Muhammad Yunus
Kamis, 13 Agustus 2026 | 10:54 WIB
Ilustrasi udang : Shrimp Club Indonesia (SCI) menolak masuknya udang vaname impor ke Indonesia [SuaraSulsel.id/Istimewa]
Baca 10 detik
  • Shrimp Club Indonesia menolak impor udang vaname dalam audiensi dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan pada 12 Agustus 2026.
  • Impor udang asal Ekuador dan Argentina dikhawatirkan dapat menurunkan harga domestik serta mengancam satu juta pekerja industri.
  • Organisasi tersebut juga mewaspadai risiko penularan penyakit baru serta dugaan masuknya produk sisa penolakan negara lain.

SuaraSulsel.id - Shrimp Club Indonesia (SCI) menolak masuknya udang vaname impor ke Indonesia. Organisasi pelaku usaha udang ini menilai impor tersebut berpotensi menekan harga udang di tingkat petambak sekaligus membawa risiko serius terhadap biosecurity dan keamanan pangan nasional.

Ketua Umum SCI Prof. Andi Tamsil mengatakan Indonesia tidak memiliki alasan kuat untuk mengimpor udang vaname karena komoditas tersebut diproduksi di dalam negeri.

“Impor pasti akan memberikan tekanan terhadap harga. Yang terdampak bukan hanya petambak, tetapi seluruh rantai industri udang, mulai dari hatchery, pakan, supplier hingga cold storage,” kata Prof Andi Tamsil, yang juga Guru Besar Universitas Muslim Indonesia dan pengurus ISPIKANI, kepada Suara.com, Kamis 13 Agustus 2026.

SCI menyampaikan keberatan tersebut dalam audiensi dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) pada 12 Agustus 2026.

Audiensi dihadiri Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Plt Direktur Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan serta Ketua Umum SCI.

SCI menyampaikan keberatan inmpor udang Indonesia dalam audiensi dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) pada 12 Agustus 2026 [SuaraSulsel.id/SCI]

SCI Temukan 120 Ton Udang dari Ekuador

SCI membawa data impor udang yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS). Data tersebut menunjukkan adanya impor udang pada Mei dan Juni 2026.

Sebanyak 99 ton udang dari Argentina tercatat masuk melalui Pelabuhan Batu Ampar, Kepulauan Riau.

Sementara 120 ton udang dari Ekuador masuk melalui Pelabuhan Tanjung Perak, Jawa Timur.

Baca Juga: Bukan Cuma Enak, Ini Alasan Udang Sulsel Jadi Favorit Orang Jepang

Produk tersebut tercatat menggunakan HS Code 03061729 untuk whiteleg shrimps atau Litopenaeus vannamei dalam kondisi beku.

SCI kemudian menelusuri data tersebut dan memperoleh informasi bahwa udang dari Argentina merupakan udang pink, sedangkan produk dari Ekuador merupakan udang vaname.

Bagi SCI, impor vaname menjadi persoalan karena Indonesia juga merupakan produsen udang vaname.

Masuknya produk sejenis dari luar negeri dinilai berpotensi mengganggu pasar domestik.

“Kalau Indonesia memproduksi komoditas yang sama, kenapa harus memasukkan dari luar? Ini bukan hanya persoalan perdagangan, tetapi menyangkut petambak dan industri nasional,” ujar Prof Andi.

SCI Khawatir Penyakit Baru Masuk

Load More