- Penyaluran pinjol terdaftar OJK diprediksi naik 30% menjelang Lebaran 2026 didorong kebutuhan konsumsi dan modal UMKM.
- OJK gencar mendorong literasi keuangan masyarakat, terutama kalangan muda, agar bijak dalam memahami skema pinjaman digital.
- Industri fintech lending diproyeksikan tumbuh positif didukung digitalisasi, walau risiko kredit macet (TWP90) juga meningkat.
Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya OJK, Agusman mengatakan pertumbuhan tersebut didukung oleh pesatnya digitalisasi layanan keuangan serta inovasi produk pembiayaan berbasis data alternatif.
"Salah satunya didorong oleh digitalisasi pembiayaan dan inovasi produk berbasis data alternatif," ujar Agusman dalam jawaban tertulis Rapat Dewan Komisioner (RDK) OJK.
Meski memiliki prospek positif, Agusman mengingatkan industri fintech lending juga menghadapi sejumlah tantangan. Khususnya dalam pengelolaan risiko kredit.
Menurutnya, penyelenggara layanan pembiayaan digital perlu memperkuat mitigasi risiko serta menjaga ketahanan bisnis di tengah dinamika perekonomian.
OJK mencatat hingga awal 2026 industri fintech lending masih menunjukkan pertumbuhan pembiayaan yang cukup signifikan.
Namun, tingkat risiko kredit macet secara agregat atau TWP90 juga mengalami kenaikan.
Data OJK menunjukkan TWP90 pada Januari 2026 tercatat sebesar 4,38 persen. Angka tersebut meningkat dibandingkan posisi Desember 2025 yang sebesar 4,32 persen, dan jauh lebih tinggi dibandingkan Januari 2025 yang berada di level 2,52 persen.
Selain fintech lending, peningkatan aktivitas pembiayaan juga diperkirakan terjadi pada sektor jasa keuangan non-bank lainnya selama Ramadan.
Agusman mengatakan secara historis periode Ramadan hingga Lebaran memang menjadi momentum peningkatan aktivitas pembiayaan di berbagai sektor.
Baca Juga: Jangan Sampai Mudik Berantakan! Ini 5 Ceklis Wajib dari Polisi Sebelum Anda Tarik Gas
Salah satu faktor pendorongnya adalah meningkatnya kebutuhan konsumsi masyarakat menjelang Hari Raya.
Harga sejumlah kebutuhan pokok biasanya mengalami kenaikan pada periode tersebut.
Selain itu, masyarakat juga memiliki berbagai kebutuhan tambahan seperti membeli pakaian baru, memperbaiki rumah, hingga menyiapkan biaya perjalanan mudik.
"Ramadan dan Lebaran memang secara historis menjadi semacam ‘musim panen’ bagi industri jasa keuangan non-bank karena kebutuhan masyarakat meningkat," katanya.
Tidak hanya kebutuhan konsumsi, peningkatan pembiayaan juga dipicu oleh kebutuhan tambahan modal bagi pelaku UMKM.
Pada periode Ramadan, permintaan terhadap berbagai produk makanan, terutama kue kering dan hidangan khas Lebaran, biasanya meningkat tajam.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Rekomendasi HP POCO RAM Besar dan Kamera Bagus, Cek di Sini!
- Promo Alfamart Hari Ini 30 April 2026, Tebus Suka Suka Diskon 60 Persen
- 5 HP Terbaru 2026 Baterai Jumbo 10.000 mAh: Tahan 3 Hari, Performa Kencang
- 5 Sepatu Lari Diadora Diskon 50 Persen di Sports Station, Harga Jadi Rp200 Ribuan
- 5 Cushion Matte untuk Menutupi Bekas Jerawat dan Noda Hitam, Harga Terjangkau
Pilihan
-
Teror di London: Penembakan Brutal dari Dalam Mobil, 4 Orang Jadi Korban
-
RESMI! Klub Milik Prabowo Subianto Promosi ke Super League
-
Dibayar Rp50 Ribu Sebulan, Guru Ngaji di Kampung Tak Terjamah Sistem Pendidikan
-
10 Spot Wisata Paling Hits di Solo 2026: Paduan Sempurna Budaya, Estetika, dan Gaya Hidup Modern!
-
7 Sabun Mandi Cair Wangi Mewah yang Bikin Rileks Setelah Pulang Kerja, Ada yang Mirip Aroma Spa
Terkini
-
Rayakan May Day, Wali Kota Makassar Ajak Ribuan Buruh Fun Walk di Karebosi
-
Ribuan Ahli Saraf Kumpul di Makassar, Apa Kabar Masa Depan Kesehatan Otak Indonesia?
-
Zullikar Tanjung Resmi Jabat Kajati Sulteng
-
SEHATI Bantu Orang Tua Kenali Risiko Perilaku Anak Sejak Dini
-
Jeritan Buruh Outsourcing: Tak Ada Skincare, yang Penting Anak Bisa Sekolah