- Rektor Universitas Hasanuddin resmi melepas relawan tanggap darurat pascabencana gempa bumi NTT di Makassar pada Senin, 17 Agustus.
- Tim relawan terdiri atas mahasiswa KKN Tematik dan tenaga medis terpadu yang diberangkatkan secara bertahap mulai Rabu, 19 Agustus.
- Relawan akan bertugas di Ruteng, Kabupaten Manggarai, NTT, selama dua pekan untuk mendukung pemulihan masyarakat terdampak bencana.
SuaraSulsel.id - Universitas Hasanuddin (Unhas) kembali menggerakkan sumber daya akademiknya untuk membantu masyarakat terdampak bencana.
Rektor Unhas, Prof. Jamaluddin Jompa, melepas secara resmi para relawan Unhas yang akan memberi dukungan penanganan tanggap darurat pasca bencana gempa bumi di NTT.
Relawan yang dikirim terdiri atas mahasiswa KKN Tematik Tanggap Bencana dan Tim Bantuan Medis (TBM) Terpadu.
Pelepasan berlangsung usai Upacara Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di lingkungan Unhas, Senin (17/8), di Lapangan PKM Kampus Unhas, Tamalanrea, Makassar.
Baca Juga:Gubernur Sulsel Salurkan Bantuan Rp500 Juta untuk Korban Gempa NTT
Pelepasan tersebut menandai dimulainya keberangkatan relawan Unhas secara bertahap menuju wilayah terdampak gempa di NTT.
Rektor Unhas, Jamaluddin Jompa, mengatakan KKN Tematik Tanggap Bencana merupakan bagian dari komitmen Unhas untuk hadir ketika masyarakat membutuhkan dukungan, terutama dalam situasi darurat.
“Sejak lama Unhas mengusung semangat humaniversity, perguruan tinggi yang menempatkan kemanusiaan sebagai bagian penting dari pengabdian. Semangat itu terus kita perkuat melalui tindakan nyata,” tambah JJ.
Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Unhas, Prof. Muhammad Ruslin, menjelaskan bahwa relawan yang dikirimkan telah menjalani serangkaian persiapan.
“KKN Tematik ini kita gerakkan ketika terjadi bencana, kita langsung menyiapkan tim agar bisa sampai di lapangan dan membantu masyarakat. Kita juga terus berkoordinasi dengan tim Kementerian, karena Unhas ingin ambil bagian dari upaya bersama dalam penanganan bencana,” jelas Ruslin.
Baca Juga:Gempa M7,7 Nagekeo NTT Simpan Bahaya Tersembunyi, Ahli ITB Ungkap Potensi Pengulangan Sejarah
Sebelumnya, sebanyak 50 mahasiswa telah mendaftarkan diri untuk mengikuti program tersebut. Peserta kemudian diseleksi berdasarkan latar belakang keilmuan dan keahlian tanggap bencana.
“Semua kita siapkan sesuai kebutuhan daerah. Kita tidak ingin berjalan sendiri. Karena itu, kebutuhan di lapangan harus menjadi dasar dalam menentukan siapa yang diberangkatkan dan apa yang dibawa,” jelas Prof. Ruslin.
Keberangkatan dilakukan secara bertahap mengikuti perkembangan situasi dan kebutuhan wilayah terdampak.
Tim pertama berjumlah 10 mahasiswa akan didampingi dosen dan mendapatkan pembekalan sebelum menuju lokasi.
Pembekalan diberikan untuk memastikan mahasiswa memahami batas peran, prosedur keselamatan, pola koordinasi, serta kondisi yang mungkin dihadapi selama berada di wilayah bencana.
Unhas juga membangun koordinasi dengan jejaring penanganan kebencanaan di lokasi agar keterlibatan mahasiswa menjadi bagian dari sistem yang telah berjalan.