- Jusuf Kalla menyampaikan dampak pelemahan ekonomi makro terhadap pembiayaan pendidikan tinggi pada acara di Universitas Airlangga, Surabaya, Jumat (06/02/2026).
- JK menolak solusi penambahan mahasiswa sebagai cara mengatasi keterbatasan anggaran karena berdampak menurunkan mutu pendidikan tinggi secara keseluruhan.
- Ia mengusulkan tiga solusi pendanaan alternatif bagi PTN-BH, yakni kolaborasi industri, unit usaha berbasis riset, dan optimalisasi fundraising alumni.
SuaraSulsel.id - Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI, Jusuf Kalla (JK), menilai penurunan kondisi ekonomi makro nasional berdampak langsung terhadap pembiayaan pendidikan tinggi di Indonesia.
Namun, ia menegaskan bahwa menambah jumlah mahasiswa bukan solusi yang tepat untuk menutup keterbatasan anggaran perguruan tinggi.
Hal tersebut disampaikan JK saat menjadi narasumber dalam Sidang Paripurna Majelis Senat Akademik Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTN-BH) di Kampus Universitas Airlangga (Unair), Surabaya, Jumat (06/02/2026).
Menurut JK, saat ini ekonomi nasional menghadapi tantangan serius, baik dari faktor global maupun domestik. Sejumlah lembaga internasional bahkan telah menurunkan outlook ekonomi Indonesia dari stabil menjadi negatif.
“Ekonomi dunia sedang bermasalah. Amerika, Tiongkok, Jepang, dan Eropa mengalami perlambatan akibat perang, konflik, serta kebijakan proteksionisme. Indonesia tentu ikut terdampak,” kata JK.
Selain faktor global, JK menyebut beban utang pemerintah dari periode sebelumnya turut memengaruhi kapasitas fiskal negara. Besarnya kewajiban pembayaran cicilan dan bunga utang menyebabkan ruang belanja negara semakin terbatas, termasuk untuk sektor pendidikan.
“Kalau pendapatan negara menurun dan pajak berkurang, pemerintah hanya punya dua pilihan: mengurangi pengeluaran atau menambah utang. Itu konsekuensi yang tidak bisa dihindari,” ujarnya.
JK menekankan bahwa meskipun anggaran pendidikan secara konstitusional ditetapkan sebesar 20 persen dari APBN, realisasinya semakin terbagi ke berbagai pos, sehingga porsi untuk pendidikan tinggi ikut tergerus.
Dalam konteks PTN-BH, JK mengingatkan agar perguruan tinggi tidak mengambil jalan pintas dengan menaikkan jumlah mahasiswa secara berlebihan.
Baca Juga: Beasiswa Otsus Antar Cecilia Kuliah di AS, Yunita Monim: Pendidikan Faktor Utama Bangun Papua
“Tidak mungkin menaikkan jumlah mahasiswa sekaligus meningkatkan mutu. Beban dosen akan bertambah, waktu untuk riset berkurang, dan kualitas pendidikan pasti menurun,” tegasnya.
Ia menilai peran perguruan tinggi justru sangat strategis dalam mendorong pemulihan dan pertumbuhan ekonomi nasional melalui inovasi, riset, dan pengembangan teknologi, JK mencontohkan kemajuan ekonomi Amerika Serikat yang ditopang oleh universitas-universitas riset seperti Stanford dan MIT yang melahirkan Silicon Valley.
“Jangan hanya bertanya apa peran ekonomi makro bagi perguruan tinggi, tapi juga apa peran perguruan tinggi bagi ekonomi nasional,” kata JK.
Untuk mengatasi keterbatasan anggaran, JK menawarkan tiga alternatif sumber pendanaan bagi PTN-BH. Pertama, memperkuat kerja sama riset dengan dunia industri. Kedua, mengembangkan unit-unit usaha berbasis riset dan aset universitas. Ketiga, mengoptimalkan fundraising dari alumni.
“Alumni banyak yang sukses di perusahaan besar. Mereka harus diajak kembali berkontribusi agar mutu universitas tetap terjaga,” ujarnya.
JK juga menyoroti tingginya angka pengangguran sarjana di Indonesia. Ia menyebut banyak lulusan perguruan tinggi yang bekerja di sektor informal karena kompetensi tidak sesuai dengan kebutuhan pasar.
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 Warna Pakaian yang Dipercaya Bawa Keberuntungan untuk Shio di Tahun Kuda Api 2026
- Jokowi Sembuh dan Siap Keliling Indonesia, Pengamat: Misi Utamanya Loloskan PSI ke Senayan!
- 5 HP Xiaomi RAM Besar Termurah, Baterai Awet untuk Multitasking Harian
- 5 Lipstik Wardah Tahan Lama dan Tidak Luntur Saat Makan, Cocok untuk Daily hingga Kondangan
- 5 HP Xiaomi Paling Murah 2026, Mulai Rp1 Juta Spesifikasi Mantap untuk Harian
Pilihan
-
Setahun Menggantung, Begini Nasib PSEL di Kota Tangsel: Pilih Mandiri, Tolak Aglomerasi
-
Di Tengah Maraknya Klitih, Korban Kejahatan di Jogja Harus Cari Penjamin Biaya Medis Sendiri
-
Admin Fansbase Bawa Kabur Duit Patungan Voting, Rio Finalis Indonesian Idol Tereliminasi
-
Menilik Sepatu Lari 'Anak Jaksel' di Lapangan Banteng: Brand Lokal Mulai Mendominasi?
-
SMAN 1 Pontianak Tolak Ikut Lomba Ulang, Sampaikan Salam: Sampai Jumpa di LCC Tahun Depan!
Terkini
-
Gubernur Kaltara Minta Mahasiswa di Perantauan Saling Jaga Usai Kasus Kekerasan Seksual di Makassar
-
Angkasa Pura Jelaskan Mengapa Penumpang Bawa Sabu Bisa Lolos di Bandara
-
Ingin Rasakan Tempat Tenang di Makassar? Coba Kunjungi 11 Perpustakaan Ini
-
Apa Itu Pendidikan Berbasis Kasih Sayang? Untuk Melahirkan Generasi Berkarakter
-
Rahasia di Balik Lezatnya Masakan Indonesia untuk Jamaah Haji