- Nanda Aprianty Arief akan mengenakan kostum The Queen of Kalong pada ajang Puteri Indonesia 2026 di Jakarta.
- Desainer Ario Burnama dan Al Dursan merancang kostum tersebut dalam waktu singkat selama dua minggu proses pengerjaan.
- Busana ini terinspirasi dari legenda Ratu Kalong asal Soppeng sebagai simbol perlindungan serta harmoni manusia dan alam.
SuaraSulsel.id - Nanda Aprianty Arief akan melangkah ke panggung Puteri Indonesia 2026 sebagai wakil Sulawesi Selatan. Ia mengenakan kostum yang tak hanya memikat mata, tetapi juga menyimpan cerita panjang di balik setiap detailnya.
Pada sesi Traditional Costume Show, ia akan tampil membawa --The Queen of Kalong from South Sulawesi-- sebuah karya yang lahir dari waktu yang singkat, tetapi sarat makna.
Dua pekan bukan waktu yang panjang untuk melahirkan sebuah karya yang bukan sekadar indah dipandang, tetapi juga memikul cerita, identitas, dan kebanggaan sebuah daerah.
Namun, dalam rentang waktu yang terbilang singkat itu, sepasang tangan kreatif berhasil merangkai sesuatu yang memukau. Sebuah kostum yang akan melangkah di panggung nasional, membawa kisah dari utara Sulawesi Selatan ke sorotan publik.
Karya itu diberi judul The Queen of Kalong from South Sulawesi. Ia bukan sekadar busana.
Ini adalah hasil pertemuan antara imajinasi, sejarah lisan, dan ketelitian kerja yang nyaris tak memberi ruang jeda.
Di balik kostum tersebut, ada Ario Burnama, desainer asal Luwu yang sehari-hari mengajar seni budaya, dan rekannya Al Dursan. Bersama, mereka memulai proses kreatif yang berpacu dengan waktu.
Dua minggu yang padat, intens, dan penuh keputusan cepat.
"Waktunya sangat singkat, tapi kami ingin hasilnya tetap punya ruh," kata Ario, Selasa, 21 April 2026.
Baca Juga: Kisah Pilu Nurul Izza yang Tewas Mengenaskan di Soppeng, Diminta Bayar Uang Tebusan
Dari awal, mereka sepakat bahwa kostum ini harus lebih dari sekadar visual yang megah. Ia harus bercerita.
Inspirasi pun mengarah ke satu kisah yang hidup di masyarakat Soppeng tentang Ratu Kalong, sosok legendaris yang diyakini menjaga keseimbangan kota.
Kisah itu kemudian diterjemahkan menjadi bentuk. Tidak mudah.
Dalam waktu dua minggu, setiap detail harus dipikirkan cepat sekaligus matang. Siluet, warna, tekstur, hingga bagaimana kostum itu akan hidup saat dikenakan di atas panggung.
Proses dimulai dari sketsa. Garis-garis awal yang menggambarkan bukan sekadar sayap, tetapi simbol koloni kalong yang menggantung di pepohonan tua.
Dari sana, bentuk mulai berkembang. Potongan kain dipilih, disusun, lalu dirombak lagi jika dirasa belum tepat.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 HP realme dengan Chipset Snapdragon dan RAM 8 GB Termurah Juni 2026
- HP Rp1,5 Jutaan yang Bagus Merek Apa? Ini 5 Rekomendasi Terbaik David GadgetIn
- 5 Kulkas 1 Pintu Anti Bunga Es dan Hemat Listrik, Harga Mulai Rp1 Jutaan
- Tok! Panja DPR Sepakati RUU Polri: Usia Pensiun Bintara 59 Tahun, Perwira 60 Tahun
- Resmi! Chatib Basri Dapat Jabatan Baru Hari Ini
Pilihan
-
Susunan Pemain Timnas Indonesia vs Mozambik di FIFA Matchday Malam Ini
-
Menkes Budi Gunadi Sadikin Susul Chatib Basri dan Luhut ke Istana
-
Bupati Muara Enim Resmi Pakai Rompi Oranye KPK
-
Luhut Bawa Chatib Basri ke Istana, Ini Tujuannya
-
Di Mana Menkeu Purbaya saat Chatib Basri Dipanggil Prabowo ke Istana
Terkini
-
Mengintip Potensi Ekowisata Lakkang, Permata Tersembunyi di Tengah Kota Makassar
-
Tim Jibom Masih Temukan 8 Bom Sisa Perang Dunia II di Biak
-
Intip Rahasia TPA Tamangapa Makassar Kelola Limbah Cair Berbahaya
-
BRI Permudah Belanja di China dengan QRIS Cross Border BRImo
-
SMAN 5 Parepare dan SMA Golden Gate Makassar Bakal Berstandar Internasional