilarang menggunakan LPG bersubsidi tersebut.
Kedelapan sektor itu yakni restoran, hotel, usaha binatu atau laundry, usaha batik, usaha peternakan, usaha pertanian di luar ketentuan yang berlaku, usaha tani tembakau, serta jasa las.
Pertamina mengimbau pelaku usaha pada sektor-sektor tersebut untuk menggunakan LPG nonsubsidi sesuai peruntukannya, salah satunya Bright Gas.
"Kami mengimbau pelaku usaha pada sektor-sektor tersebut untuk secara sadar beralih menggunakan LPG nonsubsidi seperti Bright Gas," kata Lilik.
Menurut Lilik, penggunaan LPG bersubsidi secara tepat sasaran menjadi salah satu faktor penting untuk menjaga ketersediaan gas melon bagi masyarakat yang memang berhak menerima subsidi.
Karena itu, Pertamina juga meminta dukungan pemerintah daerah dan aparat penegak hukum untuk memperketat pengawasan serta melakukan penertiban apabila ditemukan penyalahgunaan LPG 3 kg di lapangan.
Kontributor : Lorensia Clara Tambing
Berita Terkait
Terpopuler
- KBRI Kuala Lumpur Digeruduk, Warga Malaysia Desak Prabowo Buka Nama Perusahaan Terlibat Karhutla
- Gunung Anak Krakatau Meletus Abu Membubung 15 Km, BMKG Jepang Pantau Ancaman Tsunami
- Daftar Shio yang Paling Berpotensi Jadi Pengusaha Sukses
- Harga Sepatu Skechers Original, Cek 5 Pilihan Terbaik untuk Jalan dan Lari
- 5 Manfaat Air Mawar untuk Wajah dan Kulit yang Menarik Diketahui
Pilihan
-
Gunung Anak Krakatau Masih Siaga, 6 Kali Erupsi Strombolian Terekam
-
Gunung Anak Krakatau 'Muntah-muntah' Lagi Selasa Pagi Ini, 3 Kali Erupsi
-
Bandara Soetta dan Halim Mulai Dibuka untuk Penerbangan
-
Warga Serbu Pasar Asemka Cari Masker, Pedagang: Stok KF95 Kosong Sejak Kemarin!
-
Siswa TK sampai SMA di Jakarta dan Tangerang Raya PJJ Sampai Rabu 9 September
Terkini
-
Antrean Truk Mengular dan Harga Gas Melonjak, Pertamina Harus Beri Penjelasan!
-
Unhas Selidiki Dugaan Kekerasan dan Intimidasi Mahasiswa MIPA
-
Gas 3 Kg Langka dan Mahal, Pertamina Malah Bilang Begini
-
5 Menit Kota Makassar Diguyur Hujan
-
Dituduh Masuk Angin, Ini Janji Tegas Kajari Lutim Terkait Korupsi Seragam dan Ambulans