Scroll untuk membaca artikel
Muhammad Yunus
Minggu, 22 Agustus 2021 | 12:24 WIB
La Galigo disebut sebagai karya sastra terpanjang di dunia. Lebih panjang daripada epik India, Mahabarata, dan Ramayana [SuaraSulsel.id / Lorensia Clara Tambing]

Dalam adat Bugis, perempuan yang memilih "Silariang" sama artinya sudah dianggap meninggal. Bagi pasangan ini ada risiko nyawa melayang. Pada tahun 2018, novel ini pernah difilmkan.

Novel ini bercerita tentang kisah cinta Yusuf dan Zulaikha. Yusuf adalah anak pengusaha sukses yang lebih memilih menjadi jurnalis, sementara Zulaikha berasal dari keluarga bangsawan keturunan Raja Bone.

Sepasang kekasih itu memilih untuk "Silariang" atau kawin lari ketika cinta mereka tak direstui keluarga. Keduanya akan diburu untuk dibunuh oleh keluarga yang tak merestuinya.

5. Calabai: Perempuan dalam Tubuh Lelaki

Baca Juga: Innalillahi, Dua Pendaki Tewas Usai Kibarkan Bendera Merah Putih di Puncak Gunung

Novel karya Pepi Al-Bayqunie ini cukup unik. Membahas soal isu identitas gender, jiwa perempuan yang terperangkat dalam tubuh laki-laki.

Calabai adalah bahasa Bugis, yang berarti banci, bencong atau waria. Dalam novel ini dikisahkan soal Saidi sebagai tokoh utama.

Saidi adalah anak laki-laki yang diharapkan bisa jadi panutan dalam sebagai laki-laki dalam keluarga. Karena kedua kakak Saidi adalah perempuan. Akan tetapi kehadiran Saidi menjadi tidak diharapkan, bahkan dianggap mempermalukan keluarga, karena dalam perkembangan usianya Saidi tumbuh secara kemayu atau Calabai.
Sang ayah, puang Baso menempuh berbagai cara untuk menjadikan Saidi lelaki yang "utuh". Sayangnya, keluarga, lingkungan bermain, lingkungan sosial, lingkungan pendidikan, bahkan sampai lingkungan agama di tempat Saidi tinggal, tidak ada yang berpihak kepadanya.

Tak ingin menggoreskan luka lebih dalam di hati orang tuanya, saidi memilih pergi. Pertemuan dengan lelaki sepuh bersurban putih di dalam mimpinya telah membakar gairahnya untuk bertualang ke Segeri, negeri para Bissu.

Bissu adalah pemuka spriritual yang telah melampaui sifat laki-laki dan perempuan di dalam dirinya. Tugasnya sebagai penjaga keseimbangan alam. Disana, Saidi menemukan ilmu warisan leluhur. Dan disana pula ia menemukan jati dirinya sebagai Bissu.

Baca Juga: Epidemiolog Unhas: Kasus Kematian Covid-19 di Sulsel Cenderung Usai Produktif

6. Lontara Rindu

Load More