- Akbar Faizal menyatakan keterlibatan langsung Jusuf Kalla dalam sengketa lahan Tanjung Bunga menandakan isu prinsip dan keadilan serius.
- Sengketa lahan melibatkan PT GMTD dengan isu pembangunan yang menyimpang dari tujuan awal pariwisata budaya.
- Masyarakat adat menuntut audit keuangan GMTD karena diduga terjadi perampasan tanah dan pengalihan aset kepada anak usaha Lippo.
SuaraSulsel.id - Mantan anggota DPR RI Akbar Faizal turut angkat bicara terkait sengketa lahan di kawasan Tanjung Bunga, Makassar yang melibatkan PT Gowa Makassar Tourism Development Tbk (GMTD) dan Jusuf Kalla alias JK.
Akbar menyebut konflik ini bukan perkara biasa mengingat jarangnya JK turun langsung mengurus aset pribadi.
Akbar mengaku baru-baru ini bertemu langsung dengan Jusuf Kalla dan mendapatkan penjelasan mendalam mengenai duduk perkara sengketa tanah tersebut.
Dari pertemuan itu, Akbar mengatakan dirinya mulai memahami mengapa mantan Wakil Presiden RI ke 10 dan 12 itu bersikap keras dan memilih turun tangan langsung.
"Saya jadi paham kenapa Pak JK menjadi sangat marah dan harus turun tangan sendiri," ujar Akbar Faizal, Senin 22 Desember 2025.
Menurut Akbar, Jusuf Kalla dikenal sebagai sosok yang hampir tidak pernah secara langsung mengurusi aset-aset pribadinya.
Karena itu, keterlibatan langsung JK dalam konflik Tanjung Bunga dinilai sebagai sinyal kuat bahwa masalah ini menyentuh prinsip dan keadilan.
"Ini sesuatu yang jarang beliau lakukan untuk urusan aset. Maka kita tunggu sampai di mana pertarungan ini akan berujung, tapi setelah mendengar penjelasan beliau, tampaknya tak ada alasan baginya untuk berhenti," kata Akbar.
Akbar bahkan menyitir ungkapan khas Makassar untuk menggambarkan sikap JK dalam perkara ini.
Baca Juga: Sengketa Tanah Makassar: Hadji Kalla Lapor Polisi, GMTD Gugat Perdata
"Kualleangi Tallang Natoalia (pantang mundur sebelum tujuan tercapai). Orang Makassar pasti paham makna kalimat keramat ini," ucapnya, merujuk pada filosofi hidup orang Makassar.
Sengketa lahan di kawasan Tanjung Bunga sendiri terus menjadi sorotan publik.
Tak hanya melibatkan dua pengusaha kelas kakap, persoalan ini juga menyeret isu lebih besar terkait arah pembangunan, hak masyarakat adat, serta dugaan penyimpangan tujuan pendirian GMTD.
Sebelumnya, Dewan Majelis Pemangku Adat Kerajaan Gowa Bali Empona Salokoa, Idris AM Andi Idjo Daeng Buang Karaengta Katangka, secara terbuka mendesak DPRD Sulawesi Selatan dan Pemerintah Provinsi Sulsel untuk melakukan audit keuangan terhadap GMTD. Audit tersebut diminta melibatkan auditor independen dan atau Badan Pemeriksa Keuangan (BPK/BPKP).
Menurut Idris, PT Gowa Makassar Tourism Development Tbk diduga telah melenceng jauh dari tujuan awal pendiriannya.
GMTD semula dibentuk untuk mengembangkan kawasan usaha pariwisata berbasis budaya dan sejarah maritim Sulawesi Selatan.
Berita Terkait
Terpopuler
- REDMI 15 Resmi Dijual di Indonesia, Baterai 7.000 mAh dan Fitur Cerdas untuk Gen Z
- Kehabisan Uang Usai Mudik di Jogja, Ratusan Perantau Berburu Program Balik Kerja Gratis
- 55 Kode Redeem FF Max Terbaru 23 Maret 2026: Klaim THR, Diamond, dan SG2 Tengkorak
- Peta 30 Suara Mulai Terbaca, Munafri Unggul Sementara di Musda Golkar Sulsel
- Mobil Alphard Termurah, 100 Jutaan Dapat Tahun Berapa?
Pilihan
-
Kabais Dicopot Buntut Aksi Penyiraman Air Keras Terhadap Andrie Yunus
-
Puncak Arus Balik! 50 Ribu Orang Padati Jakarta, KAI Daop 1 Tebar Diskon Tiket 20 Persen
-
Arus Balik, Penumpang Asal Jawa Tengah Hingga Sumatera Masih Padati Terminal Bus Kalideres
-
Ogah Terjebak Kemacetan di Pantura, Ratusan Pemudik Motor Pilih Tidur di Kapal Perang TNI AL
-
Sempat Dikira Tidur, Pria di Depan Gedung HNSI Juanda Ternyata Sudah Tak Bernyawa
Terkini
-
Duh! Dibujuk Tak Mempan, ODGJ di Selayar Nekat Bacok Polisi Pakai Kapak
-
Berencana Berlibur ke Bali? Ini 7 Destinasi & Aktivitas Seru di Bali yang Bisa Anda Lakukan!
-
ASN Bakal Kerja dari Rumah, Benarkah Bakal Menghemat BBM?
-
Peneliti Ungkap Alasan Ilmiah Ikan Hiu 'Nongkrong' di Pesisir Makassar
-
Peta 30 Suara Mulai Terbaca, Munafri Unggul Sementara di Musda Golkar Sulsel