- Polemik muncul di Sulawesi Selatan terkait dugaan diskriminasi dan pergantian peserta seleksi Paskibraka tingkat nasional asal Makassar.
- Kesbangpol Sulsel membantah adanya praktik titipan atau diskriminasi karena penilaian dilakukan objektif berdasarkan akumulasi nilai peserta.
- Pemprov Sulsel menjadwalkan rapat dengar pendapat untuk menjelaskan prosedur seleksi dan memfasilitasi aspirasi peserta yang merasa keberatan.
Menurut Kesbangpol, kesalahpahaman terjadi karena beberapa peserta yang dipanggil mengikuti sesi pendalaman mengira telah masuk tahap final.
Padahal, pemanggilan dilakukan bertahap untuk kebutuhan penilaian lanjutan dan pendalaman materi.
4. Apakah ada peserta titipan pejabat?
Kepala Kesbangpol Provinsi Sulawesi Selatan, Bustanul Arifin, menegaskan seluruh tahapan seleksi telah dilaksanakan sesuai ketentuan dan berlangsung secara objektif.
Baca Juga:Polemik Seleksi Paskibraka: Gubernur Sulsel Pertemukan Peserta Dengan Panitia
Ia memastikan, tidak ada praktik titipan maupun perlakuan diskriminatif dalam proses penentuan peserta yang mewakili Sulawesi Selatan ke tingkat nasional.
"Dari awal kami pastikan pelaksanaan seleksi utusan kabupaten/kota ke provinsi berjalan objektif dan transparan. Tidak ada titipan, apalagi diskriminasi rasial," kata Bustanul Arifin.
5. Apakah penggunaan bahasa daerah menjadi syarat kelulusan seleksi nasional?
Jawaban:
Tidak. Kesbangpol menegaskan pertanyaan mengenai bahasa daerah hanya sebatas pengenalan identitas peserta sebagai wakil daerah.
Baca Juga:Direktur Paskibraka BPIP: Seleksi Paskibraka Sulsel Objektif dan Sesuai Mekanisme
Kemampuan berbahasa daerah tidak memengaruhi kelulusan peserta menuju tahap nasional.
![Kepala Kesbangpol Provinsi Sulawesi Selatan, Bustanul Arifin [SuaraSulsel.id/Humas Pemprov Sulsel]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/05/29/58645-bustanul-arifin.jpg)
6. Apakah ada rasisme dalam proses seleksi ?
Bustanul Arifin membantah keras adanya diskriminasi etnis atau rasisme dalam proses seleksi.
Ia menyatakan bahwa pihak panitia di Sulsel tidak sebodoh itu untuk mendiskualifikasi seseorang hanya karena latar belakang etnis atau rasnya.
Terutama di era keterbukaan informasi saat ini. Di mana semua orang memiliki kesempatan yang sama.
"Bodoh kami jika memilih orang berdasarkan etnis atau ras," kata Bustanul.