- Forum Pecinta Alam Gorontalo melaporkan maraknya aktivitas tambang emas ilegal di Kabupaten Pohuwato, Bone Bolango, Boalemo, dan Gorontalo.
- Aktivitas tambang liar tersebut telah menyebabkan kerusakan ekologis parah, penggundulan hutan, serta pencemaran sungai di berbagai wilayah terdampak.
- Praktik penambangan ilegal ini menciptakan ketimpangan akses ekonomi bagi warga lokal serta memicu tekanan sosial terhadap masyarakat sekitar.
SuaraSulsel.id - Aktivitas Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) atau tambang emas ilegal di Provinsi Gorontalo disebut telah tersebar secara masif di empat wilayah kabupaten utama, yakni Pohuwato, Bone Bolango, Boalemo, dan kawasan Boliyohuto di Kabupaten Gorontalo.
Temuan tersebut mengemuka dalam diskusi publik bertajuk “Gorontalo dalam Kepungan Tambang Emas Ilegal” yang digagas Forum Pecinta Alam
Gorontalo (FPAG) pada Rabu malam (17/6/2026).
Forum ini menghadirkan akademisi, aktivis lingkungan, dan jurnalis untuk membedah dampak tambang ilegal dari berbagai perspektif, mulai dari kerusakan ekologis, tata ruang, hingga ketimpangan akses ekonomi.
Dalam pemaparan data di forum tersebut, aktivitas PETI di Gorontalo dijelaskan tidak hanya terkonsentrasi di satu titik, melainkan tersebar luas di berbagai kecamatan dan desa dengan karakter kerusakan yang berbeda-beda di tiap wilayah.
Di Kabupaten Pohuwato, wilayah ini disebut sebagai salah satu pusat aktivitas tambang ilegal terbesar dengan penggunaan alat berat seperti eskavator yang bahkan telah merambah kawasan sensitif.
Aktivitas tersebut tersebar di Kecamatan Popayato yang menyebabkan sedimentasi lumpur parah di sepanjang aliran Sungai Popayato, kemudian di Taluditi yang kini mengalami penggundulan kawasan hutan perbukitan.
Selain itu, aktivitas juga terpantau di Buntulia, Marisa, hingga Dengilo yang bahkan disebut telah mengepung area permukiman dan perkebunan warga. Di Kecamatan Marisa, salah satu titik yang disorot berada di Desa Teratai, sementara di Kecamatan Buntulia aktivitas juga terjadi di Desa Taluduyunu.
Sementara itu di Kabupaten Bone Bolango, aktivitas tambang emas ilegal didominasi pertambangan rakyat berbasis lubang galian tradisional atau kamp penambang yang berada di kawasan perbukitan.
Titik paling dominan berada di Kecamatan Suwawa Timur, khususnya kawasan pedalaman Desa Tulabolo dan sekitarnya, yang dikenal sebagai area titik bor dan kamp penambang rakyat di wilayah perbukitan yang rawan longsor.
Baca Juga: Gorontalo Terancam Penuaan Penduduk? Bappenas Soroti Fenomena Tak Lazim
Di Kabupaten Boalemo, aktivitas tambang ilegal mulai berkembang dengan pola penggunaan alat berat di kawasan perbukitan dan aliran sungai. Aktivitas tersebut terdeteksi di Kecamatan Dulupi, tepatnya Dusun Sambati Desa Dulupi, serta di Kecamatan Paguyaman yang berada di Desa Saripi.
Adapun di Kabupaten Gorontalo, aktivitas penambangan liar juga dilaporkan telah menyasar kawasan hutan lindung di wilayah Boliyohuto. Titik operasionalnya berada di Kecamatan Mootilango, tepatnya di area hutan Boliyohuto, Dusun Pasir Putih, Desa Pilomonu.
Perwakilan Japesda, Renal Husa, menyoroti langsung dampak aktivitas PETI terhadap lingkungan, terutama kondisi sungai di wilayah Kabupaten Pohuwato.
Ia menjelaskan bahwa air Sungai Desa Teratai kini mengalami kekeruhan akibat aktivitas pertambangan emas ilegal yang berlangsung di sekitarnya.
“Air Sungai Desa Teratai keruh gara-gara aktivitas PETI di wilayah itu. Biasanya ketika ada lahan yang ada kandungan emasnya, akan jadi sasaran penambang lokal yang sebetulnya sudah menggunakan ekskavator,” ujar Renal.
Menurutnya, pola tambang emas ilegal di lapangan bergerak mengikuti kandungan emas tanpa mempertimbangkan daya dukung lingkungan. Ketika kandungan emas habis, lahan ditinggalkan dalam kondisi rusak dan tidak lagi produktif.
“Nah masalahnya timbul jika tanahnya sudah tidak mengandung emas, dan sudah tidak bisa dikelola lagi, lalu apa yang mau diwariskan ke anak cucu nanti. Apakah harus dihabiskan di generasi kita? Bagaimana dengan generasi mendatang, apakah kita tidak akan sisakan apa-apa. Bisa jadi generasi mendatang akan mewarisi kemiskinan,” kata dia.
Berita Terkait
Terpopuler
- Aliansi BEM Bersatu: Mobil Fortuner Tiyo Ardianto Tercatat Milik Adik Letjen Purn Setyo Sularso
- Milk Cleanser Viva untuk Umur Berapa? Ini Penjelasan dan 5 Pilihan Variannya
- 6 Sepatu Adidas Samba Lagi Diskon 50 Persen di Website Resmi, Kesempatan Langka Separuh Harga
- 4 Cushion Terbaik untuk Usia 40 Tahun ke Atas, Anti Crack Samarkan Garis Halus Seharian
- Struktur Kuno Muncul Kembali di Sendang Kamulyan Trenggalek
Pilihan
-
Ketegangan Memuncak di Hotel Sultan: Eksekusi Lahan Jadi Arena Perlawanan
-
'Sempurna Hanya Milik Allah!' Massa Gelar Aksi Damai Minta MBG Lanjut dan Sikat Koruptornya!
-
Link Live Streaming Portugal vs Kongo: Panggung Sesungguhnya CR7?
-
Demo Pakai Daster ke Istana, Aliansi Perempuan Tuntut Prabowo Turunkan Harga BBM dan Setop MBG
-
BREAKING NEWS: Kantor Dinas Pendidikan Sulsel Digeledah Kejati
Terkini
-
Jeratan Rentenir di Tengah Krisis Iklim: Nasib Perempuan, Lansia, dan Disabilitas
-
Viral Dentuman Musik Saat Disdik Sulsel Digeledah, Kepsek SMAN 25 Makassar Minta Maaf
-
Tambang Ilegal 'Gila-gilaan' di Sulsel: 70 Persen Galian C Diduga Tak Berizin
-
Kejati Sulsel Geledah Dinas Pendidikan, Kadisdik: Kami Kooperatif!
-
Bencana Bagi Warga, Siapa Pemain Utama di Balik Gurita Tambang Emas Ilegal Gorontalo?