Muhammad Yunus
Sabtu, 30 Mei 2026 | 11:45 WIB
Deretan sapi kurban masih terlihat di lapak pedagang di perbatasan Makassar-Gowa. Sejumlah pedagang mengeluhkan penjualan yang lesu pada musim Idul Adha tahun 2026 akibat tekanan ekonomi dan menurunnya daya beli masyarakat [SuaraSulsel.id/Lorensia Clara]
Baca 10 detik
  • Penjualan hewan kurban di Makassar menurun 30 persen setelah Idul Adha 1447 Hijriah akibat rendahnya daya beli masyarakat.
  • Kenaikan biaya operasional dan pengiriman hewan menyebabkan harga jual meningkat sehingga konsumen memilih melakukan patungan saat berkurban.
  • Pertumbuhan ekonomi Sulawesi Selatan yang impresif belum dirasakan masyarakat menengah karena tertekan kenaikan biaya hidup yang cukup berat.

SuaraSulsel.id - Beberapa hari setelah Idul Adha 1447 Hijriah berlalu, sejumlah sapi masih terlihat berada di lapak milik Daeng Mile (62) di perbatasan Makassar-Gowa.

Hewan-hewan yang biasanya habis terjual menjelang hari raya tahun ini masih menyisakan cerita tentang lesunya daya beli masyarakat.

Pria yang telah 13 tahun berdagang hewan kurban tersebut mengaku penjualannya turun drastis dibanding tahun sebelumnya. Banyak pelanggan datang hanya untuk bertanya harga, lalu pergi tanpa transaksi.

"Iya, (penjualan) turun sekitar 30 persen dibanding tahun lalu," kata Daeng Mile, Jumat, 29 Mei 2026.

Penurunan itu terasa janggal baginya. Sebab, Idul Adha selama ini menjadi momentum panen bagi para pedagang hewan ternak.

Permintaan sapi dan kambing biasanya meningkat tajam beberapa pekan sebelum hari raya. Namun tahun ini berbeda.

Pelanggan-pelanggan lama yang biasanya datang membeli hewan kurban dalam jumlah besar mulai mengurangi pembelian.

Sebagian bahkan memilih tidak berkurban sendiri dan bergabung dengan keluarga atau kerabat untuk berbagi biaya.

Mayoritas pelanggan Daeng Mile selama ini berasal dari kalangan pegawai negeri sipil (PNS) dan pengusaha. Kelompok yang selama bertahun-tahun menjadi pasar utama hewan kurban.

Baca Juga: Sinyal Positif Ekonomi Indonesia: Arus Peti Kemas di Pelabuhan Melonjak 7 Persen

Kini, kata dia, banyak dari mereka mengeluhkan kondisi ekonomi yang tidak lagi sebaik tahun-tahun sebelumnya.

"Ada teman pengusaha yang tetap berkurban. Dulu biasa pesan sampai 10 ekor, sekarang cuma dua ekor," ujarnya.

Ironisnya, lesunya penjualan terjadi di saat biaya operasional justru meningkat.

Sebagian sapi yang dijual Daeng Mile didatangkan dari Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Nusa Tenggara Timur (NTT). Sementara kambing dipasok dari Kabupaten Jeneponto.

Biaya pengiriman hewan terus mengalami kenaikan. Ongkos kapal motor untuk mengangkut sapi dari NTB misalnya, naik dari Rp300 ribu menjadi Rp360 ribu per ekor.

Belum lagi biaya administrasi, kesehatan hewan, transportasi darat, hingga perawatan selama masa penjualan.

Load More