- Seorang warga negara China berinisial W ditetapkan sebagai daftar pencarian orang
- Bambu laut atau Isis hippuris spp, merupakan salah satu biota laut yang bernilai ekonomi tinggi di pasar internasional
- Spesies ini kerap dimanfaatkan untuk bahan obat-obatan, perhiasan, hingga hiasan akuarium
"Dengan kata lain, seluruh bentuk pemanfaatan atau perdagangan bambu laut bersifat ilegal," tegas Jufri.
Penyelundupan biota laut dilindungi bukan kali pertama terjadi di wilayah Sulawesi Selatan.
Dalam beberapa tahun terakhir, aparat kerap menggagalkan upaya pengiriman teripang, kima, dan koral hidup ke luar negeri.
Namun, kasus bambu laut kali ini tergolong besar karena volumenya mencapai puluhan ton dan melibatkan jaringan lintas negara.
"Pengungkapan kasus ini menjadi bukti keseriusan Polri dalam melindungi kekayaan laut Indonesia," ujar Jufri.
Polda Sulsel, kata dia, terus memperkuat pengawasan di jalur laut dan darat untuk menekan penyelundupan biota langka.
Koordinasi dengan instansi terkait, termasuk Bea Cukai dan Kementerian Kelautan dan Perikanan, juga ditingkatkan agar upaya perlindungan bisa berjalan lebih efektif.
"Kami berkomitmen menjaga kelestarian ekosistem laut yang menjadi kebanggaan bangsa," tambahnya.
Atas perbuatannya, tersangka M dijerat Pasal 40A ayat (1) huruf e jo Pasal 21 ayat (2) huruf b Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2024 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.
Baca Juga: Kapal Ambulans Hilang Kontak di Selat Makassar, Angkut 3 Warga Pulau
"Tersangka terancam pidana penjara minimal tiga tahun dan maksimal 15 tahun," tegas Jufri.
Penyidik juga masih terus melacak keberadaan W, warga negara China yang diduga menjadi dalang utama penyelundupan. Polisi bekerja sama dengan pihak imigrasi dan Interpol untuk memburu pelaku di luar negeri.
Kasus ini kembali mengingatkan bahwa bisnis biota laut langka masih menjadi ancaman serius bagi ekosistem Indonesia.
Bambu laut, yang hidup di kedalaman 10 hingga 30 meter dan berperan penting sebagai habitat alami bagi ikan-ikan kecil, kini terancam punah akibat eksploitasi berlebihan.
Pemerintah dan aparat penegak hukum diharapkan tidak hanya menindak pelaku, tetapi juga memperkuat edukasi bagi masyarakat pesisir agar memahami pentingnya menjaga biota laut yang dilindungi.
Kontributor : Lorensia Clara Tambing
Berita Terkait
Terpopuler
- Urutan Skincare Pagi Viva untuk Anti-Aging Usia 40 Tahun ke Atas, Rawat Kulit Awet Muda
- Sempat Diamankan saat OTT, Sestama BNPB Rustian Kini Diperiksa KPK di Gedung Merah Putih
- Sering Dijual Lebih Murah, Apakah Sepatu di Sports Station Ori?
- 3 Sepatu Lari Lokal untuk Full Marathon, Ini Spesifikasi dan Harganya
- Shin Tae-yong Kasih Kode Rotasi Skuad Persija, Shayne Pattynama Bisa Unjuk Gigi di League Cup
Pilihan
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
-
RM Soeharjo Djajengasmoro: Tokoh Penting Pemuda yang Didepak dari Kampus Sendiri karena Ijazah
-
'Partai Mahasiswa' Serbia Guncang Eropa! Kalahkan Rezim Lewat Pemilu
Terkini
-
2 Kasus Kekerasan Seksual Difabel di Sulsel, Polisi Didesak Bertindak
-
Disabilitas di Bawah Umur Hamil 7 Bulan di Maros, Pelaku 7 Kakek-kakek Belum Ditangkap
-
Polisi Hutan Tewas Tertimpa Pohon Saat Padamkan Karhutla Toraja Utara
-
Mobil Listrik Harga Rp100 Jutaan Ada di GIIAS Makassar
-
Gubernur Sulsel: Sekolah Rakyat Buka Jalan Menuju Generasi Emas 2045