- Karmila, remaja disabilitas asal Jeneponto, mengatasi trauma perundungan setelah mendaftar di Sekolah Rakyat Terintegrasi 3 Sulawesi Selatan.
- Pada 7 Agustus 2026, ia berbincang dengan Menteri Sosial Saifullah Yusuf dan menyanyikan lagu di hadapan para pejabat.
- Sekolah inklusif tersebut memberikan pendampingan khusus sehingga Karmila kini kembali percaya diri dan bercita-cita menjadi dokter.
Ibunya kemudian membujuknya dengan sabar.
"Mama bilang tidak apa-apa dicoba dulu. Kalau tidak betah, nanti bisa pulang," ujarnya pelan.
Kalimat sederhana itu akhirnya memberinya keberanian untuk mengambil langkah yang mengubah hidupnya.
Karmila menjadi satu-satunya siswa penyandang disabilitas di SRT 3 Sulawesi Selatan.
Baca Juga:Jalan Hertasning Nyaris Rampung! Ini Update Terbaru Proyek Jalan Rp2,5 Triliun di Sulsel
Rasa takut yang dulu membayangi perlahan menghilang. Di sekolah itu, ia menemukan teman-teman yang justru saling menjaga.
"Di sini saya punya banyak teman. Kami sama-sama berasal dari keluarga kurang mampu dan mereka menjaga saya," ujarnya.
Ia mengaku diperlakukan sama seperti siswa lainnya. Perbedaan hanya berlaku saat kegiatan yang membutuhkan kemampuan fisik lebih berat, seperti pelajaran olahraga.
Pengalaman itu membuat Karmila perlahan melupakan luka akibat perundungan yang pernah dialaminya.
"Saya sering minder dan putus asa karena jadi korban bully sejak kecil. Tapi saya ingat lagi orang tua saya. Mereka petani dan saya harus berhasil. Saya juga didukung guru-guru dan wali asuh," katanya.
Baca Juga:Darurat Sampah Makassar, Wali Kota Appi Pastikan Proyek PSEL Tetap Jalan Meski Ada Penolakan
Kini, gadis yang gemar belajar bahasa Inggris itu menyimpan mimpi besar. Ia ingin menjadi dokter, bahkan bercita-cita suatu hari bisa melanjutkan perjalanan hingga ke Amerika Serikat.
Kepala SRT 3 Sulawesi Selatan, Widyawati mengaku masih mengingat betul kondisi Karmila saat pertama kali datang ke sekolah.
Menurutnya Karmila tumbuh dari keluarga yang sangat sederhana dengan rasa percaya diri yang nyaris hilang akibat sering menjadi korban perundungan.
"Dia sering curhat merasa tersingkirkan karena keterbatasannya. Kami memberikan motivasi, pengasuhan dari wali asrama dan guru hingga akhirnya dia bisa bangkit dan percaya diri," ujarnya.
Seiring waktu, para guru menemukan bakat lain yang dimiliki Karmila.
Kemampuan vokalnya menonjol. Begitu pula kemampuan berbahasa Inggris yang dinilai sangat baik.