- Tersimpan jejak peradaban lain yang turut membentuk wajah rakyat Sulawesi Selatan
- Hubungan antara orang Bugis-Makassar dan Melayu telah terjalin sejak abad ke-15
- Bugis-Melayu merujuk pada orang-orang Melayu yang menetap di tanah Bugis
SuaraSulsel.id - Sulawesi Selatan bukan hanya tanah para pelaut Bugis dan Makassar.
Di balik naskah-naskah lontara dan riwayat lisan yang diwariskan turun-temurun, tersimpan jejak peradaban lain yang turut membentuk wajah masyarakatnya. Ada jejak orang Melayu di daerah ini.
Dalam buku Integrasi Melayu di Sulawesi Selatan karya Muhlis Hadrawi, terungkap bahwa hubungan antara orang Bugis-Makassar dan Melayu telah terjalin sejak abad ke-15.
Lontara-lontara kuno mencatat perjumpaan itu bukan sekadar pertemuan dua bangsa perantau, tetapi pertautan budaya dan darah lewat perkawinan.
Dari situlah muncul istilah "Bugis-Melayu" dan "Melayu-Bugis", dua identitas yang saling melebur hingga kini.
Bugis-Melayu merujuk pada orang-orang Melayu yang menetap di tanah Bugis dan kemudian berasimilasi hingga unsur ke-Bugis-an menjadi bagian dari diri mereka.
Sementara Melayu-Bugis adalah sebutan bagi orang Bugis yang merantau ke Tanah Melayu dan membawa serta identitas asalnya ke dunia baru.
Hubungan itu bukan semata ekonomi, tapi juga spiritual dan intelektual. Orang Melayu memainkan peran penting dalam penyebaran Islam di Sulawesi Selatan, juga dalam birokrasi kerajaan menjadi pedagang, pujangga, hingga penulis istana.
Salah satu tokoh legendaris dari persilangan itu adalah Amanna Gappa, seorang bangsawan Bugis berdarah Melayu yang menulis Hukum Pelayaran dan Perdagangan Bugis pada abad ke-17.
Baca Juga: Bagaimana Selera Otomotif Warga Makassar? Ini Kata Suzuki
Karya monumental ini menjadi semacam "undang-undang laut" bagi para pelaut di Nusantara, dan kini masih tersimpan dalam bentuk mikrofilm di Arsip Nasional Makassar.
Tak hanya Amanna Gappa, beberapa penulis istana Bugis-Makassar juga berdarah Melayu. Nama-nama seperti Ince Husain, Ince Amin, dan Ince Nurdin tercatat sebagai juru tulis dan pujangga penting.
Ince Amin, misalnya, dikenal sebagai pengarang Syair Perang Mengkasar (1670), karya sastra yang menandai lahirnya tradisi tulisan Melayu-Makassar. Sementara, nama Ince Nurdin diabadikan sebagai salah satu jalan di Makassar.
Syair itu merekam kisah epik Perang Makassar antara Kerajaan Gowa dan Bone yang bersekutu dengan Belanda. Dari bait-baitnya, sejarah perang berubah menjadi puisi yang menggugah.
Kedatangan orang Melayu di Sulawesi Selatan sebenarnya sudah lebih awal lagi.
Lontara Suppa’ mencatat sebuah kisah mitologis tentang pernikahan antara Ratu Melaka, Wé Tépulingé, dengan Raja Bacukiki, La Bangéngé.
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 Mobil Hybrid Paling Murah dan Irit, Cocok untuk Pemula
- 7 HP Terbaru di 2026 Spek Premium, Performa Flagship Mulai Rp3 Jutaan
- Bedak Apa yang Bikin Muka Glowing? Ini 7 Rekomendasi Andalannya
- 7 Sepatu Running Adidas dengan Sol Paling Empuk dan Stabil untuk Pelari
- Pendidikan dan Karier Wakil Bupati Klaten Benny Indra Ardhianto yang Meninggal Dunia
Pilihan
-
Ucap Sumpah di atas Alkitab, Keponakan Prabowo Sah Jabat Deputi Gubernur BI
-
Liburan Keluarga Berakhir Pilu, Bocah Indonesia Ditabrak Mati di Singapura
-
Viral Oknum Paspampres Diduga Aniaya Driver Ojol di Jakbar, Dipicu Salah Titik dan Kata 'Monyet'
-
Hasil Rapat DPR: Pasien PBI BPJS Tetap Dilayani, Pemerintah Tanggung Biaya Selama 3 Bulan
-
OJK Bongkar Skandal Manipulasi Saham, PIPA dan REAL Dijatuhi Sanksi Berat
Terkini
-
Waspada! Ini Radius Bahaya Terbaru Gunung Karangetang
-
Presiden Singgung Estetika Kota, Bendera Gerindra Masih Bertebaran di Makassar
-
Ini Rahasia Gubernur Sulsel Dorong Gaya Hidup Sehat dan Hijau Warga
-
Ragam Sumber Beasiswa di Unhas dan Cara Jitu Mendapatkannya
-
Oknum Dosen ITH Parepare Diduga Lakukan Pelecehan Seksual ke Mahasiswi