- Korban pesawat ATR 42-500 di Pangkep dievakuasi setelah operasi modifikasi cuaca memperbaiki kondisi ekstrem.
- Operasi modifikasi cuaca oleh BMKG dan Pemprov Sulsel berhasil kurangi hambatan cuaca sehingga helikopter dapat digunakan.
- Hingga Jumat 23 Januari 2026, dua dari sepuluh korban telah berhasil diidentifikasi dan diserahkan kepada keluarga.
SuaraSulsel.id - Tangis haru dirasakan Tim SAR gabungan pencarian dan evakuasi korban pesawat ATR 42-500. Saat korban terakhir ditemukan, pada Jumat 23 Januari 2026.
Dari total 10 korban pesawat, dua orang telah diidentifikasi dan diserahkan ke pihak keluarga.
Sebagian korban masih dalam proses evakuasi dan identifikasi untuk selanjutnya diserahkan ke keluarga.
Operasi evakuasi korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 di kawasan Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan dapat dilakukan lebih optimal setelah kondisi cuaca membaik.
Membaiknya cuaca salah satunya merupakan hasil pelaksanaan operasi modifikasi cuaca (OMC) yang dilakukan oleh BMKG Makassar bersama Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan.
Sehingga memungkinkan penggunaan helikopter dalam proses evakuasi.
Kepala Basarnas, Marsekal Madya TNI (Purn) Mohammad Syafii mengatakan OMC sangat berpengaruh terhadap kelancaran proses evakuasi korban maupun puing pesawat.
Kondisi cuaca yang sebelumnya didominasi hujan dan kabut tebal sempat menjadi kendala utama tim SAR gabungan, terutama untuk operasi udara.
"Alhamdulillah, operasi modifikasi cuaca sangat berpengaruh. Ini membantu kita mengurangi sekitar 30 persen dari prediksi kondisi cuaca sehingga helikopter bisa kita terbangkan untuk evakuasi," ujar Syafii di kantor SAR Kelas A Makassar.
Baca Juga: Apa Isi Black Box Pesawat ATR 42-500? Ini Penjelasan Ketua KNKT
Dengan membaiknya cuaca, helikopter akhirnya dapat menjangkau lokasi pencarian yang berada di medan terjal dan sulit diakses melalui jalur darat.
Ia berharap kondisi cuaca yang lebih bersahabat juga dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh tim SAR darat.
"Mudah-mudahan SAR darat juga bisa melaksanakan operasi dengan maksimal," tambahnya.
Pada Kamis, 22 Januari 2026, tim SAR gabungan kembali menemukan enam paket (jenazah) kecelakaan pesawat ATR 42-500 di lokasi pencarian.
Jenazah dievakuasi menggunakan helikopter kemudian dibawa ke RS Bhayangkara Makassar untuk proses identifikasi oleh Tim Disaster Victim Identification (DVI) Mabes Polri dan Polda Sulawesi Selatan.
Kata Syafii, jika kondisi cuaca mendukung, evakuasi akan dilakukan menggunakan helikopter Basarnas pada Jumat, 23 Januari 2026.
Berita Terkait
Terpopuler
- Kajian UGM: Durasi Pidato Prabowo Naik Tiga Kali Lipat, Ucapan Tidak Pantas Tercatat 311 Kali
- 3 Sepatu Puma Tanpa Tali yang Nyaman Buat Jalan, Bergaya hingga Lari
- Urutan Skincare Pagi Viva untuk Anti-Aging Usia 40 Tahun ke Atas, Rawat Kulit Awet Muda
- 5 HP OPPO Terbaru di Indonesia, dari Midrange Tangguh hingga Flagship Superior
- Buntut Panjang RI Pangkas Ekspor Gas, Bahlil Kini Ketakutan Impor Pertalite Distop Singapura
Pilihan
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
-
RM Soeharjo Djajengasmoro: Tokoh Penting Pemuda yang Didepak dari Kampus Sendiri karena Ijazah
-
'Partai Mahasiswa' Serbia Guncang Eropa! Kalahkan Rezim Lewat Pemilu
Terkini
-
Mobil Listrik Harga Rp100 Jutaan Ada di GIIAS Makassar
-
Gubernur Sulsel: Sekolah Rakyat Buka Jalan Menuju Generasi Emas 2045
-
Mahasiswa Sebut Rezim Prabowo-Gibran sebagai Bencana Nasional
-
Usai Dilantik Jadi Bupati Gowa, Darmawangsyah Muin Langsung Dihadapkan PR Besar
-
Ikan Endemik Terancam Punah, Aturan Pelepasliaran Ikan Asing Diperketat