SuaraSulsel.id - Sederhana, rendah hati, tegas, jujur dan religius adalah cerminan dari sosok mantan Hakim Mahkamah Konstitusi (MK) Muhammad Alim. Muhammad Alim baru saja meninggal. Menghadap sang khalik.
Hakim kelahiran 21 April 1945 tersebut tergolong pribadi yang memiliki karir di meja hijau cukup panjang dan penuh perjuangan. Ia diketahui memulai perjalanan karirnya sebagai hakim karir di peradilan umum.
Setelah lima tahun berkecimpung di dunia peradilan, ia diangkat sebagai hakim di Pengadilan Negeri Sinjai yang selanjutnya berpindah-pindah ke sejumlah tempat.
Pengadilan Poso, Pengadilan Negeri Serui, Pengadilan Negeri Wamena, Pengadilan Negeri Surabaya, Pengadilan Tinggi Jambi, Pengadilan Tinggi DKI Jakarta, Ketua Pengadilan Tinggi Sulawesi Tenggara hingga hingga puncaknya diangkat menjadi Hakim Mahkamah Konstitusi pada 2008.
Sumpahnya sebagai hakim MK diambil langsung oleh Presiden RI keenam Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) untuk masa bakti 2008 hingga 2013 menggantikan Soedarsono yang pensiun.
Pada periode selanjutnya, ia kembali diamanahkan sebagai salah seorang dari sembilan hakim MK. Namun, untuk periode keduanya, Hakim Alim hanya menjalankan amanah hingga 21 April 2015 karena memasuki masa pensiun.
Semasa menjalani karir sebagai hakim, ia memang dikenal sebagai pribadi yang baik. Memiliki inisiatif tinggi terhadap kinerja, sederhana, santun serta dikenal jujur.
Akademisi, pengacara sekaligus dosen di Sekolah Pascasarjana Universitas Pakuan, M. Andi Asrun mengaku cukup mengenal dengan dekat Hakim Alim.
Suatu ketika, ia mendapat informasi hakim yang diusulkan oleh Mahkamah Agung (MA) tersebut menolak adanya potensi suap di lingkungan MK.
Baca Juga: Aksi Marbot Masjid Cabuli Anak-anak Dibawah Umur Terekam CCTV
"Ia menolak untuk disuap, hal itu tegas disampaikannya," ujar Andi.
Sikap jujur dan integritas yang tinggi dari sosok hakim lulusan Sekolah Rakyat Negeri tahun 1958 tersebut, adalah cerminan yang seharusnya dimiliki oleh setiap penegak hukum di Tanah Air.
Dalam menjalankan profesi sebagai hakim, lulusan strata tiga (S3) jurusan Hukum Tata Negara Universitas Islam Indonesia tersebut selalu mengedepankan prinsip yang benar adalah benar, dan yang salah tetap salah. Sepertinya, hal itu memang tidak bisa ditawar dari pribadinya.
Hal itu telah dibuktikan saat ia menolak adanya potensi suap di lingkungan MK sebagaimana yang disampaikan oleh M. Andi Asrun.
Selain jujur dan santun, ia juga dikenal sebagai pribadi yang sederhana. Gambaran kesederhanaannya tercermin dari rumahnya di Makassar yang hanya ditutupi seng.
"Saya pernah lihat rumahnya di Makassar, sangat sederhana dan hanya ditutupi seng," ujar Andi mengenang almarhum Hakim MK tersebut.
Berita Terkait
Terpopuler
- Korupsi Rp18,7 Miliar, Wakil Bupati Indramayu Resmi Ditahan, Lucky Hakim Masih Bungkam
- 5 Rekomendasi Sepatu untuk Jalan Kaki 20 Ribu Langkah, Empuk dan Tidak Cepat Pegal
- Cetak 6 Gol dalam 6 Laga Bersama Persija, Shin Tae-yong Angkat Topi untuk Alexander Jeremejeff
- Cara Menggunakan Minyak Zaitun Mustika Ratu untuk Wajah dan Rambut
- Bisakah Bedak Marcks dan Air Mawar Viva untuk Mengunci Makeup? Begini Caranya
Pilihan
-
Prabowo Tak Takut Ancaman MSCI, OJK: Kita Tetap Usaha Jadi Emerging Market
-
Pasar Bergejolak, Kapan Waktunya Beli, Tahan, atau Jual Saham?
-
Aktivis Greenpeace: Kalau Rakyat Menanggung Semua Krisis Sendiri, Apa Kerja Pemerintah?
-
Polisi Bunuh Polisi karena Bully, Bharatu Valdo 4 Kali Didor dan Digorok Junior
-
Kamaruddin Simanjuntak Pengacara Brigadir J Meninggal Dunia di RS Pelni
Terkini
-
Eks Pj Gubernur Sulsel Bahtiar Baharuddin Disikat Lagi oleh Kejati
-
Mark-up hingga Peserta Fiktif, Daftar Modus Korupsi Balai Pelatihan Dibongkar Kejati Sulsel
-
Gerakan Pangan Murah Nasional Digelar di Makassar
-
Bukan ke DPR, Masyarakat KTI Lebih Senang Salurkan Aspirasi di Media Sosial
-
Jalur 'Neraka' Gowa Kini Mulus, Punya Jalur Khusus Pesepeda dan Pejalan Kaki