- Film independen SOLATA karya sutradara Ichwan Persada hanya meraih lima belas ribu penonton di bioskop Indonesia.
- Sineas Ichwan Persada menerima penghargaan internasional Golden FEMI Film Festival di Sofia, Bulgaria, pada tanggal 6 Juni.
- Film tentang pendidikan di Toraja tersebut mendapat apresiasi tinggi dan melanjutkan tur pemutaran ke berbagai negara Eropa.
SuaraSulsel.id - Hanya sekitar 15 ribu orang yang membeli tiketnya saat tayang di bioskop Indonesia. Jumlah yang mungkin membuat banyak rumah produksi menganggap film itu gagal di pasar.
Namun, ribuan kilometer dari Tanah Air, film yang sama justru mendapat sambutan berbeda.
Di sebuah ruang pemutaran di Sofia, Bulgaria, para diplomat, sineas, akademisi hingga perwakilan UNESCO berdiri memberikan apresiasi.
Mereka tidak hanya menonton, tetapi juga mengajak berdiskusi tentang cerita, budaya, hingga kemungkinan memproduksi film bersama di Indonesia.
Film itu adalah SOLATA (Teman Adalah Keluarga yang Kita Pilih) karya sineas asal Makassar, Ichwan Persada.
Film independen yang dirilis di bioskop pada November 2025 itu baru saja membawa pulang penghargaan Special Award for Cinema from the Emerald of the Equator: Cultural Contribution and Humanism dalam Golden FEMI Film Festival.
Golden FEMI FILM Festival adalah salah satu festival film internasional bergengsi di Sofia, Bulgaria, yang mengangkat isu kemanusiaan, narasi sosial, serta karya sineas independen.
Bagi Ichwan, penghargaan itu menjadi jawaban atas keraguan yang sempat menghantuinya sejak film tersebut selesai diputar di bioskop.
"Jujur, dulu saya sempat insecure karena yang menonton di bioskop hanya sekitar 15 ribu orang. Tetapi saat diputar di Bulgaria, yang hadir justru perwakilan UNESCO, diplomat dari puluhan negara, dan para pembuat film dari berbagai negara," kata Ichwan saat ditemui di Makassar, Rabu, 29 Juli 2026.
Baca Juga: Gubernur Sulsel Ground Breaking Ruas Rantepao-Pangala-Baruppu
Ia mengaku sempat menganggap jumlah penonton yang sedikit sebagai kegagalan. Namun perjalanan film itu ke Eropa Timur mengubah cara pandangnya.
"Kami boleh gagal di Festival Film Bandung, tetapi ternyata diapresiasi negara lain," ujarnya sambil tersenyum.
Penghargaan tersebut diterimanya langsung di Sofia pada 6 Juni lalu. Saat itu ia didampingi produser pelaksana Irfan Syam serta Duta Besar Republik Indonesia untuk Bulgaria, Albania, dan Makedonia Utara, Listiana Operananta.
Film sederhana dari Toraja
SOLATA mengangkat kisah seorang relawan guru dari Jakarta yang ditempatkan di Ollon, Toraja, Sulawesi Selatan untuk mengajar di sekolah kelas jauh.
Di sekolah terpencil itu hanya tersisa enam murid yang unik. Nama depan mereka kebetulan sama dengan nama-nama presiden Indonesia.
Berita Terkait
Terpopuler
- Dicukur Timnas Indonesia 5-1, Pemain Naturalisasi Kamboja Jadi Sasaran Kemarahan Fans
- 7 HP Murah Spesifikasi Terbaik di Bawah Rp2 Juta, Kamera 108 MP hingga NFC
- Bukan Sekadar Urusan Nasi Uduk di Matraman, 'Waspada Skenario Kerusuhan Agustus 2026'
- Kasat Narkoba Tangsel Ditangkap! Diduga Edarkan Narkoba Bersama Enam Anak Buah
- 4 Serum Wardah untuk Mengecilkan Pori, Kulit Halus dan Mulus Bertahap
Pilihan
-
Dicecar 23 Pertanyaan Penyidik KPK, Ini Kata Plt Bupati Sukoharjo
-
Cuma Sisa Rp200 Juta! Perampok Rp1,2 Miliar di Kalideres Diciduk Usai Habiskan 1 M Dalam 8 Hari
-
Survei SMRC Juli 2026: Elektabilitas Prabowo Anjlok Drastis, Disalip Dedi Mulyadi
-
Malaysia Dikit Lagi Resmi Berstatus Negara Maju, Pendapatan Warga Rp 250 Juta per Tahun
-
Bupati Pemalang Anom Widiyantoro Terjaring OTT KPK, Ulangi Jejak Kelam Pendahulu
Terkini
-
Bupati Gowa Diperiksa Kasus Seragam Gratis Rp16 Miliar, Om Basri Belum Tersentuh?
-
KUR BRI Berperan dalam Pengembangan Gula Merah di Sumenep yang Kini Rambah Berbagai Daerah
-
Film Asal Toraja Ini Panen Pujian di Eropa
-
Misteri Dana Rp5 Miliar Penggusuran Lahan Laoli, DPRD Luwu Timur Tak Merasa Menganggarkan
-
Warga Semangat Dukung Program Pilah Sampah, Tempat Sampah Depan Rumah Malah Dicuri