- Penyelidikan dugaan pelecehan seksual Rektor UNM Prof Karta Jayadi oleh Polda Sulsel dihentikan karena tidak memenuhi unsur pidana.
- Pelapor inisial Q kembali melaporkan kasus tersebut dengan dugaan tindak pidana kekerasan seksual kepada Ditres PPA Polda Sulsel.
- Sebelumnya, terlapor Prof Karta Jayadi pernah dinonaktifkan sebagai Rektor UNM pasca laporan dugaan pelecehan tahun 2022–2024.
SuaraSulsel.id - Penyidik Direktorat Reserse dan Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Sulawesi Selatan menghentikan penyelidikan kasus dugaan pelecehan seksual oleh Rektor Universitas Negeri Makassar (UNM) Prof Karta Jayadi usai dilaporkan korbannya inisial Q.
"Betul, dihentikan penyelidikanya karena belum memenuhi unsur pidana yang dilaporkan ke Ditreskrimsus," ujar Kabid Humas Polda Sulsel Kombes Pol Didik Supranoto saat dikonfirmasi wartawan di Makasssar, Selasa (27/1).
Dari informasi diperoleh, penghentian penyelidikan tersebut dari Surat Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penyelidikan (SP2HP) nomor B/962/I/RES.2.6/2025/Ditreskrimsus ter tanggal 22 Januari 2026 diteken Direktur Ditreskrimsus Polda Sulsel Kombes Pol Dedi Supriyadi.
Disinggung apa alasan utama menyetop penyelidikan itu walaupun dalam kasus ini tidak memiliki cukup bukti, kata dia, tentunya bila tidak memenuhi unsur maka dihentikan.
Meski pelaporan tersebut dihentikan, namun pelapor Q kembali melaporkan bersangkutan melalui laporan dugaan tindak pidana kekerasan seksual (TPKS) ke Ditreskrimum bidang Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) serta PPO Polda Sulsel.
"(Penyelidikan dihentikan) selanjutnya pelapor akan melaporkan terkait dugaan tindak pidana kekerasan seksual ke Ditres PPA dan PPO Polda Sulsel," katanya singkat.
Secara terpisah, penasehat hukum terlapor Jamil Misbach membenarkan telah menerima informasi kasus kliennya dihentikan karena tidak memenuhi unsur pidana seperti dilaporkan terlapor.
Memang sejak awal, kata dia, kasus yang dilaporkan tersebut tidak akan memenuhi unsur.
Sebab, hanya berawal dari percakapaan interpersonal antara kliennya Prof Karta Jayadi serta pelapor perempuan inisial Q.
Baca Juga: Menteri: Jangan Sebar Konten Pemerkosaan Karyawan di Makassar
"Karena memang tidak ada unsur pelecehan seksual di sana. Kami juga sudah melaporkan (Q) pencemaran nama baik sejak Agustus 2025. Penyidik juga sudah periksa sadari Q," tutur Jamil.
Sebelumnya, seorang dosen UNM inisial Q melaporkan Prof Karta Jayadi saat itu masih menjabat Rektor UNM atas dugaan pelecehan seksual secara verbal melalui pesan elektronik sejak 2022-2024.
Tidak hanya melaporkan ke polisi, terlapor turut melaporkannya kepada Inspektorat Jenderal (Itjen) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Kemendiktisaintek) atas perlakuan bersangkutan.
Hasil penelusuran tim Itjen Kemendiktisaintek, Prof Karta Jayadi dinonaktifkan sebagai Rektor UNM. Namun demikian, pihaknya melakukan perlawanan dengan melaporkan balik pelapor ke Polda Sulsel dengan dugaan pencemaran nama baik.
Berita Terkait
Terpopuler
- Mengapa Pertalite Mau Dihapus?
- Tak Ikut Aksi Bareng Mahasiswa di Bundaran HI Hari Ini, Said Iqbal Ungkap Alasan Buruh
- Apa Itu Sepatu Hybrid? Ini 5 Rekomendasi Buatan Lokal Terbaik dan Serbaguna
- Kaki Masih Pegal Setelah Lari? Ini 5 Sepatu Recovery Run Lokal dengan Review Terbaik
- Neymar Dipastikan Absen di Piala Dunia 2026, Kesalahan Pertama Ancelotti
Pilihan
-
Aliansi Rakyat Memanggil Kritik Sederet Program Pemerintah, Tuntut Prabowo-Gibran Lengser
-
Hasil Piala Dunia 2026: Hajar Paraguay, Start Sempurna Amerika Serikat
-
Neymar Dipastikan Absen di Piala Dunia 2026, Kesalahan Pertama Ancelotti
-
Thamrin Lumpuh Total, Massa Aksi Mengular hingga Dukuh Atas Hingga Jumat Malam
-
Ngotot Mau Demo di Bundaran HI Meski Dihadang Aparat, Mahasiswa: Istana dan DPR Tak Mendengar Kami!
Terkini
-
Mahasiswa Makassar Serukan 'Reformasi Jilid II'
-
BRI Permudah Transaksi dan Pengelolaan Keuangan dengan Layanan Modern Sampai Investasi Global
-
Kisah Tragis Pekerja Dapur MBG di Makassar, Tewas di Tangan Suami
-
Satu Mesin Setara 7.500 Luwak: Inovasi Unhas Ubah Nasib Petani Kopi Argopuro
-
Doa Agar Bisa Melihat Tak Terkabul, Pria Tunanetra Ini Justru Dapat Hadiah Lebih Indah di Makkah