- Kebakaran hutan pinus seluas dua hektare terjadi di Kabupaten Gowa pada rabu, 19 Agustus 2026, dan berhasil dikendalikan tim gabungan.
- Gubernur Sulawesi Selatan mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan karena musim kemarau memicu puluhan titik panas di berbagai wilayah.
- Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika memprediksi puncak musim kemarau 2026 dan El Nino memperbesar risiko kebakaran lahan yang luas.
SuaraSulsel.id - Api melahap kawasan hutan pinus di wilayah Bulu Salili, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan.
Sedikitnya dua hektare lahan terbakar dalam peristiwa yang terjadi menjelang malam pada Rabu, 19 Agustus 2026.
Kebakaran terjadi sekitar pukul 17.35 Wita. Kobaran api kemudian ditangani tim gabungan yang terdiri atas petugas pemadam kebakaran, TNI, Polri, Dinas Kehutanan, serta warga yang berada di sekitar lokasi.
Kepala Bidang Pencegahan dan Penanggulangan Kebakaran Dinas Pemadam Kebakaran Gowa, Syamsul Bahri mengatakan sumber api hingga kini belum diketahui. Polisi masih melakukan penyelidikan untuk memastikan penyebab kebakaran.
"Kejadiannya di wilayah Bulu Salili. Luas area yang terbakar diperkirakan dua hektare," kata Syamsul, Kamis, 20 Agustus 2026.
Petugas gabungan berjibaku memadamkan api agar tidak merambat ke kawasan hutan lainnya. Setelah beberapa waktu dilakukan pemadaman, api akhirnya berhasil dikendalikan.
Meski demikian, petugas belum sepenuhnya meninggalkan lokasi. Tim pemadam masih disiagakan untuk mengantisipasi munculnya kembali titik api, terutama karena kondisi lahan yang kering dapat membuat bara api kembali menyala.
"Tim masih siaga di lokasi," ujarnya.
Kebakaran di Gowa menambah daftar kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di Sulawesi Selatan dalam beberapa waktu terakhir.
Baca Juga: Ganti Rugi Lahan Stadion Sudiang Rp18 Miliar Belum Dianggarkan
Di Kabupaten Enrekang, kebakaran bahkan melanda kawasan hutan dan lahan pinus di sekitar Gunung Nona dengan luas mencapai sekitar 10 hektare.
Berbeda dengan di Gowa yang penyebabnya masih diselidiki, kebakaran di kawasan Gunung Nona diduga dipicu kelalaian warga saat beraktivitas di kaki gunung.
Api diduga berasal dari bara sisa aktivitas memasak yang dilakukan petani yang sedang berkebun di kawasan tersebut.
Bara yang tidak sepenuhnya padam kemudian diduga memicu kebakaran dan menjalar ke kawasan hutan serta lahan pinus yang berada di sekitarnya.
Pasca kebakaran, akses menuju kawasan tersebut diperketat. Polisi hutan bersama petugas terkait melakukan pemantauan untuk mencegah warga kembali beraktivitas di area yang masih rawan.
Warga untuk sementara dilarang memasuki kawasan tersebut hingga kondisi dinyatakan aman.
Berita Terkait
Terpopuler
- Febrie Adriansyah Minta Emas 74 Kg dan Uang Ratusan Miliar Segera Dikembalikan
- 4 Perbedaan Rice Cooker Keramik vs Stainless Steel untuk Memasak Nasi, Mana yang Lebih Sehat?
- 3 Sepatu Jalan untuk Lansia Paling Nyaman, Hands Free Tak Perlu Membungkuk
- Spanduk Polwan saat Adang Aksi BEMI UI Kena Rujak Netizen: Bu Polwan Salah Bawa Spanduk?
- Kulkas Sharp 2 Pintu Berapa Harganya? Ini 3 Pilihan yang Dingin dan Hemat Listrik Sesuai Review
Pilihan
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
-
Dihadang Polisi di UOB Plaza, Massa UI: Ini Bukti Kita Belum Merdeka!
Terkini
-
Ritual Berujung Petaka di Bone: ASN Ngamuk Ngaku Arung Palakka Terpaksa Diikat di Pohon
-
53 Titik Api Kepung Sulawesi Selatan, Kebakaran di Gowa hingga Enrekang
-
Deg-degan! Momen TNI AU Paksa Pesawat Asing Turun di Makassar, Ternyata Angkut Ini
-
Serentak di 131 Lokasi, BRI KKB National Expo Raih Rekor MURI
-
Ganti Rugi Lahan Stadion Sudiang Rp18 Miliar Belum Dianggarkan