- Wahyudi, lulusan SMA di Makassar, bekerja sebagai penjual es kopi keliling untuk membantu ekonomi keluarganya sejak Juni 2026.
- Ia memilih menunda kuliah demi membantu ayahnya membiayai kebutuhan sehari-hari serta biaya sekolah ketiga adik kandungnya.
- Wahyudi menabung sebagian penghasilannya untuk mewujudkan impian mendaftar di perguruan tinggi negeri pada tahun depan secara mandiri.
SuaraSulsel.id - Pagi belum terlalu siang ketika Wahyudi mendorong sepeda listriknya ke tepi Jalan Perintis Kemerdekaan Makassar.
Di bagian belakang kendaraan itu, sebuah kotak berisi puluhan gelas es kopi siap dijual.
Sesekali ia menyapa pengendara yang berhenti di lampu merah. Terkadang ada yang membeli. Terkadang tidak.
Bagi sebagian orang, pemandangan itu mungkin biasa saja. Namun tak banyak yang tahu, remaja 17 tahun itu sebenarnya baru saja lulus dari salah satu SMA unggulan di Kota Makassar.
Saat teman-teman seangkatannya sibuk mempersiapkan diri menjadi mahasiswa baru, Wahyudi justru memilih bekerja.
Bukan karena tidak ingin kuliah. Tetapi karena keadaan memaksanya menunda mimpi itu.
"Mau sekali ji kuliah, cuma tidak memungkinkan karena kondisi ekonomi," kata Wahyudi saat ditemui di sela-sela berjualan, Jumat, 12 Juni 2026.
Ibunya meninggal dunia ketika ia masih duduk di bangku SMP. Sejak saat itu, ayahnya menjadi tulang punggung keluarga seorang diri.
Pekerjaan sang ayah sebagai buruh bangunan membuat penghasilan keluarga tidak menentu. Sementara di rumah masih ada tiga adik yang membutuhkan biaya sekolah dan kebutuhan sehari-hari.
Baca Juga: 30 Tahun Kuasai Trotoar, Warung Legendaris Pallubasa Serigala Akhirnya Dibongkar Paksa
Kondisi itu membuat Wahyudi mengambil keputusan yang tidak mudah setelah lulus SMA. Ia memilih gap year.
Bukan untuk beristirahat atau mencari pengalaman hidup seperti tren yang banyak dilakukan anak muda di negara lain. Gap year yang dijalani Wahyudi adalah bekerja untuk membantu keluarganya bertahan.
Selama dua bulan terakhir, rutinitasnya nyaris tak berubah.
Pukul 09.00 Wita ia meninggalkan rumah menuju tempat majikannya. Di sana telah tersedia sepeda listrik dan es kopi yang akan dijual sepanjang hari.
Kemudian ia berkeliling di sejumlah ruas jalan utama Kota Makassar hingga sore menjelang malam.
Baru sekitar pukul 18.00 Wita ia kembali pulang.
Berita Terkait
Terpopuler
- Kajian UGM: Durasi Pidato Prabowo Naik Tiga Kali Lipat, Ucapan Tidak Pantas Tercatat 311 Kali
- 3 Sepatu Puma Tanpa Tali yang Nyaman Buat Jalan, Bergaya hingga Lari
- Urutan Skincare Pagi Viva untuk Anti-Aging Usia 40 Tahun ke Atas, Rawat Kulit Awet Muda
- 5 HP OPPO Terbaru di Indonesia, dari Midrange Tangguh hingga Flagship Superior
- Buntut Panjang RI Pangkas Ekspor Gas, Bahlil Kini Ketakutan Impor Pertalite Distop Singapura
Pilihan
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
-
RM Soeharjo Djajengasmoro: Tokoh Penting Pemuda yang Didepak dari Kampus Sendiri karena Ijazah
-
'Partai Mahasiswa' Serbia Guncang Eropa! Kalahkan Rezim Lewat Pemilu
Terkini
-
2 Kasus Kekerasan Seksual Difabel di Sulsel, Polisi Didesak Bertindak
-
Disabilitas di Bawah Umur Hamil 7 Bulan di Maros, Pelaku 7 Kakek-kakek Belum Ditangkap
-
Polisi Hutan Tewas Tertimpa Pohon Saat Padamkan Karhutla Toraja Utara
-
Mobil Listrik Harga Rp100 Jutaan Ada di GIIAS Makassar
-
Gubernur Sulsel: Sekolah Rakyat Buka Jalan Menuju Generasi Emas 2045