Muhammad Yunus
Kamis, 09 April 2026 | 13:38 WIB
Pengusaha muda, Muhammad Hizran Rafii, yang akrab disapa Iccank [SuaraSulsel.id/Muhammad Yunus]
Baca 10 detik
  • Muhammad Hizran Rafii merintis brand fashion lokal bernama Cambridge di Makassar sejak tahun 2012 setelah meninggalkan pekerjaannya.
  • Strategi pemasaran digital melalui marketplace sejak tahun 2023 meningkatkan penjualan Cambridge hingga ratusan produk per hari secara signifikan.
  • Pemanfaatan teknologi serta efisiensi operasional dari rumah terbukti efektif mengembangkan bisnis Cambridge hingga meraih predikat Star di Shopee.

SuaraSulsel.id - Nama Cambridge sering membuat orang langsung membayangkan sebuah kota di Inggris.

Nuansa Eropa, kesan klasik, dan aura intelektual seolah melekat pada nama itu.

Namun di Makassar, nama tersebut justru menjadi identitas sebuah brand fashion lokal yang terus berkembang.

Di baliknya ada sosok pengusaha muda, Muhammad Hizran Rafii, yang akrab disapa Iccank.

Bagi Iccank, nama Cambridge bukan sekadar merek. Ada filosofi yang ia tanamkan di dalamnya.

“Kota di Inggris,” kata Hizran, Rabu (8/4/2026).

Berani Keluar dari Zona Nyaman

Usaha fashion yang dijalankan Hizran sebenarnya bukan bisnis yang muncul tiba-tiba.

Ia merintisnya sejak tahun 2012 dari rumah.

Baca Juga: Mengapa Harga Plastik Tiba-Tiba Meroket? Simak Dampaknya ke UMKM Kuliner

Saat itu ia melihat peluang besar di dunia fashion anak muda.

Tren pakaian kasual, kaos, hingga hoodie terus berkembang. Melihat potensi itu, Hizran mengambil keputusan besar dalam hidupnya.

Ia memilih meninggalkan pekerjaannya di dunia perbankan dan fokus membangun usaha sendiri.

Langkah itu tentu tidak mudah. Namun keberanian keluar dari zona nyaman menjadi titik awal perjalanan Cambridge.

Dari Offline ke Online

Perjalanan bisnis Cambridge terus berkembang. Pada tahun 2017, Hizran mulai menjalin kerja sama dengan perusahaan konveksi di Bandung, Jawa Barat.

Saat itu penjualan masih dilakukan secara konvensional atau offline.

Produk dijual langsung kepada pelanggan dan pasar masih terbatas.

Perubahan besar baru terjadi pada tahun 2023.

Hizran memutuskan masuk ke pasar digital dengan membuka toko di marketplace, salah satunya melalui Shopee.

Keputusan ini ternyata menjadi titik balik bagi bisnisnya.

Awalnya, penjualan masih dalam angka satu digit per hari. Namun hanya dalam waktu sekitar setahun, penjualan melonjak drastis.

Pada tahun 2024, Cambridge mampu menjual hingga tiga digit produk per hari.

“Pangsa pasarnya besar, iklan ads Shopee bantu penjualan,” ungkap Hizran.

Jika saat berjualan offline produk yang laku sekitar 40 lembar per hari, maka melalui pasar online penjualan Cambridge kini bisa mencapai 180 lembar per hari.

“Lebih memudahkan pelanggan yang ingin belanja sambil rebahan,” katanya sambil tersenyum.

Bisnis dari Rumah, Pasar ke Seluruh Indonesia

Salah satu keuntungan besar dari jualan online adalah kemudahan operasional.

Hizran tidak membutuhkan toko besar. Bahkan sebagian besar aktivitas bisnisnya dikendalikan dari rumah.

Pesanan pelanggan masuk melalui marketplace, sementara proses pengiriman langsung ditangani oleh perusahaan ekspedisi yang menjemput barang.

“Semua proses bisa dikontrol dari laptop kecil di rumah,” jelasnya.

Model bisnis seperti ini membuat usaha bisa tetap efisien, tanpa harus mengeluarkan biaya operasional yang besar.

Desain Kreatif, Manfaatkan AI

Selain strategi pemasaran digital, kekuatan Cambridge juga terletak pada desain produk yang mengikuti tren anak muda.

Hizran bahkan mulai memanfaatkan teknologi Artificial Intelligence (AI) untuk membantu membuat konsep desain.

Setiap periode tertentu, Cambridge meluncurkan tema atau jargon baru dalam produknya.

Meski demikian, proses kreatif tetap melewati seleksi ketat.

Cambridge memiliki tim desainer khusus yang memastikan desain benar-benar sesuai dengan selera pasar.

“Desain yang bagus membuat produk bisa survive,” kata Hizran.

Saat ini Cambridge memproduksi berbagai produk fashion unisex, seperti kaos, sandal, hoodie, tas, celana, dompet, dan topi.

Semua dirancang agar bisa dipakai oleh berbagai kalangan, terutama anak muda.

Tantangan dalam Bisnis Online

Meski terlihat menjanjikan, bisnis online juga memiliki tantangan.

Salah satu masalah yang pernah dialami Hizran adalah adanya oknum pelanggan yang melakukan penipuan dengan mengembalikan barang yang tidak sesuai pesanan.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, Cambridge menerapkan sistem dokumentasi setiap ada barang yang diretur.

“Solusinya harus dibuatkan video setiap ada barang yang dikembalikan, agar terhindar dari penipuan,” ungkapnya.

Kepercayaan Pelanggan

Kerja keras Hizran perlahan membuahkan hasil.

Berkat konsistensi menjaga kualitas produk dan pelayanan kepada pelanggan, toko Cambridge kini berhasil meraih peringkat Star di Shopee.

Status ini menandakan bahwa produk dan layanan Cambridge telah mendapat tingkat kepercayaan tinggi dari pelanggan.

Bagi Hizran, pencapaian tersebut bukan sekadar angka penjualan.

Ia melihatnya sebagai bukti bahwa usaha yang dimulai dari rumah bisa berkembang besar jika dikerjakan dengan serius.

Kisah Cambridge menjadi contoh bahwa peluang bisnis di era digital terbuka sangat luas.

Dengan kreativitas, keberanian mengambil keputusan, dan kemampuan memanfaatkan teknologi, siapa pun bisa memulai usaha. Bahkan dari ruang kecil di rumah sendiri.

Load More