SuaraSulsel.id - Nurhayati (56 tahun) masih ingat betul suasana di belakang rumahnya dulu. Saat masih ada rel kereta api zaman kolonial Belanda. Panjangnya kira-kira lima meter.
Nurhayati adalah warga Jongaya, Kecamatan Tamalate, Kota Makassar. Ternyata rumahnya adalah bekas stasiun kereta api pada masa kolonial. Rumah bekas stasiun kereta api tersebut masih berdiri kokoh hingga saat ini.
Tidak sulit untuk menemukan rumah Nurhayati. Cukup menuliskan kata "Stasiun Jongaya" di google maps.
Peta digital akan mengarahkan ke lokasi yang tepat. Tempat bekas stasiun kereta api peninggalan Belanda itu. Letaknya cukup strategis karena diapit oleh dua jalanan utama.
"Iya, saya ingat. Kalau pulang sekolah dulu kan lewati rel itu, kurang lebih 5 meter panjangnya. Tidak tahu siapa yang ambil besinya padahal berat saya lihat," ujarnya saat ditemui Jumat, 22 Juli 2022.
Wanita berusia 56 tahun itu dengan senang hati menunjukkan beberapa bekas sarana perkeretaapian peninggalan Belanda. Kayu jendela dan pintu bekas stasiun masih utuh. Walau hampir berusia 100 tahun.
"Letak relnya dulu ini tapi sudah jadi jalanan dan pekarangan warga. Kusen jendela depan dan pintunya kami tidak pernah ubah. Masih asli," ungkapnya sembari menunjuk salah satu lokasi, tepat di belakang rumahnya.
Dari cerita orang tuanya, kereta itu dulunya dipakai mengangkut barang-barang dari pelabuhan Makassar ke Takalar di zaman Belanda. Namun tak berlangsung lama karena Belanda rugi.
Setelah tak difungsikan sebagai stasiun, dialihkanlah jadi kantor polisi.
Baca Juga: ITB Ditunjuk Pimpin Riset Pengembangan Kereta Api Ringan Hybrid dan Cerdas
Kebetulan, ayahnya adalah mantan Kepala Polisi Sektor Tamalate. Sementara, mereka tinggal menumpang di asrama.
"Polisi dulu tidak punya rumah tetap. Pindah sana-sini," ungkapnya.
Setelah kantor Polsek dipindahkan, ayahnya bermohon ke Polda Sulsel agar rumah itu bisa dihibahkan secara pribadi. Nurhayati tidak ingat betul, tahun kapan permohonan itu disetujui.
"Dan ternyata disetujui saat itu saya lupa waktunya. Kami lalu pindah ke sini dan sekarang sudah menetap sejak tahun 60-an atau 70-an," ungkap ibu dari empat anak tersebut.
Ia berujar pernah ada yang menawar rumahnya. Nilainya fantastis sampai Rp2 miliar. Namun, ia menolak.
Ia mengatakan masih pikir-pikir. Sebab rumah itu punya nilai sejarah. Kalaupun mau dijual, setidaknya lebih dari Rp2 miliar.
Berita Terkait
-
Amanna Gappa: Perintah Menteri Perhubungan, Rel Kereta Api Makassar - Maros di Atas Tanah
-
Anggota DPR RI Akan Bertemu Menteri Perhubungan, Cari Solusi Terkait Jalur Rel Kereta Api di Makassar
-
Wali Kota Makassar Tolak Pembangunan Rel Kereta Api di Atas Tanah: Melanggar Tata Ruang dan Menimbulkan Banjir
Terpopuler
- Dexlite Mahal, 5 Pilihan Mobil Diesel Lawas yang Masih Aman Minum Biosolar
- Sepeda Polygon Paling Murah Tipe Apa? Ini 5 Pilihan Ternyaman dan Tahan Banting
- Awas! Jakarta Gelap Gulita Besok Malam, Cek Daftar Lokasi Pemadaman Lampunya
- Warga 'Serbu' Lokasi Pembangunan Stadion Sudiang Makassar, Ancam Blokir Akses Pekerja
- Pakar UGM Bongkar 'Dosa' Satu Dasawarsa Jokowi: Aturan Dimanipulasi Demi Kepentingan Rente
Pilihan
-
Cek Fakta: Viral Pengajuan Pinjaman Koperasi Merah Putih Lewat WhatsApp, Benarkah Bisa Cair?
-
Jadi Tersangka Pelecehan Santri, Benarkah Syekh Ahmad Al Misry Sudah Ditahan di Mesir?
-
Kopral Rico Pramudia Gugur, Menambah Daftar Prajurit TNI Korban Serangan Israel di Lebanon
-
Ingkar Janji Taubat 2021, Syekh Ahmad Al Misry Resmi Tersangka Kasus Pelecehan Santri
-
Sebagai Ayah, Saya Takut Biaya Siluman Terus Menghantui Pendidikan Anak di Masa Depan
Terkini
-
Bupati Lutra: Kami Bersyukur Bantuan Bapak Gubernur Sulsel
-
Jalan Seko Dipercepat, Gubernur Sulsel Groundbreaking Ruas Sabbang-Tallang-Sae Rongkong
-
Kisah Penjual Ikan Keliling Naik Haji Setelah Menabung Puluhan Tahun
-
Jangan Tunggu Parah! Pentingnya Deteksi Dini Jantung yang Sering Disepelekan Pasien
-
Perempuan Berdaya, BRILink Mekaar Dorong Ekonomi Kerakyatan dari Desa