Muhammad Yunus
Selasa, 28 April 2026 | 15:52 WIB
Groundbreaking proyek pengembangan kawasan Mal Ratu Indah (MaRI) resmi dimulai, Selasa, 28 April 2026 [SuaraSulsel.id/Istimewa]
Baca 10 detik
  • Kalla resmi memulai proyek pengembangan kawasan terpadu Mal Ratu Indah di Makassar pada Selasa, 28 April 2026.
  • Proyek ini mengubah lahan bekas Hotel Sahid menjadi apartemen sepuluh lantai serta memperluas kapasitas pusat perbelanjaan modern.
  • Pembangunan yang ditargetkan selesai tahun 2028 ini bertujuan meningkatkan ekonomi lokal serta memenuhi kebutuhan hunian masyarakat urban.

SuaraSulsel.id - Di lahan yang dulu ditempati Hotel Sahid, langkah baru bisnis Kalla mulai terlihat.

Proyek pengembangan kawasan Mal Ratu Indah (MaRI) resmi dimulai lewat seremoni peletakan batu pertama Selasa, 28 April 2026.

Bagi publik, ini mungkin sekadar pembangunan properti. Namun bagi Kalla, ini adalah cara membaca ulang arah bisnis di tengah perubahan kota.

Kawasan MaRI yang selama ini dikenal sebagai pusat belanja, perlahan didorong menjadi kawasan terpadu. Tidak hanya ritel, tetapi juga hunian dan ruang aktivitas baru.

Bekas hotel yang sudah lama tidak beroperasi itu kini disiapkan menjadi apartemen, berdampingan dengan ekspansi pusat perbelanjaan.

Chief Executive Officer KALLA, Solihin Jusuf Kalla menyebut pengembangan ini sebagai bagian dari strategi menjaga keberlanjutan bisnis properti mereka. MaRI, menurutnya, tidak bisa lagi hanya mengandalkan fungsi lama sebagai mal.

"Pengembangan ini merupakan langkah yang luar biasa bagi kami, sekaligus menjadi kelanjutan dari Mal Ratu Indah yang kini telah beranjak sangat dewasa," ujarnya.

Pilihan untuk mengubah eks hotel menjadi apartemen bukan tanpa alasan.

Di tengah pertumbuhan Makassar, kebutuhan hunian di kawasan pusat kota terus meningkat, seiring masuknya tenaga kerja dari berbagai daerah.

Baca Juga: Tak Terima Jusuf Kalla Dilaporkan, Sejumlah Organisasi Minta Laporan Dicabut: Itu Salah Paham!

Kalla melihat celah itu bahwa ruang tinggal yang terhubung langsung dengan pusat aktivitas akan semakin dicari.

Rencana pengembangannya disusun bertahap. Tahap awal difokuskan pada penataan ulang area parkir, termasuk perluasan kapasitas untuk menopang aktivitas kawasan.

Setelah itu, pengembangan bergerak ke perluasan area mal dengan konsep yang lebih modern, mengikuti tren ritel dan gaya hidup yang terus berubah.

Di atasnya, akan berdiri apartemen setinggi 10 lantai dengan sekitar 230 unit.

Hunian ini ditopang sembilan lantai parkir khusus penghuni. Sementara di bagian atas parkir, disiapkan ballroom yang bisa digunakan untuk berbagai kegiatan.

Seluruh fungsi itu disatukan dalam satu desain kawasan yang saling terhubung.

Model seperti ini menunjukkan arah bisnis properti Kalla yang mulai bergeser. Tidak lagi berdiri sendiri-sendiri untuk mal, kantor, atau hotel, melainkan dikembangkan dalam satu ekosistem.

Dengan begitu, satu kawasan bisa menghasilkan berbagai sumber aktivitas sekaligus.

Sementara, Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin melihat proyek ini sebagai bagian dari pertumbuhan kota yang tidak terpisahkan dari peran swasta.

Ia menilai pengembangan MaRI akan memberi dampak langsung, terutama dalam membuka lapangan kerja dan mendukung kebutuhan masyarakat urban.

"Makassar semakin berkembang, dan kebutuhan ruang hidup juga ikut berubah," kata Appi, sapaannya.

Appi juga melihat proyek ini sebagai bagian dari transformasi wajah kota yang mulai bergerak ke arah kawasan terpadu. Menurutnya, kehadiran hunian di pusat aktivitas seperti MaRI akan memudahkan mobilitas masyarakat.

Ia menambahkan, pemerintah kota terbuka terhadap investasi yang mampu memberi efek berantai bagi ekonomi lokal.

"Yang kita harapkan bukan hanya bangunannya, tetapi juga dampaknya. Mulai dari penyerapan tenaga kerja, perputaran ekonomi, sampai bagaimana kawasan ini bisa hidup dan memberi manfaat bagi masyarakat," ujarnya.

Sekitar dua tahun, Kalla menyiapkan proyek ini. Mulai dari perencanaan desain, kajian teknis, hingga pembongkaran bangunan lama.

Artinya, keputusan ini bukan langkah spontan, melainkan bagian dari rencana bisnis jangka panjang.

Di saat yang sama, MaRI juga terus berbenah dari sisi standar bangunan. Sertifikat Laik Fungsi (SLF) telah dikantongi sebagai jaminan kelayakan operasional.

Selain itu, sertifikasi bangunan hijau dengan peringkat Gold juga berhasil diraih, menandai komitmen pada efisiensi energi dan keberlanjutan.

Standar tersebut menjadi bagian dari cara mereka menjaga nilai aset dalam jangka panjang, di tengah tuntutan industri properti yang semakin kompetitif.

Proyek pengembangan ini ditargetkan rampung pada 2028.

Ketika selesai, kawasan MaRI tidak lagi hanya dikenal sebagai tempat berbelanja, tetapi juga sebagai ruang yang akan menyatu dengan aktivitas kota.

Kontributor : Lorensia Clara Tambing

Load More