Muhammad Ilham Baktora
Jum'at, 06 Juni 2025 | 18:10 WIB
Potret Ustaz Yahya Waloni saat masih bisa berbincang di podcast milik Rhoma Irama. (YouTube)

SuaraSulsel.id - Ustaz Yahya Waloni meninggal dunia pada Jumat (6/6/2025) pagi bertepatan dengan 10 Zulhijah 1446 Hijriah. Pendakwah kondang itu wafat bersamaan dengan perayaan Hari Raya Iduladha.

Saat kejadian, Ustaz Yahya tengah menjadi khatib di Masjid Darul Falah, Blok M, Minasa Upa, Kota Makassar.

Berdasarkan keterangan sejumlah saksi, khutbah pertama berjalan tanpa kendala.

Namun, saat beliau berdiri dan baru mengucapkan sepatah dua patah kata di khutbah kedua, mendadak tubuhnya ambruk ke lantai mimbar.

Jemaah yang menyaksikan peristiwa tersebut langsung panik.

Ustaz Yahya sempat dilarikan ke RS Bahagia yang berada tak jauh dari lokasi. Sayangnya, nyawa beliau tak tertolong.

Tim medis menyatakan almarhum telah wafat sesaat setelah tiba di rumah sakit.

"Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Allah lebih mencintai beliau. Ustaz Yahya kembali ke hadirat Ilahi dalam keadaan mulia, saat beliau tengah berjuang menyampaikan kalimat Allah," demikian pesan berantai yang diterima Jumat.

Kepergian Ustaz Yahya Waloni meninggalkan duka mendalam tak hanya bagi keluarga.

Baca Juga: Menu Sederhana dan Murah di Hari Idul Adha: Hemat Tapi Tetap Lezat!

Tapi juga bagi masyarakat yang selama ini mengenalnya sebagai sosok yang berdedikasi terhadap dakwah Islam.

Selama hidupnya, almarhum dikenal aktif berceramah di berbagai masjid, pengajian, dan forum keagamaan di Sulawesi Selatan.

Almarhum bahkan wafat dalam tugas dakwah. Saat menyampaikan khutbah Iduladha di hadapan jemaah.

Doa dan ungkapan belasungkawa mengalir dari berbagai kalangan.

Banyak yang menyampaikan rasa kehilangan atas wafatnya ulama yang dinilai istiqamah dalam menyebarkan ajaran Islam.

"Semoga Allah Subhanahu Wa Ta'ala merahmati hidup dan matinya, mengampuni segala khilaf beliau, dan menempatkan almarhum di tempat terbaik di sisi-Nya."

Mantan Pendeta yang Beralih Jadi Pendakwah

Ustaz Yahya Waloni bukan nama asing dalam dunia dakwah di Indonesia.

Ia dikenal luas sebagai pendakwah kontroversial yang mengaku sebagai mantan pendeta sebelum memeluk Islam.

Sebelum mualaf, ia dikenal dengan nama lengkap Yahya Yopie Waloni, dan pernah mengklaim menjabat sebagai Rektor Universitas Kristen Indonesia (UKI) Papua.

Seperti dikutip dari laman Izzatalislam, Yahya Waloni pernah menjabat Ketua Sekolah Tinggi Theologia Calvinis di Sorong tahun 2000-2004.

Saat itu juga ia sebagai pendeta dengan status sebagai pelayan umum dan terdaftar pada Badan Pengelola Am Sinode GKI di Tanah Papua, Wilayah VI Sorong-Kaimana.

Ia menetap di Sorong sejak tahun 1997 dan pindah ke Balikpapan pada tahun 2004 dan menjadi dosen di Universitas Balikpapan (Uniba) sampai tahun 2006.

Perjalanan spiritualnya berubah drastis pada Rabu, 11 Oktober 2006 pukul 12.00 Wita silam.

Ia bersama istrinya menyatakan masuk Islam secara sah di bawah bimbingan Sekretaris Pimpinan Cabang Nahdlatul Ulama (NU) Tolitoli, Komarudin Sofa.

Usai mengucapkan dua kalimat syahadat, namanya diganti menjadi Muhammad Yahya.

Istrinya, Lusiana, berganti nama menjadi Mutmainnah dan ketiga anaknya pun mengikuti.

Putri sulungnya, Silvana, menjadi Nur Hidayah, Sarah menjadi Siti Sarah, dan putra bungsunya, Zakaria, tetap mempertahankan nama aslinya.

Sejak saat itu, Yahya aktif berdakwah dan kerap mengisi ceramah dengan narasi-narasi keras, termasuk kritik terhadap pemerintah.

Gaya ceramahnya kerap memicu kontroversi dan reaksi beragam dari masyarakat.

Meski demikian, bagi sebagian pengikutnya, Yahya Waloni tetap dianggap sebagai sosok yang tegas dalam membela Islam.

Wafatnya di atas mimbar, saat menyampaikan khutbah, oleh banyak kalangan dianggap sebagai akhir hayat yang mulia.

Semasa hidup, ia sering diundang untuk ceramah di berbagai daerah dan memiliki pengikut yang cukup banyak.

Namun, perjalanan dakwah Yahya Waloni juga diwarnai dengan berbagai kontroversi hukum.

Pada tahun 2021, ia sempat ditangkap dan diproses hukum atas dugaan ujaran kebencian. Kasus ini kembali menyorot sepak terjangnya di dunia dakwah.

Kontributor : Lorensia Clara Tambing

Load More