"Kemudian anak gadisnya pakai sapu, dan satu keluarga termasuk adik iparnya, istrinya, adik kandungnya. Semua mengkroyok anak-anak dan menghardik anak-anak hafidz. Menghina anak hafidz. Itu faktornya kenapa saya tidak terima," tambah Wasid.
Tak hanya itu, kata Wasid, anggota dewan tersebut juga menuntut agar pihak Rumah Tahfizh Quran Nurul Jihad, Makassar memblokade fasilitas umum atau jalanan yang berada di belakang secara permanen. Menggunakan tembok semen.
"Kemudian kami dituntut anggota dewan tersebut untuk menutup mati itu pintu belakang dengan menjadikan tembok. Tapi kan kami di situ, cuma numpang, rumah itu bukan milik kami itu rumahnya Ketua LPM Makassar Faizal Suyuti. Jadi setelah saya melapor ke Pak Faizal Suyuti, Pak Faizal Suyuti tidak terima dan tidak bersedia rumahnya ditutup. Karena beliau beli rumah tersebut sudah lengkap dengan pintunya," papar Wasid.
Tetapi anggota dewan Kabupaten Pangkep itu tetap melakukan penutupan di pintu belakang Pondok Rumah Tahfizh Quran Nurul Jihad Makassar menggunakan tembok. Tanpa persetujuan dari pemilik rumah dan penghuni pondok tahfizh.
Alasan penutupan, kata dia, juga tidak rasional sama sekali. Sebab, penutupan dilakukan karena anggota dewan tersebut mengklaim bahwa tanah yang ditutup adalah milik pribadinya.
"Dengan lancangnya, entah kapan itu si anggota dewan tersebut menutup pintu pondok kami dan tetangga kami. Ditutup dengan semen tanpa ngomong kepada pemilik rumahnya dan kami juga," katanya.
"Alasannya sangat tidak rasional dan tidak masuk akal sekali. Pertama, itu tahah milik pribadinya, padahal menurut Bu Lurah dan Pak Camat termasuk Pak RW, itu tanah bukan milik siapa-siapa. Itu fasilitas umum. Kedua, takutnya anak-anak keluar lagi bikin kegaduhan atau buang sampah sembarangan. Sangat tidak rasional sekali. Makanya bukan cuma saya yang berniat melaporkan ini anggota dewan. Sekarang pemilik rumah tersebut juga melaporkan bahkan sudah sampai ke bapak wali kota," sambung Wasid.
Parahnya lagi, salah satu penyebab Anggota Dewan Kabupaten Pangkep itu diduga nekat menutup akses jalan di pintu belakang karena merasa risih mendengar keributan anak-anak santri di Rumah Tahfizh Quran Nurul Jihad, Makassar yang tengah menghafal alquran.
"Itu salah satunya. Sudah lama itu masalahnya. Anak-anak ngaji di belakang, katanya menganggu. Tapi sudah lama kejadianya yang masalah mengajinya. Cuma pas anak-anak santri diwawancarai sama orang polsek, ya disebut semua kejadiannya," ungkap Wasid.
Baca Juga: Pilih Donor Darah dari Penghafal Alquran, Ustaz Yusuf Mansur Disebut Sombong
Wasid menyebut bahwa anggota dewan tersebut memang memiliki bangunan rumah di belakang Pondok Rumah Tahfizh Quran Nurul Jihad Makassar. Namun, ia belum dapat memastikan apakah anggota dewan itu memang tinggal di rumah tersebut selama ini.
"Di belakang itu rumahnya. Mengenai dia tinggal atau tidak. Saya tidak tahu karena saya baru ketemu itu anggota dewan nanti hari kejadian. Saya tidak pernah liat-liat orangnya. Tidak pernah ketemu, tidak pernah bertegur sapa. Tidak pernah. Baru kali itu saya ketemu," ujar Wasid.
Akibat penutupan tersebut, katanya, anak-anak di Pondok Rumah Tahfizh Quran Nurul Jihad, Makassar sudah tidak dapat mengakses jalanan lebih cepat bila ingin berangkat ke masjid. Mereka hanya dapat melewati pintu depan pondok tahfizh jika ingin pergi ke masjid.
"Situasi sekarang kosong. Insyaallah besok baru kembali ke Makassar. Yang ditembok kan pintu belakang, anak-anak masih bisa lewat pintu depan. Jadi pintu belakang itu sebenarnya aksesnya santri yang kamarnya di pintu belakang. Kalau misalnya takut telat ke masjid, kamar bagian belakang itu lewat situ karena lebih dekat lagi ke masjidnya. Tapi karena sudah ditutup sama si anggota dewan, semuanya lewat depan," katanya.
Senada dengan Wahid, Bhabinkamtibmas Kelurahan Masale, Kecamatan Panakkukang, Kota Makassar Bripka Muh Rais mengemukakan bahwa sesuai dengan pengaduan Ketua RW termasuk dengan korban yang dipagari tersebut diketahui sebelum terjadi pembangunan tembok di Rumah Tahfizh Quran Nurul Jihad Makassar itu terdapat kejadian yang sudah dilaporkan ke polisi.
"Kejadinnya itu anak-anak ini biasanya kan di belakang rumah Tahfizh ini di jalanan yang di pagar itu menghafal Alquran. Merasa terganggu katanya dengan itu, kemudian anak-anak tahfizh ini entahkah dia olahraga, main bulutangkis dan menjemur pakaian di belakang. Kemudian merasa terganggu dan risih. Akhirnya waktu itu terjadi pengancaman yang dilakukan oknum ini mengejar anak-anak tahfizh menggunakan parang. Jadi masuk lagi ini anak-anak tahfizh di dalam rumah, bahkan sempat dirusak pintu rumah itu yang pintu belakang rumah tahfizh," beber Rais.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 HP Terbaru 2026 Harga Rp2 Jutaan, Kamera Bagus dan Baterai Besar hingga 7000 mAh
- Lirik Lagu 'MBG Mas Bahlil Ganteng' yang Viral, Lengkap Asal Usulnya
- Silsilah Keluarga Lim Xin Rui yang Resmi Jadi Menantu Hasto Kristiyanto
- 5 Sepatu Puma yang Diskon di Sports Station, Harga Mulai Rp200 Ribuan
- 5 Sunscreen Wardah Terlaris di Shopee Mulai Rp30 Ribuan, Ini Kandungan dan Manfaatnya
Pilihan
-
Bos Nvidia Serobot Antrean Jagung Bakar dengan Traktir Semua Pembeli, Egois atau Dermawan?
-
BREAKING NEWS! Persija Resmi Tidak Perpanjang Kontrak Mauricio Souza
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer: Hukum Mati Saja Saya!
-
Staf Ahli Gubernur Kaltim Bawa-Bawa Status 'Cucu Nabi' demi Redam Demo Massa
-
Cara Buka Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel dari HP, Tak Perlu Antre di Bank
Terkini
-
Sosok Rifaldy Fajar, Putra Bulukumba Disebut dalam Skandal Riset AI di Kopenhagen
-
Makassar Banjir Hewan Kurban: 7.261 Sapi Disembelih
-
5 Kasus Teridentifikasi Penipuan Jual Beli Titik SPPG
-
Rp100 Miliar Disiapkan Untuk Pembangunan Jembatan Kembar Barombong
-
Kapolda Endus Kepentingan Politik Dibalik Maraknya Geng Motor di Sulawesi Selatan