- Puang Macora merupakan maestro sekaligus penari terakhir Pajoge Angkong, kesenian tradisional yang berasal dari Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan.
- Tari Pajoge Angkong yang sempat populer di lingkungan Kerajaan Bone kini berada di ambang kepunahan akibat berbagai faktor.
- Dinas Pariwisata Sulawesi Selatan mendata kesenian ini sebagai tradisi hampir punah karena minimnya regenerasi penari di kalangan muda.
Dalam pertunjukan perdananya di Kota Watampone, seorang penari mengenakan tujuh lapis Baju Bodo.
Angka tujuh memiliki makna simbolis dalam kosmologi Bugis: Pitu Wali (tujuh wali), Pitu Lapi Langi (tujuh lapis langit), dan Pitu Lapi Tana (tujuh lapis bumi).
Popularitas Pajoge Angkong kemudian melampaui Bone. Kelompok-kelompok penari mulai tampil hingga ke Kabupaten Soppeng, Wajo, Pinrang, bahkan mencapai Buton.
Namun sejarah berubah ketika pergolakan DI/TII melanda Sulawesi Selatan pada dekade 1950-an. Situasi keamanan membuat berbagai pertunjukan rakyat berhenti.
Pajoge Angkong perlahan kehilangan panggung lalu memasuki masa vakum yang panjang.
"Bagaimana kita bisa menari dengan tenang kalau orang-orang terus berperang. Jadi saya memilih meninggalkan Bone dan merantau," kenang Puang Macora.
Perjalanan hidupnya kemudian membawanya ke Kalimantan, Sumatra, hingga Malaysia.
Di tanah rantau itulah ia tetap mempertahankan Pajoge Angkong dengan menggelar berbagai pertunjukan sebagai upaya menjaga agar tarian leluhurnya tidak benar-benar hilang.
Kini keadaan berubah jauh dibanding masa lalu.
Baca Juga: Cap Tangan 67.800 Tahun di Pulau Muna Jadi Seni Cadas Tertua di Bumi
Banyak penari Pajoge Angkong telah wafat tanpa sempat mewariskan ilmunya kepada generasi berikutnya. Pertunjukan semakin jarang digelar.
Akibatnya, tidak sedikit masyarakat Bone sendiri yang kini bahkan tidak lagi mengenal Pajoge Angkong.
Puang Macora mulai menari sejak berusia 15 tahun. Lebih dari enam puluh tahun kemudian, ia masih berdiri di atas panggung sebagai saksi hidup perjalanan kesenian tersebut.
Menurutnya, persoalan terbesar bukan hanya minimnya pertunjukan, melainkan juga semakin sedikitnya anak muda yang ingin belajar.
"Para waria sekarang lebih memilih menjadi penata rias pengantin atau pekerjaan lain yang penghasilannya lebih menjanjikan," ujarnya.
Di tengah kenyataan itu, harapan untuk mempertahankan Pajoge Angkong semakin bergantung pada sedikit pelaku yang masih tersisa.
Berita Terkait
Terpopuler
- Sosok Arnold Aristoteles, Mantan Jenderal yang Dimarahi Menteri PU Dody Hanggodo
- Apakah Kulkas Harus Dimatikan saat Membersihkan Bunga Es? Begini Cara yang Benar
- Urutan Pemakaian Air Mawar, Moisturizer, dan Sunscreen di Pagi Hari yang Tepat
- 15 Kode Redeem FF Terbaru 27 September 2026, Lengkap Trik Jitu Dapatkan Bundle Sasuke
- 9 Bedak Padat dan Tabur Terbaik di Indomaret di Bawah 50 Ribu
Pilihan
-
Masinis Argo Bromo Anggrek Jadi Tersangka Kecelakaan Kereta di Bekasi
-
Jejak Aparat pada Kematian Pedagang Cermin saat Demo 27 Agustus 2026
-
Hasil Rapat Haji di Istana, Masa Tunggu Jadi 14 Tahun
-
Hasil Investigasi di Lapas Cibinong: Kulkas Berisi Miras hingga Perabotan Mewah Milik Kasi Kamtib
-
Bayi Dua Hari Ditinggalkan dalam Kardus, Tangisnya Bongkar Misteri di Depan Rumah Warga
Terkini
-
Pemuda Tewas Tertembak Saat Tawuran di Makassar, 11 Polisi Diperiksa Propam
-
Petani Bulukumba Optimistis Bisa Panen Padi 3 Kali Setahun
-
Mobil Hilang Kendali dan Terguling, 3 Anggota Damkar Pangkep Gugur
-
Desain Baru Gedung DPRD Sulsel Lebih Mewah, Ada Ruang Pribadi dan Parkir 130 Kendaraan
-
Mengenang Anthonius: Selamatkan Ratusan Nyawa Penumpang Pesawat di Palu