- Penjualan hewan kurban di Makassar menurun 30 persen setelah Idul Adha 1447 Hijriah akibat rendahnya daya beli masyarakat.
- Kenaikan biaya operasional dan pengiriman hewan menyebabkan harga jual meningkat sehingga konsumen memilih melakukan patungan saat berkurban.
- Pertumbuhan ekonomi Sulawesi Selatan yang impresif belum dirasakan masyarakat menengah karena tertekan kenaikan biaya hidup yang cukup berat.
Kenaikan biaya itu membuat harga hewan kurban ikut terkerek.
Menurut Daeng Mile, harga sapi tahun ini naik antara Rp500 ribu hingga Rp2 juta per ekor, tergantung bobot, jenis, dan kualitas pemeliharaannya.
Meski demikian, kenaikan harga tidak sepenuhnya mampu menutup bertambahnya biaya usaha.
"Kalau sapi yang dipelihara peternak lokal biasanya lebih mahal karena perawatannya lebih maksimal," katanya.
Namun harga yang lebih tinggi justru membuat sebagian konsumen semakin berhitung.
Fenomena itu dirasakan Ahmad Supri, seorang warga Makassar yang selama bertahun-tahun rutin berkurban seekor sapi bersama keluarganya di masjid dekat rumah.
Tahun ini, tradisi tersebut terpaksa berubah.
Ia memilih patungan dengan saudara-saudaranya untuk membeli hewan kurban.
"Dulu gaji dan tunjangan saya satu bulan bisa beli satu ekor sapi. Sekarang menurun drastis dampak efisiensi," ujarnya.
Ahmad mengaku tidak hanya mengandalkan penghasilan sebagai aparatur sipil negara. Ia juga pernah membuka usaha kafe bersama beberapa koleganya.
Namun usaha tersebut akhirnya tutup akibat lesunya bisnis.
Kondisi itu memaksanya mengencangkan ikat pinggang dan menunda berbagai pengeluaran yang dianggap tidak mendesak.
Baca Juga: Sinyal Positif Ekonomi Indonesia: Arus Peti Kemas di Pelabuhan Melonjak 7 Persen
"Keadaan sangat susah. Kebutuhan hidup tidak sebanding lagi dengan pendapatan. Saya yang (PNS) eselon III saja mengeluh," katanya.
Menurut Ahmad, tekanan ekonomi yang dirasakan saat ini bahkan terasa lebih berat dibanding masa pandemi Covid-19.
Kala itu aktivitas masyarakat memang terbatas, tetapi daya beli masih terbantu oleh berbagai program dukungan pemerintah.
Saat ini, ia menilai masyarakat menghadapi kenaikan biaya hidup di banyak sektor secara bersamaan.
Keluhan yang dirasakan Daeng Mile dan Ahmad mencerminkan paradoks yang tengah terjadi di Sulawesi Selatan.
Di atas kertas, ekonomi daerah menunjukkan kinerja yang cukup impresif.
Berita Terkait
Terpopuler
- 3 HP Android dengan Kualitas Kamera Selevel iPhone 17 Pro Max, Cocok untuk Bikin Konten
- 3 Sepatu New Balance Tanpa Tali, Bantalan Nyaman untuk Jalan Kaki Jauh
- Gugurkan Klaim Santriwati 'Hamil Tanpa Hubungan Badan', Polisi Tangkap Kiai di Pekalongan
- Persija Sudah Temukan Pengganti Mauricio Souza, Target Juara Super League Musim Depan
- 5 Sepatu Adidas Tanpa Tali yang Serbaguna, Anti Pegal Dipakai Jalan Seharian
Pilihan
-
Kesehatan Donald Trump Bermasalah? Gedung Putih Dituding Tutupi Hasil Medical Check-up
-
Kebakaran RSUD Syekh Yusuf Gowa, Begini Kondisi Terkini Pasien
-
Israel Bombardir Lebanon, 74 Warga Jadi Korban Satu Keluarga Tewas Saat Kabur
-
AS-Iran Kembali Sepakati Gencatan Senjata, Harga Minyak Stabil di USD 90
-
Skandal! Jaksa AS Selidiki FIFA, Penjualan Tiket Piala Dunia 2026 Diduga Bermasalah
Terkini
-
Gubernur Sulsel Terima Penghargaan Provinsi Terbaik 1 Creative Financing
-
Hati-hati Jempolmu! 109 Warga Sultra Terjerat Kasus Pencemaran Nama Baik di Medsos
-
Makassar Half Marathon 2026 Pakai Dana APBD 2,5 Miliar
-
Sapi Tak Laku, Ekonomi Lesu: Mengapa Idul Adha Tahun Ini Terasa Lebih Berat dari Pandemi?
-
Payroll Perusahaan Jadi Lebih Efisien dengan Solusi Digital QLola by BRI