- Pansus Hak Angket DPRD Gowa menjadwalkan pemanggilan Bupati Sitti Husniah Talenrang pada 9 Juli 2026 terkait penyelidikan tiga persoalan kebijakan.
- Bupati Husniah diminta memberikan keterangan mengenai dugaan penyalahgunaan wewenang beasiswa, pengadaan seragam sekolah, serta hubungan pribadi yang diselidiki pansus.
- Pihak Bupati melaporkan Pansus ke Bareskrim Polri untuk menguji legalitas proses hak angket yang dianggap menyiarkan materi privat secara terbuka.
Ketiga, dugaan hubungan pribadi antara Husniah dengan mantan konsultan politiknya, Basri Kajang, yang turut dibahas dalam forum pansus.
Di tengah proses politik yang masih berjalan di DPRD, dan Gugatan Perdata di Pengadilan Negeri Sungguminasa, pelaksanaan hak angket kini juga memasuki ranah hukum setelah dilaporkan ke Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri.
Kuasa hukum Husniah, Muallim Bahar mengatakan laporan tersebut diajukan sebagai bentuk permohonan agar aparat penegak hukum menguji apakah pelaksanaan hak angket masih berada dalam koridor kewenangan yang diatur peraturan perundang-undangan.
Kata Muallim, terdapat tiga pokok persoalan yang menjadi dasar laporan ke Bareskrim.
Pertama, dugaan penyalahgunaan anggaran Panitia Khusus Hak Angket DPRD Gowa yang diminta untuk ditelusuri aparat penegak hukum.
Kedua, penyiaran secara langsung pembahasan dugaan tindak asusila yang menyeret nama Bupati Gowa dalam forum pansus.
Muallim menilai materi yang berkaitan dengan dugaan tindak asusila merupakan ranah privat sehingga tidak semestinya disiarkan secara terbuka kepada publik.
"Pengadilan umum saja sidang perkara asusila dilakukan secara tertutup. Bahkan sidang perceraian juga tertutup untuk umum. Sementara ini justru disiarkan secara terbuka. Inilah yang kami nilai perlu diuji dari sisi hukum sehingga kami melaporkannya," kata Muallim.
Ketiga, laporan tersebut juga mempersoalkan dugaan penyebaran informasi bohong atau hoaks melalui media sosial yang berkaitan dengan materi pembahasan hak angket.
Baca Juga: Bupati Gowa Lawan Hak Angket: Dua Saksi Dilaporkan ke Bareskrim
Meski demikian, Muallim menegaskan pihaknya tidak bermaksud menghalangi fungsi pengawasan DPRD melalui hak angket.
Menurutnya, hak angket merupakan instrumen konstitusional yang harus dihormati. Namun, setiap kewenangan tetap memiliki batas yang diatur oleh hukum.
"Kami menghormati hak angket sebagai instrumen konstitusional DPRD. Namun, setiap kewenangan memiliki batas. Ketika pelaksanaannya diduga sudah kebablasan dan keluar dari koridor hukum, maka negara harus hadir untuk menguji melalui proses hukum yang objektif dan profesional," tegasnya.
Kontributor : Lorensia Clara Tambing
Berita Terkait
Terpopuler
- Febrie Adriansyah Minta Emas 74 Kg dan Uang Ratusan Miliar Segera Dikembalikan
- 4 Perbedaan Rice Cooker Keramik vs Stainless Steel untuk Memasak Nasi, Mana yang Lebih Sehat?
- 3 Sepatu Jalan untuk Lansia Paling Nyaman, Hands Free Tak Perlu Membungkuk
- Spanduk Polwan saat Adang Aksi BEMI UI Kena Rujak Netizen: Bu Polwan Salah Bawa Spanduk?
- Kulkas Sharp 2 Pintu Berapa Harganya? Ini 3 Pilihan yang Dingin dan Hemat Listrik Sesuai Review
Pilihan
-
KPK Tangkap Rektor Unsoed Akhmad Sodiq Terkait Dugaan Suap Penerimaan Mahasiswa Baru
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
Terkini
-
Penyandang Disabilitas Jadi Korban Tewas Kebakaran di Paccerakkang Makassar
-
BRI Kembangkan Ekosistem Emas Terintegrasi untuk Masa Depan Indonesia
-
Ini Jadwal Baru Pembuangan Sampah di Kota Makassar, Wajib Diketahui Warga!
-
Ritual Berujung Petaka di Bone: ASN Ngamuk Ngaku Arung Palakka Terpaksa Diikat di Pohon
-
53 Titik Api Kepung Sulawesi Selatan, Kebakaran di Gowa hingga Enrekang