Satu Mesin Setara 7.500 Luwak: Inovasi Unhas Ubah Nasib Petani Kopi Argopuro

Aroma kopi yang baru selesai diproses memenuhi sebuah rumah sederhana di Desa Baderan, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur

Muhammad Yunus
Senin, 15 Juni 2026 | 07:46 WIB
Satu Mesin Setara 7.500 Luwak: Inovasi Unhas Ubah Nasib Petani Kopi Argopuro
Wakil Rektor Bidang Kerja Sama, Inovasi, Bisnis, dan Kewirausahaan Universitas Hasanuddin Prof Adi Maulana, menyaksikan langsung bagaimana sebuah inovasi kampus mampu menghadirkan perubahan nyata bagi petani kopi di Desa Baderan, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur [SuaraSulsel.id/Unhas]
Baca 10 detik
  • Universitas Hasanuddin dan Pemkab Situbondo menerapkan teknologi Ohmic Fermentation untuk meningkatkan kualitas kopi petani di Desa Baderan.
  • Teknologi inovasi Prof. Salengke ini mempercepat proses fermentasi sehingga mampu meningkatkan harga jual kopi sebesar Rp50 ribu per kilogram.
  • Penerapan teknologi ini dilakukan pada 14 Juni 2026 guna meningkatkan kesejahteraan ekonomi petani di lereng Gunung Argopuro tersebut.

SuaraSulsel.id - Siang itu, aroma kopi yang baru selesai diproses memenuhi sebuah rumah sederhana di Desa Baderan, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur.

Di teras rumah Kepala Desa, sejumlah petani tampak bercengkerama setelah pulang dari kebun. Senyum mereka terlihat biasa saja, namun menyimpan optimisme yang tidak kecil.

Di tengah suasana hangat itu, Wakil Rektor Bidang Kerja Sama, Inovasi, Bisnis, dan Kewirausahaan Universitas Hasanuddin (Unhas), Prof Adi Maulana, menyaksikan langsung bagaimana sebuah inovasi kampus mampu menghadirkan perubahan nyata bagi masyarakat.

"Jujur, sebelum datang ke desa ini saya tidak membayangkan bahwa sebuah inovasi yang lahir di kampus dapat memberikan dampak langsung yang begitu nyata bagi masyarakat," ungkapnya dalam keterangan tertulis kepada Suara.com, Minggu 14 Juni 2026.

Baca Juga:Penjelasan Unhas Terkait 28 Mahasiswa Disebut Diskor Karena Kritik Program MBG

Desa Baderan dikenal sebagai salah satu sentra kopi di lereng Gunung Argopuro.

Selama bertahun-tahun, para petani menggantungkan hidup dari hasil panen kopi yang kualitas dan harganya sangat dipengaruhi oleh proses pascapanen.

Kini, sebuah cerita baru sedang ditulis di desa tersebut.

Wakil Rektor Bidang Kerja Sama, Inovasi, Bisnis, dan Kewirausahaan Universitas Hasanuddin Prof Adi Maulana, menyaksikan langsung bagaimana sebuah inovasi kampus mampu menghadirkan perubahan nyata bagi petani kopi di Desa Baderan, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur [SuaraSulsel.id/Unhas]
Wakil Rektor Bidang Kerja Sama, Inovasi, Bisnis, dan Kewirausahaan Universitas Hasanuddin Prof Adi Maulana, menyaksikan langsung bagaimana sebuah inovasi kampus mampu menghadirkan perubahan nyata bagi petani kopi di Desa Baderan, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur [SuaraSulsel.id/Unhas]

Melalui kolaborasi antara Universitas Hasanuddin dan Pemerintah Kabupaten Situbondo, para petani mulai mengenal teknologi fermentasi kopi modern yang berpotensi mengubah masa depan usaha mereka.

Teknologi itu bernama Ohmic Fermentation, sebuah inovasi karya Prof. Salengke, Guru Besar Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Hasanuddin.

Baca Juga:Belajar dari Amerika, Prof. Veny Hadju Bawa Model Gizi Mutakhir ke Unhas

Mesin ini dirancang untuk mempercepat proses fermentasi kopi secara lebih terkontrol dan konsisten.

Hasil akhirnya bukan hanya proses produksi yang lebih efisien, tetapi juga kualitas cita rasa kopi yang meningkat secara signifikan.

Yang paling menarik, satu unit mesin Ohmic Fermentation memiliki kapasitas yang setara dengan sekitar 7.500 ekor luwak dalam menghasilkan efek fermentasi kopi premium.

Sebuah terobosan yang selama ini sulit dibayangkan dalam industri kopi nasional.

Dampaknya pun langsung dirasakan para petani.

Kopi yang sebelumnya diolah secara konvensional kini memiliki mutu yang lebih baik dan nilai jual yang lebih tinggi.

Peningkatan harga mencapai sekitar Rp50 ribu per kilogram dibandingkan kopi yang diproses dengan metode biasa.

Bagi sebagian orang, angka tersebut mungkin terlihat sederhana. Namun bagi petani kopi di lereng Argopuro, tambahan nilai itu berarti lebih dari sekadar keuntungan usaha.

Itu bisa menjadi biaya pendidikan anak, tambahan modal untuk mengembangkan kebun, hingga tabungan untuk masa depan keluarga.

Melihat manfaat yang dirasakan masyarakat, Pemerintah Kabupaten Situbondo memberikan apresiasi tinggi kepada Universitas Hasanuddin.

Pemerintah daerah menilai kehadiran teknologi tersebut menjadi salah satu solusi nyata dalam meningkatkan kesejahteraan petani kopi.

Bagi Adi Maulana, apa yang terjadi di Baderan menjadi gambaran nyata tentang makna sebuah perguruan tinggi yang benar-benar hadir untuk masyarakat.

Menurutnya, riset seharusnya tidak berhenti sebagai publikasi ilmiah atau tersimpan di laboratorium. Inovasi harus mampu menjawab kebutuhan nyata dan memberikan manfaat langsung bagi kehidupan masyarakat.

Semangat itulah yang terus didorong Unhas sejak 2022 melalui transformasi menuju kampus berdampak di bawah kepemimpinan Rektor Prof. Jamaluddin Jompa.

Berbagai hasil penelitian yang memiliki prospek ekonomi dan sosial terus didorong untuk memasuki tahap hilirisasi agar dapat dimanfaatkan oleh masyarakat, dunia usaha, maupun sektor industri.

Mesin fermentasi kopi menjadi salah satu contoh bagaimana inovasi kampus mampu menembus batas-batas akademik dan hadir sebagai solusi di lapangan.

Di Desa Baderan, yang terlihat bukan sekadar peningkatan kualitas kopi. Yang terlihat adalah bagaimana ilmu pengetahuan mampu menghadirkan peluang baru, meningkatkan pendapatan, dan menumbuhkan harapan.

Perjalanan inovasi itu dimulai dari laboratorium di Makassar, lalu menempuh ratusan kilometer menuju kebun-kebun kopi di Situbondo.

Di sana, teknologi bertemu dengan kerja keras petani.

Dan ketika keduanya bersatu, lahirlah perubahan yang dapat dirasakan secara nyata.

Pada akhirnya, keberhasilan sebuah universitas bukan hanya diukur dari banyaknya jurnal yang diterbitkan atau penelitian yang dihasilkan.

Lebih dari itu, keberhasilan sejati hadir ketika ilmu pengetahuan mampu menyentuh kehidupan manusia dan memperbaikinya.

Dari Desa Baderan, lereng Gunung Argopuro, sebuah pelajaran penting kembali ditegaskan. Secangkir kopi yang lebih baik bisa menjadi awal bagi kehidupan yang lebih baik bagi petani Indonesia.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini