- Ribuan siswa di Makassar memulai Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah pada Senin, 13 Juli 2026, dengan berbagai kegiatan edukatif.
- Dinas Pendidikan Sulsel menegaskan MPLS harus berlangsung ramah, tanpa perpeloncoan, serta bebas dari segala bentuk praktik perundungan siswa.
- Pemerintah daerah memastikan pembelian seragam sekolah tidak wajib melalui koperasi dan menjamin seluruh anak tetap mendapatkan akses pendidikan.
SuaraSulsel.id - Hari pertama Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) menjadi pengalaman baru bagi ribuan siswa di Makassar, Senin, 13 Juli 2026.
Beragam ekspresi pun menghiasi wajah-wajah mereka.
Sebagian masih sibuk mencari sosok ayah dan bundanya dari balik jendela. Ada pula yang menangis histeris ketika menyadari orang tuanya benar-benar telah pulang.
Beberapa siswa juga terlihat menguap berkali-kali. Mungkin semangatnya sudah berangkat ke sekolah, tetapi rasa kantuknya masih tertinggal di rumah.
Baca Juga:Kejari Makassar Gerak Cepat Usut Dugaan Jual Beli Jabatan Kepala Sekolah
Bahkan beberapa anak sudah terlihat usil menggoda teman barunya hingga guru harus beberapa kali mengingatkan agar kembali fokus mengikuti kegiatan.
Berbeda dengan suasana di sekolah dasar. Pelaksanaan MPLS di SMP Negeri 33 Makassar berlangsung lebih semarak.
Ratusan siswa baru tampak antusias mengikuti rangkaian pengenalan lingkungan sekolah yang dipandu pengurus OSIS.
Gelak tawa sesekali terdengar ketika para kakak kelas mengajak peserta bermain gim edukatif dan memperkenalkan budaya sekolah.
Suasana serupa juga terlihat di SMKN 5 Makassar.
Baca Juga:6 Kepala Sekolah di Makassar Mengaku Jadi Korban Jual Beli Jabatan
![Suasana MPLS hari pertama di Kota Makassar, Sulawesi Selatan [SuaraSulsel.id\Lorensia Clara]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/07/13/48085-hari-pertama-sekolah.jpg)
Para siswa baru mengikuti senam pagi, pengenalan organisasi sekolah, hingga penampilan ekstrakurikuler. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari MPLS Ramah yang tahun ini dilaksanakan selama lima hari sesuai arahan Kementerian Pendidikan.
Pelaksana Harian Kepala Dinas Pendidikan Sulawesi Selatan, Erwin Sodding mengatakan pelaksanaan MPLS tahun ini menitikberatkan pada terciptanya lingkungan sekolah yang aman, ramah, dan bebas dari praktik perundungan maupun kekerasan.
"Kami menekankan jangan sampai ada praktik bully, baik antarsiswa maupun terhadap guru. Perundungan adalah cikal bakal lahirnya kekerasan. Kalau dibiarkan, dampaknya bisa semakin besar," tegasnya.
Erwin menegaskan telah menginstruksikan seluruh kepala sekolah untuk memberikan sanksi tegas kepada siswa yang terbukti melakukan perundungan atau bentuk kekerasan lainnya.
Ia menekankan sekolah harus menjadi ruang yang aman bagi seluruh peserta didik sejak hari pertama mereka menginjakkan kaki di lingkungan pendidikan.
Selain itu, Disdik Sulsel juga memastikan tidak ada praktik perpeloncoan selama MPLS. Sosialisasi mengenai sekolah ramah anak akan terus dilakukan, tidak hanya selama masa pengenalan lingkungan sekolah, tetapi juga sepanjang proses pembelajaran.