Bukan Cuma Enak, Ini Alasan Udang Sulsel Jadi Favorit Orang Jepang

Mereka mengubahnya jadi tempura, sushi, hingga berbagai olahan yang menjadi bagian dari keseharian kuliner Negeri Sakura

Muhammad Yunus
Sabtu, 08 Agustus 2026 | 16:55 WIB
Bukan Cuma Enak, Ini Alasan Udang Sulsel Jadi Favorit Orang Jepang
Ilustrasi udang tempura (Envato elements by Alex9500)
Baca 10 detik
  • PT Bogatama Marinusa di Makassar mengekspor 859,4 ton udang senilai Rp148,2 miliar ke Jepang pada semester pertama 2026.
  • Konsumen Jepang menyukai udang vaname dan windu asal Sulawesi Selatan karena memiliki rasa manis serta tekstur khas.
  • Badan Karantina Indonesia memastikan komoditas udang ekspor tersebut memenuhi standar kesehatan, keamanan, dan mutu internasional.

SuaraSulsel.id - Di meja makan Jepang, udang bukan sekadar makanan laut. Mereka mengubahnya jadi tempura, sushi, hingga berbagai olahan yang menjadi bagian dari keseharian kuliner Negeri Sakura.

Di balik hidangan itu, ada udang yang datang dari berbagai negara.

Salah satunya Indonesia. Termasuk Sulawesi Selatan yang selama bertahun-tahun menjadi salah satu sentra pengolahan dan ekspor udang.

Bagi industri udang di Sulsel, Jepang bahkan bukan sekadar pasar tujuan. Negara itu menjadi salah satu pembeli terbesar yang menyerap produk udang dari daerah ini.

Baca Juga:Rahasia Warga Sulsel Tetap Antusias Daftar Haji Meski Masa Tunggu Puluhan Tahun

General Manager PT Bogatama Marinusa (BOMAR), Jumaeri mengatakan sekitar 80 persen produk ekspor perusahaannya dikirim ke Jepang.

Ia menggambarkan tingginya dominasi udang asal Sulsel di pasar Jepang dengan sebuah perbandingan sederhana.

"Kalau di Jepang tiga ekor udang tempura di piring, dua ekor itu udang asal Sulsel," kata Jumaeri.

Kepala Badan Karantina Indonesia, Abdul Kadir Karding melihat proses produksi udang di PT BOMAR Makassar [SuaraSulsel.id/Lorensia Clara]
Kepala Badan Karantina Indonesia, Abdul Kadir Karding melihat proses produksi udang di PT BOMAR Makassar [SuaraSulsel.id/Lorensia Clara]

Angka tersebut memang merupakan gambaran dari pengalaman perusahaan, bukan data keseluruhan konsumsi udang Jepang. Namun, pernyataan itu menunjukkan betapa pentingnya pasar Jepang bagi eksportir udang asal Sulsel.

Sepanjang semester pertama 2026, PT BOMAR mengekspor 859,4 ton udang dengan nilai mencapai Rp148,2 miliar.

Baca Juga:Kalau Nanti Di-bully Lagi Bagaimana? Tidak Akan Ada Mau Berteman dengan Saya

Ekspor tersebut terdiri atas 765.132 kilogram udang vaname senilai sekitar Rp122,5 miliar dan 94.292 kilogram udang windu dengan nilai sekitar Rp25,7 miliar.

Dua jenis udang itu menjadi produk utama yang dikirim perusahaan ke pasar internasional.

Lantas, apa yang membuat udang Sulsel begitu diminati?

Menurut Jumaeri, jawabannya tidak semata-mata pada ukuran udang. Ada rasa dan tekstur yang menjadi pertimbangan konsumen Jepang.

"Orang Jepang sangat menyukai udang asal Sulsel, terutama windu dan vaname karena ada rasa manis dan teksturnya dibandingkan udang dari negara Asia lainnya," ujarnya.

Permintaan yang tinggi bahkan menjadi tantangan tersendiri bagi perusahaan.

Bukan pasar yang sepi yang membuat eksportir kesulitan, melainkan keterbatasan pasokan.

Jumaeri mengatakan perusahaan membutuhkan sekitar 50 ton udang setiap hari untuk memenuhi kebutuhan produksinya. Namun, jumlah tersebut belum selalu bisa dipenuhi.

Kondisi itu menunjukkan bahwa rantai ekspor udang tidak berhenti di ruang produksi.

Sebelum menjadi produk beku yang siap dikirim ke luar negeri, ketersediaan bahan baku dari pembudidaya menjadi salah satu mata rantai penting.

Semakin tinggi permintaan pasar, semakin besar pula kebutuhan terhadap pasokan udang yang konsisten, baik dari sisi jumlah maupun kualitas.

Di sisi lain, pasar Jepang juga memiliki standar yang ketat.

Udang yang akan dikirim tidak cukup hanya memiliki ukuran dan rasa yang sesuai selera konsumen. Produk harus memenuhi persyaratan kesehatan, keamanan pangan, sanitasi, hingga ketertelusuran yang ditetapkan negara tujuan.

Di titik inilah proses karantina menjadi bagian penting dalam perjalanan udang dari Sulsel menuju pasar global.

Kepala Badan Karantina Indonesia (Barantin), Abdul Kadir Karding melihat proses tersebut saat mengunjungi PT BOMAR di Makassar, Jumat, 7 Agustus 2026.

Ia meninjau rangkaian pengolahan udang ekspor, mulai dari proses breaded hingga pengemasan.

Kata Karding, standar yang diterapkan perusahaan menunjukkan bahwa industri udang Indonesia memiliki kemampuan untuk memenuhi tuntutan pasar internasional.

"BOMAR jadi gambaran bahwa sebenarnya Indonesia ini bisa menjadi pemain udang nomor satu di dunia karena kalau udangnya dikelola dengan tepat. Apa yang ada di Bomar ini merupakan suatu ekosistem dengan standar yang sangat tinggi," ujarnya.

Karding mengatakan tugas karantina bukan hanya memastikan dokumen ekspor lengkap. Komoditas perikanan yang keluar dari Indonesia harus memenuhi standar kesehatan dan mutu yang dipersyaratkan.

"Standar yang telah diterapkan oleh BOMAR seperti ini memang standar ekspor dunia. Tugas kami memastikan semua komoditas perikanan yang keluar, baik antarpulau maupun antarnegara, sehat, mutunya terjaga, dan kualitasnya terjaga," ujarnya.

Bagi perusahaan, proses tersebut menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kegiatan ekspor.

CEO PT BOMAR, Tigor Chendarma mengatakan kepastian layanan karantina membantu perusahaan memenuhi persyaratan perdagangan internasional sekaligus menjaga kepercayaan pembeli di luar negeri.

"Layanan karantina bukan sekadar persyaratan administrasi, tetapi menjadi bagian penting dalam memastikan setiap produk yang kami kirim memenuhi standar kesehatan dan keamanan negara tujuan," kata Tigor.

Ia mengatakan layanan yang cepat dan kredibel juga penting karena industri ekspor berhadapan dengan jadwal pengiriman dan tuntutan pasar yang ketat.

Karantina Sulawesi Selatan memastikan setiap komoditas yang akan dikirim ke luar negeri telah memenuhi persyaratan teknis dan kesehatan sebelum sertifikat diterbitkan.

Kepala Karantina Sulawesi Selatan, Sitti Chadidjah mengatakan pihaknya terus meningkatkan kualitas layanan agar proses sertifikasi tidak menjadi hambatan bagi pelaku usaha.

"Komitmen kami memastikan setiap komoditas yang diekspor memenuhi seluruh persyaratan karantina sehingga dapat diterima negara tujuan tanpa hambatan," katanya.

Sepanjang proses tersebut, seluruh komoditas ekspor PT BOMAR telah melalui tindakan karantina. Sebanyak 69 sertifikat karantina diterbitkan untuk pengiriman ke sejumlah negara, termasuk Jepang, Vietnam, dan Tiongkok.

Di satu sisi, pasar luar negeri memberikan peluang besar bagi industri perikanan Sulsel. Di sisi lain, industri harus memastikan pasokan bahan baku cukup untuk memenuhi permintaan dan menjaga kualitas agar kepercayaan pasar tidak hilang.

Kata Sitti, Jepang telah menjadi pasar penting bagi udang Sulsel.
Tantangan berikutnya adalah bagaimana menjaga agar udang dari perairan dan tambak Sulsel tetap tersedia, memenuhi standar internasional, dan mampu bersaing ketika permintaan global terus berubah.

Kontributor : Lorensia Clara Tambing

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini