- Penjualan hewan kurban di Makassar menurun 30 persen setelah Idul Adha 1447 Hijriah akibat rendahnya daya beli masyarakat.
- Kenaikan biaya operasional dan pengiriman hewan menyebabkan harga jual meningkat sehingga konsumen memilih melakukan patungan saat berkurban.
- Pertumbuhan ekonomi Sulawesi Selatan yang impresif belum dirasakan masyarakat menengah karena tertekan kenaikan biaya hidup yang cukup berat.
SuaraSulsel.id - Beberapa hari setelah Idul Adha 1447 Hijriah berlalu, sejumlah sapi masih terlihat berada di lapak milik Daeng Mile (62) di perbatasan Makassar-Gowa.
Hewan-hewan yang biasanya habis terjual menjelang hari raya tahun ini masih menyisakan cerita tentang lesunya daya beli masyarakat.
Pria yang telah 13 tahun berdagang hewan kurban tersebut mengaku penjualannya turun drastis dibanding tahun sebelumnya. Banyak pelanggan datang hanya untuk bertanya harga, lalu pergi tanpa transaksi.
"Iya, (penjualan) turun sekitar 30 persen dibanding tahun lalu," kata Daeng Mile, Jumat, 29 Mei 2026.
Penurunan itu terasa janggal baginya. Sebab, Idul Adha selama ini menjadi momentum panen bagi para pedagang hewan ternak.
Permintaan sapi dan kambing biasanya meningkat tajam beberapa pekan sebelum hari raya. Namun tahun ini berbeda.
Pelanggan-pelanggan lama yang biasanya datang membeli hewan kurban dalam jumlah besar mulai mengurangi pembelian.
Sebagian bahkan memilih tidak berkurban sendiri dan bergabung dengan keluarga atau kerabat untuk berbagi biaya.
Mayoritas pelanggan Daeng Mile selama ini berasal dari kalangan pegawai negeri sipil (PNS) dan pengusaha. Kelompok yang selama bertahun-tahun menjadi pasar utama hewan kurban.
Baca Juga: Sinyal Positif Ekonomi Indonesia: Arus Peti Kemas di Pelabuhan Melonjak 7 Persen
Kini, kata dia, banyak dari mereka mengeluhkan kondisi ekonomi yang tidak lagi sebaik tahun-tahun sebelumnya.
"Ada teman pengusaha yang tetap berkurban. Dulu biasa pesan sampai 10 ekor, sekarang cuma dua ekor," ujarnya.
Ironisnya, lesunya penjualan terjadi di saat biaya operasional justru meningkat.
Sebagian sapi yang dijual Daeng Mile didatangkan dari Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Nusa Tenggara Timur (NTT). Sementara kambing dipasok dari Kabupaten Jeneponto.
Biaya pengiriman hewan terus mengalami kenaikan. Ongkos kapal motor untuk mengangkut sapi dari NTB misalnya, naik dari Rp300 ribu menjadi Rp360 ribu per ekor.
Belum lagi biaya administrasi, kesehatan hewan, transportasi darat, hingga perawatan selama masa penjualan.
Berita Terkait
Terpopuler
- 3 HP Android dengan Kualitas Kamera Selevel iPhone 17 Pro Max, Cocok untuk Bikin Konten
- 3 Sepatu New Balance Tanpa Tali, Bantalan Nyaman untuk Jalan Kaki Jauh
- Gugurkan Klaim Santriwati 'Hamil Tanpa Hubungan Badan', Polisi Tangkap Kiai di Pekalongan
- Persija Sudah Temukan Pengganti Mauricio Souza, Target Juara Super League Musim Depan
- 5 Sepatu Adidas Tanpa Tali yang Serbaguna, Anti Pegal Dipakai Jalan Seharian
Pilihan
-
Kesehatan Donald Trump Bermasalah? Gedung Putih Dituding Tutupi Hasil Medical Check-up
-
Kebakaran RSUD Syekh Yusuf Gowa, Begini Kondisi Terkini Pasien
-
Israel Bombardir Lebanon, 74 Warga Jadi Korban Satu Keluarga Tewas Saat Kabur
-
AS-Iran Kembali Sepakati Gencatan Senjata, Harga Minyak Stabil di USD 90
-
Skandal! Jaksa AS Selidiki FIFA, Penjualan Tiket Piala Dunia 2026 Diduga Bermasalah
Terkini
-
Sapi Tak Laku, Ekonomi Lesu: Mengapa Idul Adha Tahun Ini Terasa Lebih Berat dari Pandemi?
-
Payroll Perusahaan Jadi Lebih Efisien dengan Solusi Digital QLola by BRI
-
Panduan Lengkap Fase Registrasi Domain .ai.id untuk Publik Indonesia
-
Kebakaran RSUD Syekh Yusuf Gowa, Begini Kondisi Terkini Pasien
-
Lulusan SD Dominasi 16 Ribu Jemaah Haji Embarkasi Makassar