SuaraSulsel.id - Presiden BEM Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin Makassar (Unhas), Fajrul Palaq, dipanggil Komisi Disiplin.
Ia dimintai klarifikasi usai memasang spanduk bertuliskan, "Dosen Pemerkosa Kena Skorsing, Mahasiswa Protes Kena DO".
Spanduk itu sebagai bentuk solidaritas atas diberhentikannya mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Unhas, Alief Gufran beberapa waktu lalu dan dibentangkan di salah satu gedung.
Alief Gufran diberhentikan karena diduga melanggar etika dan mencemarkan nama baik kampus. Di waktu bersamaan, ia juga terlibat aksi protes atas sanksi terhadap pelaku pencabulan mahasiswa, Firman Saleh.
Firman merupakan oknum dosen FIB yang awalnya hanya disanksi dua semester oleh Tim Satgas Penanganan Tindak Pidana Seksual (TPKS).
Setelah viral dan dikecam publik, Firman diusulkan ke Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi untuk diberhentikan.
Fajrul mengakui diksi yang digunakan di spanduk itu bernada sarkas. Tujuannya sebagai bentuk tentangan atas kebijakan rektorat.
"Itu cara kami untuk memastikan bahwa kasus tindak kekerasan seksual ini tidak hilang dari perhatian publik," ucapnya.
Kata-kata di spanduk itu juga bentuk luapan ekspresi atas kegelisahan mereka. Bagaimana bisa sanksi timpang diberlakukan antara dosen dan mahasiswa yang dianggap sama-sama melakukan pelanggaran berat.
Baca Juga: Anak Muda Unhas Diajak Bergerak Nyata Atasi Perubahan Iklim
"Jadi (Komdis) meminta klarifikasi atas diksi-diksi yang digunakan," sebutnya.
Sementara, Ketua Komdis FKM, Profesor Anwar Daud menilai rektorat menyoroti kata pemerkosaan yang digunakan di spanduk. Itu dianggap kasar.
"Rektorat menyayangkan kenapa kata-kata seperti itu digunakan. Kenapa tidak memakai istilah pelecehan," ucapnya.
Anwar menjelaskan Komdis memanggil Presiden BEM FKM agar sebaiknya menyampaikan kritik yang mencerminkan sisi akademis dan etika.
Ia memahami keresahan mahasiswa yang melatarbelakangi aksi tersebut. Menurutnya, mahasiswa diberi kebebasan menyampaikan aspirasi dan kritik, namun dengan syarat harus sesuai koridor sebagai insan akademis.
"Ya, mungkin mahasiswa sudah muak, jenuh, dan pusing kepala bagaimana supaya didengar," ucapnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 Shio yang Tinggalkan Masa Sulit Mulai 5 November 2026, Siap Sambut Kebahagiaan
- 9 Sunscreen untuk Wanita Usia 50 Tahun ke Atas agar Kulit Awet Muda
- Viral Pendaki Ditandu Naik Gunung Merbabu, Biaya Capai Rp30 Juta
- Apa Bedanya Adidas Originals vs Adidas Performance? Kenali dari Logo dan Kegunaannya
- 4 Sepatu Jalan dengan Teknologi Penyangga Kaki Terbaik untuk Berjalan jauh
Pilihan
-
Seskab Teddy Dikabarkan Diperiksa POM TNI, Soal Penyadapan Prabowo?
-
Jokowi Tak Banyak Komentar Soal Penyadapan Prabowo: Kita Hormati Proses Hukum
-
Dicecar soal Listyo Sigit Prabowo, Jokowi: Semua Orang juga Sudah Tahu
-
Jokowi Ngaku Lupa Nama 3 Temannya yang Wisuda Bareng di UGM
-
Hakim Potong Omongan Jokowi yang Melebar: Jawab Saja Pertanyaannya!
Terkini
-
Perempuan Sulawesi Bersuara Desak Moratorium Izin Tambang dan Perlindungan Hutan Hujan
-
Nusron Wahid Masih Bisa ke Luar Negeri, KPK Pertimbangkan Statusnya sebagai Menteri
-
Ini Syarat Anak Disabilitas Masuk Sekolah Rakyat
-
Buruh Sulsel Tuntut UMP 2027 Naik 9,5 Persen
-
Jokowi Tunjukkan Ijazah Depan Wajah Roy Suryo