Scroll untuk membaca artikel
Eviera Paramita Sandi
Sabtu, 30 April 2022 | 11:51 WIB
Peziarah mengunjungi pemakaman Covid-19 di Macanda, Kabupaten Gowa, Sabtu, 29 April 2022. Ziarah kubur sering dilakukan masyarakat jelang lebaran. [Suara.com/Lorensia Clara Tambing]

Namun, semakin hari, demamnya semakin parah. Ayahnya juga mulai sesak.

"Karena sampai empat hari belum ada perubahan. Kita inisiatif ke puskesmas, dari puskesmas di rujuk ke RSUD Lasinrang," ujarnya.

Di RSUD Lasinrang, tim medis langsung melakukan swab PCR terhadap ayahnya. Hasilnya keluar, dan betul ternyata positif.

Semua anggota keluarga lainnya pun turut diswab. Hasilnya juga sama. Positif.

Mereka diminta isolasi mandiri di rumah karena rumah sakit penuh. Namun isolasi mandiri di rumah ternyata tak efektif. Nenek Asrina juga mengalami gejala yang sama.

"Ada tim medis dari Puskesmas yang diminta kontrol. Pas papa bilang sudah tidak tahan, kita telepon Satgas dan mereka jemput," ungkapnya.

Dua hari isolasi di rumah, ayah dan neneknya semakin drop. Mereka akhirnya dilarikan ke rumah sakit.

Namun takdir berkata lain. Ayahnya meninggal saat dilarikan ke ICU.

Asrina mengaku dunianya serasa hancur seketika saat itu. Ia tak bisa memeluk ayahnya untuk terakhir kalinya.

"Lihat terakhir kalinya tidak bisa. Kita hanya bisa video call lewat bantuan nakes. Almarhum langsung dimakamkan secara protokol Covid-18 di Paleteang," ungkapnya.

Load More