Muhammad Yunus
Rabu, 12 Agustus 2026 | 19:08 WIB
Pemimpin Redaksi Suara.com, Suwarjono, memberikan pengantar diskusi forum media lokal 'Local Media Summit' di Hotel Mercure Makassar, Rabu, 12 Agustus 2026 [SuaraSulsel.id/Muhammad Yunus]
Baca 10 detik
  • Pemimpin Redaksi Suara.com Suwarjono menyatakan media lokal wajib berkolaborasi menghadapi tantangan industri di Makassar, Rabu, 12 Agustus 2026.
  • Suwarjono mengungkapkan pergeseran perilaku generasi muda ke media sosial menurunkan trafik dan pendapatan iklan situs berita.
  • Suwarjono menyarankan media lokal melakukan diversifikasi pendapatan serta memaksimalkan konten berbasis kedekatan isu dan budaya daerah setempat.

SuaraSulsel.id - Perubahan lanskap media berlangsung semakin cepat. Perilaku pembaca bergeser, platform distribusi berubah, sementara biaya operasional redaksi terus meningkat.

Di tengah kondisi tersebut, media lokal dinilai perlu beradaptasi jika ingin menjaga keberlangsungan jurnalisme sekaligus bisnis medianya.

Pemimpin Redaksi Suara.com, Suwarjono mengatakan tantangan yang dihadapi industri media ke depan tidak ringan. Karena itu, kolaborasi antarorganisasi media menjadi salah satu langkah yang perlu diperkuat untuk menghadapi perubahan tersebut.

"Tantangan ke depan itu akan sangat berat. Makanya semua organisasi media yang sedang menghadapi isu sama yang berat ini kita ajak kolaborasi," kata Suwarjono dalam acara diskusi forum media lokal 'Local Media Summit' di Hotel Mercure Makassar, Rabu, 12 Agustus 2026.

Diskusi dihadiri sekitar 40 pemimpin media lokal dari Pulau Sulawesi. Menghadirkan pembicara dari Suara.com dan perwakilan Google.

Dalam pemaparannya, Suwarjono menjelaskan perubahan tidak hanya terjadi pada teknologi, tetapi juga pada pembaca, platform, hingga pola konsumsi konten.

Media tidak bisa lagi bertahan dengan cara kerja lama ketika perilaku audiens telah berubah begitu cepat.

"Perubahan saat ini cepat sekali. Pembaca, platform, teknologi dan kontennya juga berubah. Kita mau tidak mau all out, membuat sisi kita juga harus berubah," ujarnya.

Yos Kusuma News Partner Manager Google Singapore menjelaskan posisi Google dalam ekosistem media saat diskusi forum media lokal 'Local Media Summit' di Hotel Mercure Makassar, Rabu, 12 Agustus 2026 [SuaraSulsel.id/Muhammad Yunus]

Namun, di tengah perubahan tersebut, Suwarjono menilai satu hal yang tidak boleh hilang adalah jurnalisme itu sendiri. Persoalannya, model bisnis media yang selama ini menopang kerja redaksi semakin sulit diandalkan.

Baca Juga: Sulteng Belum Mandiri Fiskal, 80 Persen Bergantung Pusat

"Yang jadi poinnya adalah bagaimana jurnalisme tetap hidup," katanya.

Menurutnya, pada masa lalu, pendapatan dari bisnis media relatif mampu membiayai kebutuhan redaksi dan operasional.

Kini situasinya berbeda. Biaya produksi berita semakin mahal, sementara pendapatan media tidak selalu mampu menutup kebutuhan tersebut.

"Dulu jurnalisme menghidupi dan membiayai redaksi atau operasional. Sekarang mahal. Tidak bisa lagi menutupi biaya produksi, sementara pendapatan tidak mencukupi, sehingga jurnalisme hari ini kita yang membiayai," jelasnya.

Keberlangsungan jurnalisme setidaknya membutuhkan sumber pendapatan yang mampu menopang sekitar 50 persen kebutuhan media. Di tingkat lokal, ketergantungan terhadap anggaran pemerintah daerah bahkan masih cukup tinggi.

"Di daerah sampai 90 persen dan masih mengandalkan APBD," sebutnya.

Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri karena kebijakan efisiensi anggaran pemerintah berpotensi kembali memengaruhi belanja publikasi media.

Suwarjono mengingatkan media lokal agar tidak menganggap sumber pendapatan tersebut akan selalu tersedia.

"Jadi siap-siap saja mungkin beberapa daerah tak ada anggaran untuk media lagi. Tahun ini sudah kecil dan tahun depan kemungkinan tidak ada lagi," ujarnya.

Di saat yang sama, trafik media besar di platform website mengalami tekanan. Sebaliknya media sosial justru terus mengalami pertumbuhan, terutama di kalangan pembaca muda.

Ia menyebut 90 persen generasi Z mengonsumsi informasi melalui platform seperti Instagram dan TikTok dibandingkan membuka situs berita secara langsung.

Suasana diskusi forum media lokal 'Local Media Summit' di Hotel Mercure Makassar, Rabu, 12 Agustus 2026 [SuaraSulsel.id/Muhammad Yunus]

"Media sosial naik terus, tahun ke tahun naiknya signifikan karena pembaca kita Gen Z tidak mau lagi baca website, tapi media sosial," ucapnya.

Perubahan perilaku tersebut juga berdampak terhadap perebutan belanja iklan. Ketika audiens berpindah ke media sosial, pengiklan pun mengikuti tempat berkumpulnya audiens.

Karena itu, ia menilai media lokal tidak seharusnya melihat platform digital sebagai pesaing yang harus dilawan.

Sebaliknya, platform tersebut perlu dimanfaatkan untuk memperluas jangkauan sekaligus membangun komunitas pembaca.

"Strategi media lokal adalah jangan melawan platform dan gunakan platform sebagai distribusi, akuisisi audience, community building. Website juga bukan satu-satunya," ujarnya.

Selain distribusi, persoalan lain yang harus diperhatikan media lokal adalah diversifikasi pendapatan. Menurut Suwarjono, media tidak cukup hanya mengandalkan satu sumber pemasukan.

Ia mendorong setiap media memiliki setidaknya tiga hingga empat sumber pendapatan yang berasal dari lini bisnis berbeda.

Dengan begitu, ketika salah satu sumber pendapatan mengalami penurunan, operasional media masih dapat ditopang dari sumber lainnya.

"Ada banyak model yang bisa kita lakukan sebelum terjadi badai efisiensi ini. Minimal satu media kita punya tiga atau empat sumber pendapatan dari bisnis lain yang berbeda," bebernya.

Di tengah persaingan dengan media sosial dan media nasional, Suwarjono justru melihat kekuatan utama media lokal berada pada konten yang sangat dekat dengan masyarakat.

Ia mencontohkan kondisi di Makassar. Banyak media lokal memproduksi berita dengan topik yang hampir sama sehingga persaingan akhirnya hanya terjadi pada kecepatan dan jumlah publikasi.

Padahal media lokal memiliki keunggulan yang sulit ditandingi media nasional, yakni kedekatan dengan isu, tokoh, komunitas, dan budaya setempat.

Karena itu, media lokal perlu memperkuat identitasnya sebagai pencerita utama mengenai daerah masing-masing.

Bukan sekadar mengejar berita yang sedang ramai, tetapi menghadirkan laporan yang lebih mendalam dan memiliki nilai bagi masyarakat lokal.

"Misalnya di Makassar ada 50 media, tapi 80 persen kontennya sama. Makanya tidak naik-naik, kecuali kontennya jelas berbeda dengan konten umum. Nah, media nasional sulit menang di isu lokal yang mendalam, tokoh dan budaya lokal. Jadi media lokal harus menjadi official storyteller of the region," kata Suwarjono.

Dengan strategi tersebut, media lokal diharapkan tidak hanya bertahan menghadapi perubahan teknologi dan perilaku pembaca, tetapi juga tetap memiliki posisi penting dalam menjaga kehidupan jurnalisme di daerah.

Kontributor : Lorensia Clara Tambing

Load More