- Jemaah An Nadzir Gowa menetapkan Idulfitri 1 Syawal 1447 H jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026.
- Penetapan ini didasarkan pada metode gabungan hisab dan rukyat, termasuk pengamatan fenomena gerhana bulan.
- Keputusan Idulfitri ditunda sehari karena waktu ijtima setelah pagi, tidak sesuai tuntunan salat Idulfitri.
SuaraSulsel.id - Jemaah An Nadzir di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan menetapkan Hari Raya Idulfitri 1 Syawal 1447 Hijriah jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026.
Penetapan tersebut didasarkan pada metode pemantauan hilal yang menjadi pedoman internal jemaah termasuk pengamatan fase bulan dan fenomena astronomi seperti gerhana bulan.
Pimpinan Jemaah An Nadzir Gowa, Ustad Samiruddin Pademui mengatakan keputusan tersebut diambil setelah melalui serangkaian pemantauan yang dilakukan tim khusus di sejumlah wilayah.
"Kami telah menetapkan 1 Syawal 1447 Hijriah jatuh pada hari Jumat, 20 Maret 2026," ujar Samiruddin dalam keterangan resminya, Rabu, 18 Maret 2026.
Ia menjelaskan metode yang digunakan jemaah An Nadzir merupakan perpaduan antara hisab (perhitungan astronomi) dan rukyat (pengamatan langsung) yang mengacu pada dalil naqli berupa Al-Qur’an dan hadis, serta dalil aqli berupa metode yang diajarkan oleh pendiri mereka.
Salah satu tahapan penting dalam penentuan tersebut adalah pemantauan bulan pada fase purnama yakni pada tanggal 14, 15, dan 16 bulan berjalan.
Pada tahun ini, pengamatan tersebut bertepatan dengan 2, 3, dan 4 Maret 2026, atau jatuh pada hari Senin hingga Rabu.
Dalam proses pengamatan, jemaah juga mencermati fenomena Gerhana Bulan Total yang terjadi pada Selasa, 3 Maret 2026.
Menurut Samiruddin, peristiwa tersebut bertepatan dengan 15 Ramadan 1447 Hijriah dan menjadi salah satu penanda penting dalam membaca siklus bulan.
Baca Juga: Jamaah An Nadzir Lebaran Lebih Awal
"Fenomena gerhana bulan total itu menjadi bagian dari tanda-tanda alam yang kami perhatikan dalam menentukan fase bulan," jelasnya.
Selain itu, tim pemantau juga melakukan observasi lanjutan menjelang akhir Ramadan.
Pada Senin, 17 Maret 2026 atau bertepatan dengan 27 Ramadan, tim dilaporkan melihat bulan sabit tua di ufuk timur dengan karakteristik tertentu.
"Terlihat bulan sabit dengan lapisan seperti tersusun empat, lalu pada keesokan harinya tampak tersusun tiga," ujar Samiruddin.
Berdasarkan pengamatan tersebut, jemaah menyimpulkan bahwa bulan sabit tua masih akan terbit dua kali lagi di ufuk timur, yakni pada 29 dan 30 Ramadan atau bertepatan dengan 18 hingga 19 Maret 2026.
Di sisi lain, hasil perhitungan menunjukkan bahwa ijtima atau konjungsi, yang menandai pergantian bulan dari Ramadan ke Syawal terjadi pada Kamis, 19 Maret 2026 sekitar pukul 09.26 Wita.
Berita Terkait
Terpopuler
- Kecil tapi Lega: Hatchback Bermesin Avanza Kini Cuma 50 Jutaan, Makin Layak Dilirik?
- Promo JCO Mei 2026, Paket Hemat Donat dan Kopi yang Sayang Dilewatkan
- 5 Rekomendasi Bedak Wardah Colorfit yang Warnanya Auto Menyatu di Kulit
- 4 Rekomendasi Parfum Lokal Wangi Tidak Lebay dan Tahan Lama untuk Perempuan
- 6 Rekomendasi Sepatu Lokal Rp 200 Ribuan, Kualitas Bintang Lima
Pilihan
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
-
Kala Harga Kebutuhan Meroket, Menulis Jadi Andalan Saya untuk Nambal Dompet
-
Hakim Gemas Anggota BAIS Siram Air Keras ke Andrie Yunus: Amatir Banget, Malu-maluin!
-
10 WNI Diamankan di Arab Saudi Terkait Haji Ilegal, Kemenhaj Pastikan Tak Akan Intervensi
Terkini
-
Tak Kuat Gaji PPPK, Bolehkah Pemda Berhentikan Pegawai? Ini Penjelasan Resmi BKN
-
Pemkab Kolaka Sewa 6 Pesawat Wings Air 2,7 Miliar untuk Calon Haji 2026
-
Gubernur Sulsel: Permudah Penempatan ASN Berkualitas
-
DPRD Sulsel Rekomendasikan Tambang Emas di Enrekang Ditutup
-
Wali Kota Makassar Tegaskan SPMB 2026 Anti Curang, Sistem Canggih dan Transparan