- Karmila, remaja disabilitas asal Jeneponto, mengatasi trauma perundungan setelah mendaftar di Sekolah Rakyat Terintegrasi 3 Sulawesi Selatan.
- Pada 7 Agustus 2026, ia berbincang dengan Menteri Sosial Saifullah Yusuf dan menyanyikan lagu di hadapan para pejabat.
- Sekolah inklusif tersebut memberikan pendampingan khusus sehingga Karmila kini kembali percaya diri dan bercita-cita menjadi dokter.
SuaraSulsel.id - "Kalau nanti di-bully lagi bagaimana?"
Kalimat itu berulang kali terucap dari bibir Karmila. Ketika ibunya mengajaknya mendaftar ke Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 3 Sulawesi Selatan di Pajjaiang, kota Makassar.
Pengalaman pahit sebagai korban perundungan sejak kecil membuat gadis 15 tahun asal Kabupaten Jeneponto itu sulit percaya bahwa masih ada tempat yang bisa menerimanya apa adanya.
Karmila lahir dengan kondisi congenital talipes equinovarus atau kaki pengkor.
Baca Juga:Jalan Hertasning Nyaris Rampung! Ini Update Terbaru Proyek Jalan Rp2,5 Triliun di Sulsel
Kondisi itu membuatnya harus menjalani berbagai keterbatasan sejak kecil.
Dua pekan lalu kaki kanannya baru saja menjalani operasi sehingga kini ia masih menggunakan kursi roda untuk beraktivitas.
Namun, keterbatasan fisik itu tak lagi menghalangi semangatnya mengejar cita-cita.
Di lingkungan Sekolah Rakyat, Karmila justru menemukan sesuatu yang lama hilang dari hidupnya. Ya, rasa percaya diri.
Jumat, 7 Agustus 2026, Karmila mendapat kesempatan berbincang langsung dengan Menteri Sosial, Saifullah Yusuf saat meninjau SRT 3 Sulawesi Selatan.
Baca Juga:Darurat Sampah Makassar, Wali Kota Appi Pastikan Proyek PSEL Tetap Jalan Meski Ada Penolakan
Dengan suara pelan namun penuh keyakinan, ia menceritakan perjalanan hidupnya yang tidak mudah.
Karmila merupakan putri pasangan Kamarauddin dan Sarefah, petani sederhana di Jeneponto.
Sebelum masuk Sekolah Rakyat, ia bersekolah di madrasah tsanawiyah. Keterbatasan ekonomi keluarga membuat pendidikannya terancam terhenti.
Harapan itu datang ketika pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) mengusulkan agar Karmila melanjutkan pendidikan di Sekolah Rakyat.
Awalnya, ia menolak keras.
"Awal ke sini berat sekali. Saya tidak mau. Saya bilang nanti dibully lagi, tidak akan ada yang mau berteman dengan saya," kenangnya.