Muhammad Yunus
Selasa, 06 Oktober 2026 | 10:56 WIB
Kabut asap menutupi kawasan permukiman di Palu, Sulawesi Tengah, Senin (5/10/2026). Stasiun Pemantau Atmosfer Global Lore Lindu Bariri menyebutkan kualitas udara di Kota Palu diperkirakan masih berada pada level tinggi dalam tiga hari ke depan seiring masuknya asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dari sejumlah wilayah [SuaraSulsel.id/ANTARA]
Baca 10 detik
  • BMKG menyatakan kabut asap akibat kebakaran hutan di Sulawesi Tengah dan Papua Selatan menurunkan kualitas udara Kota Palu sejak akhir September 2026.
  • Fenomena El Nino menyebabkan kurangnya curah hujan sehingga polutan udara tidak terbilas secara alami dan mencapai puncak pencemaran pada Minggu.
  • BMKG mengimbau warga Kota Palu tetap waspada, menggunakan masker, menjaga hidrasi tubuh, serta menghindari pembakaran sampah sembarangan.

SuaraSulsel.id - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengatakan kabut asap di Kota Palu dan sekitarnya dipicu dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada regional Sulawesi Tengah (Sulteng).

"Peningkatan konsentrasi polutan udara di Kota Palu telah terpantau sejak akhir September 2026," kata Ketua Tim Layanan Publik dan Humas BMKG GAW Lore Lindu Bariri Soeharto di Palu, Senin 5 Oktober 2026.

Menurut catatan BMKG kualitas udara di Kota Palu mengalami penurunan drastis hingga masuk kategori tidak sehat dalam beberapa hari terakhir.

Berdasarkan hasil pengamatan citra ‎satelit pemburukan kualitas udara dipicu oleh sebaran asap karhutla regional di Sulawesi Tengah, titik terbanyak berasal dari Kabupaten Morowali dan Kabupaten Tojo Una-Una.

"Pergerakan angin di atmosfer membawa kabut asap tersebut hingga masuk dan mengepung wilayah Kota Palu," ujarnya.

Ia mengemukakan sejak 28 September konsentrasi PM10 sudah masuk dalam kategori sedang, sedangkan untuk konsentrasi PM2,5 sudah masuk dalam kategori tidak sehat.

‎"Puncaknya terjadi pada Minggu (4/10) l, di mana konsentrasi partikulat PM10 menyentuh angka 130 mikrogram per meter kubik, sedangkan PM2,5 mencapai 132 mikrogram per meter kubik," ucap Soeharto.

Selain titik panas lokal di Sulteng, kata dia, pemantauan rentang waktu tujuh hari ke belakang juga menunjukkan adanya kontribusi sebaran asap karhutla dari wilayah Papua Selatan yang terbawa angin.

‎Fenomena iklim El Nino turut memperparah kondisi karhutla di daerah tersebut, kurangnya curah hujan akibat El Nino menyebabkan hilangnya mekanisme pembilasan alami polutan di udara.

Baca Juga: Begini Kualitas Udara Kota Makassar Senin 5 Oktober, Gubernur: Pakai Masker!

‎‎"Pada kondisi normal hujan berfungsi membersihkan udara dari polutan sehingga kualitas udara biasanya berada di kategori baik hingga sedang. Namun saat ini curah hujan berkurang drastis," tuturnya.

‎BMKG memprediksi kualitas udara Kota Palu beberapa hari ke depan masih berada pada konsentrasi PM10 kategori sedang dan PM2,5 kategori tidak sehat.

‎BMKG mengimbau warga Kota Palu tetap tenang namun meningkatkan kewaspadaan saat beraktivitas di luar rumah. Masyarakat disarankan untuk selalu menggunakan masker, mengenakan pakaian tertutup guna menghindari sengatan matahari langsung.

"Termasuk menjaga hidrasi tubuh untuk mencegah dehidrasi, serta tidak memperparah kondisi udara dengan melakukan pembakaran sampah sembarangan," kata dia.

Load More