Pernah Mengguncang Tanah Bugis, Inilah Rahasia di Balik Tari Pajoge Angkong

Puang Macora bukan sekadar penari. Ia adalah maestro sekaligus salah satu pelaku terakhir Tari Pajoge Angkong di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan.

Muhammad Yunus
Senin, 29 Juni 2026 | 08:11 WIB
Pernah Mengguncang Tanah Bugis, Inilah Rahasia di Balik Tari Pajoge Angkong
Puang Macora, maestro sekaligus salah satu pelaku terakhir Tari Pajoge Angkong di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan [SuaraSulsel.id/Istimewa]
Baca 10 detik
  • Puang Macora merupakan maestro sekaligus penari terakhir Pajoge Angkong, kesenian tradisional yang berasal dari Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan.
  • Tari Pajoge Angkong yang sempat populer di lingkungan Kerajaan Bone kini berada di ambang kepunahan akibat berbagai faktor.
  • Dinas Pariwisata Sulawesi Selatan mendata kesenian ini sebagai tradisi hampir punah karena minimnya regenerasi penari di kalangan muda.

SuaraSulsel.id - Di usianya yang telah melewati delapan dekade, tubuh Puang Macora masih meliuk mengikuti irama.

Tangan kanannya membuka dan menutup kipas dengan gerak yang tenang, sementara setiap langkahnya menyimpan jejak sejarah panjang sebuah tarian yang nyaris hilang.

Puang Macora bukan sekadar penari. Ia adalah maestro sekaligus salah satu pelaku terakhir Tari Pajoge Angkong di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan.

Di balik setiap pertunjukannya tersimpan kisah tentang kejayaan, perang, pengembaraan, hingga perjuangan mempertahankan warisan budaya yang kini berada di ambang kepunahan.

Baca Juga:Cap Tangan 67.800 Tahun di Pulau Muna Jadi Seni Cadas Tertua di Bumi

Pajoge merupakan salah satu kesenian masyarakat Bugis yang sejak dahulu hidup di lingkungan istana maupun masyarakat. Tarian ini lazim dipentaskan dalam pesta perkawinan keluarga bangsawan.

Penarinya berasal dari masyarakat biasa yang dipilih melalui kriteria tertentu, kemudian digembleng oleh seorang indo pajoge, guru yang bertugas melatih para penari.

Dalam perkembangannya, Pajoge terbagi menjadi dua bentuk. Pertama adalah Pajoge Makkunrai yang dibawakan perempuan.

Kedua adalah Pajoge Angkong yang dimainkan oleh kalangan calabai atau waria, kelompok yang dalam tradisi Bugis memiliki kedekatan dengan dunia ritual para bissu.

Puang Macora, maestro sekaligus salah satu pelaku terakhir Tari Pajoge Angkong di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan [SuaraSulsel.id/Istimewa]
Puang Macora, maestro sekaligus salah satu pelaku terakhir Tari Pajoge Angkong di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan [SuaraSulsel.id/Istimewa]

Menurut tradisi yang diwariskan para pelaku seni, Pajoge Angkong lahir dari gagasan para calabai di Bone.

Baca Juga:Seni Tertua Dunia Ada di Sulawesi, Lukisan Gua Berusia 51.200 Tahun Guncang Dunia

Berawal dari kekaguman mereka terhadap pertunjukan Sere Bissu, muncul keinginan untuk menciptakan sebuah tarian baru.

Gerakan-gerakan Sere Bissu kemudian dikembangkan menjadi bentuk tari yang lebih luas atau mallebbang sere.

Gagasan tersebut mendapat sambutan baik dari para bissu. Setelah memperoleh restu, Pajoge Angkong mulai dipentaskan dan berkembang menjadi salah satu hiburan penting dalam lingkungan Kerajaan Bone.

Pada masa kejayaannya, Pajoge Angkong menjadi kesenian yang kerap tampil dalam berbagai hajatan kerajaan.

Salah satu kisah yang masih hidup dalam ingatan para pelaku menyebutkan, Raja Bone ke 32 La Singkeru Rukka pernah mengundang kelompok Pajoge Angkong untuk tampil pada acara akikah putranya.

Konon, keputusan itu diambil karena sang raja berulang kali bermimpi menyaksikan pertunjukan Pajoge Angkong.

Dalam pertunjukan perdananya di Kota Watampone, seorang penari mengenakan tujuh lapis Baju Bodo.

Angka tujuh memiliki makna simbolis dalam kosmologi Bugis: Pitu Wali (tujuh wali), Pitu Lapi Langi (tujuh lapis langit), dan Pitu Lapi Tana (tujuh lapis bumi).

Popularitas Pajoge Angkong kemudian melampaui Bone. Kelompok-kelompok penari mulai tampil hingga ke Kabupaten Soppeng, Wajo, Pinrang, bahkan mencapai Buton.

Namun sejarah berubah ketika pergolakan DI/TII melanda Sulawesi Selatan pada dekade 1950-an. Situasi keamanan membuat berbagai pertunjukan rakyat berhenti.

Pajoge Angkong perlahan kehilangan panggung lalu memasuki masa vakum yang panjang.

"Bagaimana kita bisa menari dengan tenang kalau orang-orang terus berperang. Jadi saya memilih meninggalkan Bone dan merantau," kenang Puang Macora.

Perjalanan hidupnya kemudian membawanya ke Kalimantan, Sumatra, hingga Malaysia.

Di tanah rantau itulah ia tetap mempertahankan Pajoge Angkong dengan menggelar berbagai pertunjukan sebagai upaya menjaga agar tarian leluhurnya tidak benar-benar hilang.

Kini keadaan berubah jauh dibanding masa lalu.

Banyak penari Pajoge Angkong telah wafat tanpa sempat mewariskan ilmunya kepada generasi berikutnya. Pertunjukan semakin jarang digelar.

Akibatnya, tidak sedikit masyarakat Bone sendiri yang kini bahkan tidak lagi mengenal Pajoge Angkong.

Puang Macora mulai menari sejak berusia 15 tahun. Lebih dari enam puluh tahun kemudian, ia masih berdiri di atas panggung sebagai saksi hidup perjalanan kesenian tersebut.

Menurutnya, persoalan terbesar bukan hanya minimnya pertunjukan, melainkan juga semakin sedikitnya anak muda yang ingin belajar.

"Para waria sekarang lebih memilih menjadi penata rias pengantin atau pekerjaan lain yang penghasilannya lebih menjanjikan," ujarnya.

Di tengah kenyataan itu, harapan untuk mempertahankan Pajoge Angkong semakin bergantung pada sedikit pelaku yang masih tersisa.

Kondisi tersebut juga menjadi perhatian pemerintah. Dinas Pariwisata Provinsi Sulawesi Selatan mencatat Pajoge Angkong sebagai salah satu seni tradisi yang berada dalam kategori hampir punah.

Tim melakukan pendataan terhadap sejumlah kesenian tradisional yang terancam hilang, termasuk Pajoge Angkong.

Kontributor : Lorensia Clara Tambing

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini