- Pemkab Luwu Timur dilaporkan ke Komnas HAM karena penerbitan HPL atas lahan garapan petani sejak 1998.
- LBH Makassar mengajukan laporan pada Februari 2026 terkait rencana Pemkab menjadikan lahan untuk kawasan industri.
- Petani terancam penggusuran paksa setelah Bupati meminta pengosongan lahan dalam tiga hari pada Januari 2026.
SuaraSulsel.id - Ancaman penggusuran massal membayangi ratusan petani di Dusun Laoli, Desa Harapan, Kecamatan Malili, Kabupaten Luwu Timur.
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Luwu Timur dilaporkan ke Komisi Nasional Hak Asasi Manusia Republik Indonesia (Komnas HAM) atas dugaan penerbitan Hak Pengelolaan (HPL) di atas lahan seluas 394,5 hektare yang telah digarap warga selama puluhan tahun.
Laporan darurat ini diajukan oleh Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Makassar pada 12 Februari 2026, menyusul rencana Pemkab untuk menjadikan lahan tersebut sebagai kawasan industri.
Muhammad Ansar, Hasbi Assidiq, dan Muh Pajrin Rahman, kuasa hukum petani, menjelaskan bahwa laporan ini berakar dari klaim sepihak Pemkab atas lahan yang kini disebut sebagai aset daerah.
Padahal, para petani telah membuka dan mengelola lahan di Laoli sejak 1998.
"Awalnya, lahan tersebut merupakan area yang direkomendasikan untuk pengembangan oleh PT Nusdeco Jaya Abadi ketika wilayah itu masih berada dalam administrasi Kabupaten Luwu sebelum pemekaran Luwu Utara dan Luwu Timur," jelas kuasa hukum dari keterangan tertulis pada Jumat (13/2/2026).
Sejak saat itu, ratusan keluarga petani telah menanam berbagai komoditas dan menguasai rata-rata dua hektare per keluarga, dengan total 177 kepala keluarga yang bergantung pada lahan tersebut.
Konflik lahan ini bukan kali pertama terjadi. Pada 2006, akses petani mulai dibatasi saat rencana pembangunan PLTA Karebbe oleh PT INCO (kini PT Vale Indonesia Tbk) mencuat.
Lahan petani disebut dijadikan kompensasi proyek di kawasan hutan, bahkan perusahaan menanam pohon jabon di atasnya. Puncak ketegangan terjadi pada 2017, ketika sembilan petani diproses hukum dan divonis lima bulan penjara karena merusak tanaman jabon milik perusahaan saat membuka lahan.
Baca Juga: DPD RI Peringatkan Masmindo: Bencana Sumatera Jangan Terulang di Sulawesi Selatan
Meskipun demikian, mereka kembali mengelola lahan setelah menjalani hukuman, bahkan beberapa petani mengantongi Surat Keterangan Tanah (SKT) dari Kepala Desa Harapan sebagai bukti penguasaan fisik.
Namun, situasi memanas kembali pada 2024. Pemkab Luwu Timur secara mengejutkan menerbitkan Sertifikat Hak Pengelolaan (HPL) atas lahan 394,5 hektare tersebut, dengan dalih akan digunakan untuk pengembangan Kawasan Industri yang dikelola PT Indonesia Huali Industry Park (IHIP).
Petani mengaku tidak pernah dilibatkan dalam proses penerbitan HPL ini dan baru mengetahui status tersebut setelah rencana investasi muncul.
Pada Januari 2026, Bupati Luwu Timur, Irwan Bachri Syam, disebut mendatangi rumah dan pondok kebun petani, meminta pengosongan lahan dan bangunan dalam waktu tiga hari, dengan ancaman penggusuran paksa jika tidak dipatuhi. Pemerintah juga menawarkan ganti rugi atau uang kerohiman atas tanaman dan bangunan.
LBH Makassar menilai tindakan Pemkab ini sebagai pelanggaran serius terhadap hak asasi manusia.
"Langkah tersebut sebagai tindakan sepihak dan berpotensi melanggar hukum karena dilakukan tanpa putusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap," tegas kuasa hukum.
Berita Terkait
Terpopuler
- WNI Tentara Bayaran Rusia, Rendi Apriyanto Sempat Kirim Duit ke Ortu Tapi Rekening Diblokir
- 5482 Korban Keracunan MBG, Viral Ucapan Wapres Gibran: Bawa Bekal dari Rumah, MBG Jangan Dimakan
- Kekayaan Jusuf Hamka yang Dilaporkan Hary Tanoesoedibjo ke Polisi
- Jaksa Agung Burhanuddin Muncul di Istana, Bantah Bakal Dilantik jadi Jampidum
- 3 Sepatu Lokal Paling Nyaman dan Empuk untuk Jalan Terbaik Menurut Review
Pilihan
-
Resmi, Syahganda Nainggolan Jadi Kepala Bakom RI Gantikan Muhammad Qodari
-
Hadir di Istana, Pratikno Buka Suara Soal Isu Jadi Ketua Wantimpres Era Prabowo
-
Disorot Gegara Gaya Hidup Mewah, Timothy Ivan Mundur dari Deputi II Bakom RI: Ingin Introspeksi Diri
-
KBRI di Singapura Tak Punya Dokumen Soal Jenjang Pendidikan Gibran di Orchid Park dan MDIS
-
Pemain Timnas Indonesia Dapat Ancaman Pembunuhan
Terkini
-
Kepala BGN dan Gubernur Sulsel Resmikan SPPG Wilayah 3T di Takalar
-
250 Pengemudi Ojol di Makassar Dapat BBM Gratis
-
Mendagri Punya Waktu 30 Hari untuk Copot Bupati Gowa, Ini Alasannya
-
Uji Coba Sistem Rujukan Baru JKN: Pasien Langsung ke Rumah Sakit Sesuai Penyakit
-
Beli 25 Kg Tapi Cuma Dapat 23,5 Kg? Kecurangan Takaran Beras di Pasar Terbongkar