Scroll untuk membaca artikel
Muhammad Yunus
Sabtu, 11 September 2021 | 07:30 WIB
Nenek penjual perlengkapan rumah tangga di Jalan Urip Sumoharjo, Kota Makassar [SuaraSulsel.id / Dokumentasi DT Peduli]

SuaraSulsel.id - Berbagai cara dilakukan untuk saling membantu di masa sulit sekarang ini karena Pandemi Covid-19. Seperti yang dilakukan seorang anak muda di Kota Makassar, Mamat Bakri.

Bersama Daarut Tauhiid Peduli, Mamat menginisiasi sebuah gerakan untuk membantu pedagang jalanan. Pedagang yang berjualan dari pagi sampai malam, tetapi dagangannya tidak laku.

Salah satunya, Hasnia, ibu berusia 80 tahun yang berjualan perlengkapan rumah tangga. Di usianya yang sudah senja, Hasnis masih kuat membopong dagangannya. Berkeliling di sekitar Jalan Urip Sumoharjo.

Hasniah memang tak seperti pedagang perabot rumah tangga lainnya. Punya tempat menjual, menunggu pembeli datang.

Baca Juga: Jelang Lawan PSM Makassar, Presiden Madura United Minta Pemain Bermain Profesional

Untuk mendapatkan pembeli, Hasniah harus berjalan kaki menelusuri Jalan Urip Sumoharjo untuk menjual dagangannya. Baskom besar ditaruh di kepala, sementara ember, keranjang dan yang lainnya ada di tangan kiri dan kanan.

Barang dagangannya juga milik orang lain. Hasniah hanya membantu menjual. Harganya mulai dari Rp 7.000 hingga Rp 25.000.

Setiap barang yang laku, Hasniah mengaku bisa mendapatkan untung sekitar Rp 2000. Mau tidak mau, beginilah cara Hasniah untuk bertahan hidup. Apalagi semenjak ditinggal suami.

Pedagang lain ada Herman. Kakek tua yang berjualan tisu di bawah jembatan Fly Over.

Kakek ini berjualan dari pagi hingga malam hari. Hanya beralaskan karpet plastik dan meja kecil.

Baca Juga: Komisi VIII: UPT Asrama Haji Makassar dapat Ditingkatkan Jadi yang Menguntungkan

Dua sosok pedagang tersebut yang menyentuh hati Mamat Bakrie. Mamat berprofesi sebagai Master of Ceremony (MC).

Setiap harinya ketika berangkat atau pulang kerja, ia selalu melihat dua sosok nenek dan kakek tersebut. Dari situ, ia mulai menyisipkan sebagian penghasilannya untuk diberi kepada kedua sosok pedagang tua tersebut.

Mamat bercerita, ia sangat iba melihat kedua pedagang tua itu. Hingga muncullah ide yang lebih humanis untuk bisa dijalankan.

Mamat mencari lembaga sosial yang bisa diajak berkolaborasi. Ia kemudian mengajukan proposal ke Daarut Tauhiid (DT) Peduli, dan disetujui.

"Saya mulai berpikir kenapa ini tidak dibuat berkelanjutan supaya bisa menyasar lebih banyak pedagang untuk diborong dagangannya," ucap Mamat, Jumat, 10 September 2021.

Mamat bersama Daarut Tauhiid kini punya program bernama Borong Dagangan. Kendati baru berjalan sebulan, Mamat mengaku senang.

Ia bisa berbagi kebahagiaan dengan para pedagang kecil. Apalagi sudah ada donatur yang membantunya.

"Akhirnya ada beberapa donatur dari DT Peduli yang ikut menyumbang dalam program ini," ucapnya.

Mamat mengaku dalam sebulan, pihaknya menargetkan empat pedagang kecil yang diborong dagangannya. Atau setidaknya dalam seminggu ada satu atau dua pedagang yang dibantu.

Mamat mengaku ide Borong Dagangan ini awalnya terinspirasi dari beberapa konten kreator di Jawa. Mereka juga melakukan aksi yang sama. Memborong dagangan penjual kecil.

Mamat kemudian melihat jika di Sulsel, utamanya Makassar belum ada orang yang melakukan hal tersebut. Sehingga ia membuat hal serupa.

"Tapi kami tidak terang- terangan kalau memborong dagangan mereka. Jadi seolah-olah beli dan memang butuh. Sehingga pedagang tersebut tidak merasa kalau dibeli karena kasihan. Dan ini juga bisa membuat mereka semakin semangat menjual," ungkapnya.

Dibalik ide Mamat, ada tim yang mendukung. Salah satunya Hasmirah. Ia merupakan Kepala Cabang Daarut Tauhiid Peduli di Sulsel.

Perempuan asal Gowa ini antusias dengan ide Borong Dagangan. Sehingga ketika Mamat datang mengajukan program, pihaknya langsung mengiyakan.

"Kebetulan di DT Peduli kami ada program berbagi yang hampir mirip-mirip dengan ide Mamat. Namun kami lebih ke sembako," ucapnya.

Akhirnya kini jadilah Program Borong Dagangan sekaligus memberikan sembako kepada pedagang yang dagangannya diborong.

Kontributor : Lorensia Clara Tambing

Load More