- Sebanyak 173 siswa dan guru di Tana Toraja diduga mengalami keracunan setelah menyantap menu Makan Bergizi Gratis pada September 2026.
- Orang tua siswa mendesak penghentian program tersebut di Kantor DPRD Tana Toraja karena merasa trauma dan kecewa atas pernyataan penyedia makanan.
- DPRD Tana Toraja memutuskan menghentikan sementara operasional penyedia makanan serta mewajibkan mereka menanggung seluruh biaya pengobatan korban.
SuaraSulsel.id - Sejumlah orang tua siswa meminta program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Tana Toraja, Sulawesi Selatan dihentikan.
Desakan itu muncul setelah 173 siswa dan guru diduga mengalami keracunan usai menyantap menu MBG.
Dari 173 orang tersebut, sebanyak 165 orang menjalani perawatan di tiga rumah sakit, sementara delapan lainnya dirawat di tiga puskesmas.
Salah satu orang tua siswa, Samuel bahkan meluapkan emosinya dan mendatangi Kantor DPRD Tana Toraja.
Baca Juga:Bukan Sampel Muntahan, Ini yang Sebenarnya Diuji BBPOM di Kasus MBG Tana Toraja
Ia meminta pemerintah tidak lagi membagikan makanan MBG sebelum persoalan dugaan keracunan tersebut benar-benar tuntas.
Samuel menceritakan anaknya mulai mengalami sakit perut dan mual pada Kamis dini hari.
Tak lama kemudian, ia mendapat informasi bahwa puluhan teman anaknya juga mengalami keluhan serupa. Bahkan, kata dia, ada siswa yang harus dilarikan ke rumah sakit setelah kondisinya memburuk hingga pingsan.
"Kami minta program ini dihentikan. Anak kami diracuni," ujar Samuel, Minggu, 6 September 2026.
Emosi Samuel semakin memuncak karena dalam rapat dengar pendapat (RDP) di DPRD Tana Toraja, pekan lalu orang tua korban tidak dilibatkan.
Baca Juga:Ratusan Siswa di Tana Toraja Diduga Keracunan MBG
Menurutnya, DPRD hanya mengundang pihak SPPG, pemerintah daerah dan Dinas Pendidikan untuk membahas persoalan tersebut.
"Kami orang tua tidak diundang. DPRD itu hanya mengundang sesama mereka, kami dari sisi orang tua tidak dilibatkan. Mereka tidak tahu anak saya jam 2 subuh itu sudah tak berdaya," ujarnya dengan suara bergetar.
Orang Tua Trauma
Keluhan serupa disampaikan orang tua siswa lainnya, Tiku Padang.
Ia mengaku trauma setelah anaknya harus menjalani perawatan selama dua hari akibat kejadian tersebut.
Selama ini, kata Tiku, kasus dugaan keracunan MBG hanya ia lihat melalui televisi dan media sosial. Namun kini, kejadian tersebut justru dialami keluarganya sendiri.