- Bendungan Bilibili di Kabupaten Gowa mengering pada 1 Oktober 2026, mengganggu pasokan air bagi warga dan ribuan hektare sawah.
- BMKG melaporkan fenomena El Nino menyebabkan musim hujan di Sulawesi Selatan tahun ini mundur dua hingga tiga dasarian.
- Pemerintah daerah menetapkan status tanggap darurat kekeringan sejak 14 September 2026 serta menyiagakan pompanisasi dan sumur bor.
SuaraSulsel.id - Kemarau membuat Bendungan Bilibili, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, mengering.
Pada Kamis, 1 Oktober 2026, mercu bendung atau bagian atas bendungan terlihat mengering. Saluran pelimpah yang biasanya dialiri air kini hanya menyisakan genangan dangkal tanpa aliran.
Surutnya air juga terlihat di aliran Sungai Jeneberang. Bebatuan yang biasanya tertutup air kini mulai tampak jelas di dasar sungai.
Kondisi tersebut menjadi gambaran semakin menipisnya ketersediaan air di salah satu sumber air penting di Sulawesi Selatan.
Baca Juga:Darurat Kekeringan di Makassar: Warga Krisis Air Bersih
Bendungan Bilibili menampung aliran Sungai Jeneberang dan sejumlah sungai kecil di sekitarnya. Airnya tidak hanya dimanfaatkan sebagai sumber air baku utama bagi Perumda Air Minum (PDAM) Makassar, tetapi juga memenuhi kebutuhan masyarakat di Kabupaten Gowa.
Dampaknya pun tidak hanya dirasakan untuk kebutuhan rumah tangga. Bendungan Bilibili juga menjadi sumber air untuk areal persawahan di Gowa yang luasnya mencapai lebih dari 23.000 hektare.
Bagi pelanggan PDAM Makassar, kondisi ini menjadi perhatian serius. Sekitar 180 ribu pelanggan di Kota Makassar bergantung pada sistem penyediaan air baku yang salah satunya bersumber dari Bendungan Bilibili.
![Kondisi terkini Bendungan Bili-bili di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, Kamis 1 Oktober 2026. Sekitar 180 ribu pelanggan PDAM terdampak akibat kekeringan air [SuaraSulsel.id/Istimewa]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/10/01/29262-bendungan-bili-bili.jpg)
Di tengah kondisi tersebut, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan bahwa musim hujan di Sulsel tahun ini berpotensi mengalami kemunduran akibat pengaruh El Nino.
Musim Hujan Mundur 2-3 Dasarian
Baca Juga:5 Menit Kota Makassar Diguyur Hujan
Kepala BMKG Wilayah Makassar, Nasrul Adil mengatakan pengaruh El Nino tidak berarti Sulsel tidak akan mengalami hujan hingga 2027.
Namun, fenomena tersebut dapat mengurangi curah hujan sekaligus membuat awal musim hujan datang lebih lambat.
"Kalau untuk Sulawesi Selatan sendiri ada wilayah-wilayah yang sudah memasuki musim hujan yang kapasitasnya dari mulai menengah hingga tinggi. Tapi tidak sangat tinggi ya, menengah dan tinggi," kata Nasrul, Kamis, 1 Oktober 2026.
Secara normal, musim hujan di Sulsel berlangsung pada periode November-Desember. Namun, tahun ini awal musim hujan diperkirakan mundur sekitar dua hingga tiga dasarian.
Artinya, sejumlah wilayah masih harus menghadapi kondisi kering lebih lama sebelum hujan mulai turun secara lebih konsisten.
Nasrul menjelaskan El Nino yang masih bertahan hingga 2027 tidak serta-merta membuat Sulsel mengalami kekeringan sepanjang tahun depan.