Muhammad Yunus
Senin, 27 April 2026 | 15:10 WIB
Santi Sanaya memperlihatkan foto suaminya, Ashari Samadikun (33), kapten kapal Honour 25 yang dibajak perompak Somalia [SuaraSulsel.id/Istimewa]
Baca 10 detik
  • Kapal tanker Honour 25 dibajak perompak di perairan Somalia pada April 2026 saat mengangkut komoditas minyak.
  • Kapten kapal asal Indonesia, Ashari Samadikun, bersama awak lainnya kini masih berada di bawah kendali perompak.
  • Kemlu RI melalui KBRI Nairobi sedang melakukan koordinasi intensif dengan otoritas setempat demi keselamatan seluruh awak.

SuaraSulsel.id - Kapal tanker Honour 25 dilaporkan dibajak oleh perompak saat melintas di perairan Somalia, salah satu wilayah yang selama ini dikenal rawan aksi kejahatan laut.

Kapal tersebut dinakhodai oleh kapten asal Indonesia, Ashari Samadikun (33) yang hingga kini masih berada di bawah kendali para pelaku bersama seluruh awak kapal.

Kabar pembajakan ini pertama kali diterima keluarga melalui pesan suara yang dikirim langsung oleh Ashari kepada istrinya, Santi Sanaya (26).

Pesan itu dikirimkan pada Selasa malam, 21 April 2026, sekitar pukul 19.30 Wita.

Dalam pesan singkat itu, Ashari memberi tahu bahwa kapal yang dipimpinnya tengah diserang perompak.

"Suami saya kirim voice note bilang kalau kapalnya diserang bajak laut. Di saat itu juga saya langsung coba hubungi kembali, HP-nya masih aktif tapi sudah tidak dibalas," ungkap Santi di Makassar pada Minggu, 26 April 2026.

Beberapa jam setelah pesan tersebut, komunikasi antara keduanya terputus total.

Santi mengaku tidak lagi dapat menghubungi suaminya. Hingga akhirnya kembali terhubung melalui panggilan video pada Jumat malam 24 April 2026 menggunakan fasilitas komunikasi yang tersedia di kapal.

Dalam percakapan tersebut, Santi menyaksikan langsung kondisi suaminya yang berada di bawah pengawasan ketat para perompak.

Baca Juga: Nelayan Indonesia Berpeluang Kerja di Luar Negeri, Ini Negara Tujuannya!

Meski tidak dalam kondisi disekap secara fisik, Ashari terlihat dikelilingi oleh pelaku yang membawa senjata.

"Tidak seperti disekap, tapi memang dikelilingi perompak. Senjata juga ada di sekitar mereka. Alhamdulillah kondisi suami saya sehat," jelasnya.

Ia menambahkan hingga saat ini para awak kapal masih diperlakukan dengan cukup baik. Namun demikian, situasi di lapangan sangat dinamis dan dapat berubah sewaktu-waktu, terutama jika para pelaku merasa terancam.

"Situasinya bisa berubah-ubah. Kalau mereka merasa terancam, itu bisa mempengaruhi keselamatan kru," tambah Santi.

Dari komunikasi terakhir itu pula diketahui para perompak meminta tebusan uang sebagai syarat pembebasan kapal dan seluruh awaknya.

Selain tekanan situasi, para awak kapal juga disebut menghadapi tekanan psikologis akibat ketidakpastian yang mereka alami.

Kapal tanker Honour 25 diketahui tengah berlayar menuju Somalia dan mengangkut komoditas minyak.

Kapal tersebut berangkat dari Oman sejak awal tahun ini sebelum akhirnya dibajak di perairan sekitar Hafun, Somalia.

Santi berharap pemerintah dan pihak perusahaan dapat segera mengambil langkah konkret untuk mengakhiri situasi yang menimpa suaminya dan para awak kapal lainnya.

"Saya berharap pemerintah dan perusahaan bisa segera menyelesaikan masalah ini dan semua kru bisa pulang dengan selamat tanpa kurang satu apa pun," harapnya.

Di tengah upaya diplomasi yang masih berlangsung, keluarga para korban di Tanah Air berharap adanya langkah cepat dari pemerintah untuk menyelamatkan seluruh awak kapal.

Permintaan tersebut juga disampaikan kepada Presiden RI agar memberikan perhatian serius terhadap kasus ini.

Sitti Aminah, ibu kandung Kapten Ashari Samadikun menyebut kapal yang dinakhodai anaknya telah lama berlayar dan membawa muatan minyak sejak keberangkatan dari Oman.

Ia berharap anaknya dan seluruh kru dapat segera dibebaskan dan kembali dengan selamat.

"Kami berharap bantuan dari Presiden RI, Bapak Prabowo Subianto untuk memulangkan anak kami ke Tanah Air," harapnya.

Menanggapi insiden ini, Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI memastikan telah melakukan langkah-langkah penanganan secara intensif.

Direktur Perlindungan Warga Negara Indonesia (PWNI) Kemlu RI, Heni Hamidah, mengatakan pihaknya telah menindaklanjuti laporan pembajakan yang terjadi pada Rabu, 22 April 2026.

"KBRI Nairobi terus melakukan koordinasi intensif dengan seluruh pihak terkait di Somalia," kata Heni, Senin, 27 April 2026.

Ia menjelaskan, upaya yang dilakukan saat ini melibatkan berbagai pihak, mulai dari otoritas pemerintah setempat, tokoh masyarakat, hingga pelaku usaha terkait.

Koordinasi dilakukan secara terukur untuk memastikan penanganan berjalan optimal dengan tetap mengedepankan keselamatan seluruh awak kapal, khususnya warga negara Indonesia.

"KBRI Nairobi akan terus memantau perkembangan situasi secara saksama melalui koordinasi intensif dengan seluruh pihak terkait," ujarnya.

Berdasarkan data sementara, terdapat empat warga negara Indonesia (WNI) di dalam kapal tersebut, bersama 10 warga negara Pakistan, satu warga negara India, dan satu warga negara Myanmar.

Diketahui, dari empat WNI yang berada di kapal tersebut, dua di antaranya berasal dari Sulawesi Selatan, sementara dua lainnya berasal dari Jawa Barat dan Jawa Tengah. Hingga kini, upaya pembebasan masih terus dilakukan, dengan keselamatan seluruh awak kapal menjadi prioritas utama.

Kontributor : Lorensia Clara Tambing

Load More