- Puang Macora merupakan maestro sekaligus penari terakhir Pajoge Angkong, kesenian tradisional yang berasal dari Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan.
- Tari Pajoge Angkong yang sempat populer di lingkungan Kerajaan Bone kini berada di ambang kepunahan akibat berbagai faktor.
- Dinas Pariwisata Sulawesi Selatan mendata kesenian ini sebagai tradisi hampir punah karena minimnya regenerasi penari di kalangan muda.
SuaraSulsel.id - Di usianya yang telah melewati delapan dekade, tubuh Puang Macora masih meliuk mengikuti irama.
Tangan kanannya membuka dan menutup kipas dengan gerak yang tenang, sementara setiap langkahnya menyimpan jejak sejarah panjang sebuah tarian yang nyaris hilang.
Puang Macora bukan sekadar penari. Ia adalah maestro sekaligus salah satu pelaku terakhir Tari Pajoge Angkong di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan.
Di balik setiap pertunjukannya tersimpan kisah tentang kejayaan, perang, pengembaraan, hingga perjuangan mempertahankan warisan budaya yang kini berada di ambang kepunahan.
Pajoge merupakan salah satu kesenian masyarakat Bugis yang sejak dahulu hidup di lingkungan istana maupun masyarakat. Tarian ini lazim dipentaskan dalam pesta perkawinan keluarga bangsawan.
Penarinya berasal dari masyarakat biasa yang dipilih melalui kriteria tertentu, kemudian digembleng oleh seorang indo pajoge, guru yang bertugas melatih para penari.
Dalam perkembangannya, Pajoge terbagi menjadi dua bentuk. Pertama adalah Pajoge Makkunrai yang dibawakan perempuan.
Kedua adalah Pajoge Angkong yang dimainkan oleh kalangan calabai atau waria, kelompok yang dalam tradisi Bugis memiliki kedekatan dengan dunia ritual para bissu.
Menurut tradisi yang diwariskan para pelaku seni, Pajoge Angkong lahir dari gagasan para calabai di Bone.
Baca Juga: Cap Tangan 67.800 Tahun di Pulau Muna Jadi Seni Cadas Tertua di Bumi
Berawal dari kekaguman mereka terhadap pertunjukan Sere Bissu, muncul keinginan untuk menciptakan sebuah tarian baru.
Gerakan-gerakan Sere Bissu kemudian dikembangkan menjadi bentuk tari yang lebih luas atau mallebbang sere.
Gagasan tersebut mendapat sambutan baik dari para bissu. Setelah memperoleh restu, Pajoge Angkong mulai dipentaskan dan berkembang menjadi salah satu hiburan penting dalam lingkungan Kerajaan Bone.
Pada masa kejayaannya, Pajoge Angkong menjadi kesenian yang kerap tampil dalam berbagai hajatan kerajaan.
Salah satu kisah yang masih hidup dalam ingatan para pelaku menyebutkan, Raja Bone ke 32 La Singkeru Rukka pernah mengundang kelompok Pajoge Angkong untuk tampil pada acara akikah putranya.
Konon, keputusan itu diambil karena sang raja berulang kali bermimpi menyaksikan pertunjukan Pajoge Angkong.
Berita Terkait
Terpopuler
- Sosok Arnold Aristoteles, Mantan Jenderal yang Dimarahi Menteri PU Dody Hanggodo
- Apakah Kulkas Harus Dimatikan saat Membersihkan Bunga Es? Begini Cara yang Benar
- 12 Pilihan Mesin Cuci Langsung Kering Tanpa Jemur
- Angka Hoki Shio untuk Menarik Rezeki dan Keberuntungan Finansial
- Timnas Indonesia vs Everbody: Panen Cibiran dari Negara Se-Asia Tenggara
Pilihan
-
Masinis Argo Bromo Anggrek Jadi Tersangka Kecelakaan Kereta di Bekasi
-
Jejak Aparat pada Kematian Pedagang Cermin saat Demo 27 Agustus 2026
-
Hasil Rapat Haji di Istana, Masa Tunggu Jadi 14 Tahun
-
Hasil Investigasi di Lapas Cibinong: Kulkas Berisi Miras hingga Perabotan Mewah Milik Kasi Kamtib
-
Bayi Dua Hari Ditinggalkan dalam Kardus, Tangisnya Bongkar Misteri di Depan Rumah Warga
Terkini
-
Nasabah Mendapatkan Kesempatan Ekstra 27.000 GarudaMiles dari BRI Kartu Kredit Infinite Prioritas
-
Warga Evakuasi Korban dari Kolong Truk di Makassar: Balita Tewas, Tiga Luka-Luka
-
Pemuda Tewas Tertembak Saat Tawuran di Makassar, 11 Polisi Diperiksa Propam
-
Petani Bulukumba Optimistis Bisa Panen Padi 3 Kali Setahun
-
Mobil Hilang Kendali dan Terguling, 3 Anggota Damkar Pangkep Gugur