- Peneliti Universitas Hasanuddin menciptakan inovasi pengolahan gula aren alami yang lebih efisien di Sulawesi Selatan sejak tahun 2016.
- Teknologi baru tersebut mampu memangkas waktu produksi hingga lima puluh persen tanpa menggunakan bahan tambahan atau pengawet kimia.
- Tim peneliti berhasil memproduksi empat varian gula aren berkualitas dengan izin edar resmi dari BPOM untuk perluasan pasar.
SuaraSulsel.id - Peneliti Universitas Hasanuddin (Unhas) berhasil menghadirkan inovasi pengolahan gula aren yang menghasilkan produk lebih alami, berkualitas, dan efisien.
Riset yang dipimpin Guru Besar Fakultas Kehutanan Unhas, Prof. Syahidah, mampu memangkas waktu produksi hingga 50 persen sekaligus menghilangkan penggunaan bahan tambahan yang selama ini lazim dipakai dalam proses pembuatan gula aren tradisional.
Penelitian yang dimulai sejak 2016 tersebut lahir dari besarnya potensi tanaman aren di Sulawesi Selatan yang tersebar hampir di seluruh kabupaten.
Menurut Prof. Syahidah, saat penelitian dimulai belum tersedia standar mutu gula aren yang diproduksi masyarakat, padahal komoditas ini memiliki nilai ekonomi yang besar dan permintaan pasar terus meningkat.
Baca Juga:Prof Niswar: AI Bukan Ancaman, Tapi Mitra Kritis Kampus Masa Depan
"Gula aren sangat dekat dengan kehidupan masyarakat. Saat kami memulai penelitian pada 2016, belum ada informasi mengenai standar kualitas gula aren yang diproduksi dan beredar di Sulawesi Selatan. Padahal, potensinya sangat besar dan menjadi sumber penghasilan masyarakat di banyak daerah," ujar Prof. Syahidah, dalam keterangan tertulis, Senin 13 Juli 2026.
Melalui teknologi yang dikembangkan tim peneliti Unhas, proses pembuatan gula aren serbuk yang sebelumnya membutuhkan waktu sekitar tujuh hingga delapan jam kini dapat diselesaikan hanya dalam tiga setengah hingga empat jam.
Efisiensi tersebut dinilai mampu meningkatkan produktivitas pelaku usaha tanpa mengurangi kualitas produk.
Keunggulan utama inovasi ini terletak pada proses produksinya yang tidak lagi menggunakan bahan pengawet maupun bahan tambahan seperti kemiri, kelapa parut, atau minyak goreng. Hasilnya, gula aren yang dihasilkan memiliki cita rasa alami, mutu lebih konsisten, dan lebih aman dikonsumsi.
"Perbedaan produk kami dengan gula aren yang sudah beredar di pasaran adalah proses pembuatannya tidak menggunakan bahan pengawet maupun bahan tambahan lainnya yang umum digunakan oleh pengrajin gula aren," jelasnya.
Baca Juga:Viral Isu Mahasiswa Difabel Diminta Keluar Asrama, Ini Penjelasan Resmi Unhas
Dari penelitian tersebut, tim Unhas berhasil menghasilkan empat produk turunan gula aren, yakni gula aren cair, gula aren kubus, gula aren serbuk, dan gula aren sachet.
Tiga di antaranya telah mengantongi izin edar dari BPOM RI, sementara produk gula aren sachet masih dalam proses penyelesaian administrasi.
Prof. Syahidah mengatakan, izin edar menjadi langkah penting agar hasil riset dapat dipasarkan secara lebih luas dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
"Bagi kami, izin edar merupakan pintu pembuka agar produk hasil riset dapat dipasarkan lebih luas dan memberikan manfaat yang lebih besar kepada masyarakat," katanya.
Ia mengungkapkan, minat pasar terhadap produk gula aren hasil penelitian tersebut sebenarnya sudah muncul sejak beberapa waktu lalu. Namun, tim memilih menunda ekspansi pemasaran hingga seluruh aspek legalitas terpenuhi.
"Permintaan pasar sebenarnya sudah cukup tinggi. Namun kami memilih menahan perluasan pemasaran karena ingin memastikan seluruh persyaratan terpenuhi. Sekarang, setelah izin edar diperoleh, kami semakin percaya diri untuk memperluas distribusi dan menjangkau pasar yang lebih luas," ujarnya.