- Siswa SMAN 8 Pinrang bernama Rehan berhasil masuk Hall of Fame NASA setelah menemukan celah keamanan siber pada April 2026.
- Prestasi tersebut diraih melalui partisipasi dalam Vulnerability Disclosure Program NASA yang dilakukan Rehan secara otodidak menggunakan perangkat komputer sederhana.
- Bupati Pinrang memberikan penghargaan kepada Rehan saat upacara Hari Pendidikan Nasional pada 4 Mei 2026 sebagai bentuk apresiasi prestasi.
SuaraSulsel.id - Upacara Hari Pendidikan Nasional di halaman Kantor Bupati Pinrang, Senin, 4 Mei 2026 terasa berbeda. Di tengah barisan siswa berseragam, nama Rehan (17) dipanggil ke depan.
Siswa SMAN 8 Pinrang itu menerima penghargaan langsung dari bupati Irwan Hamid.
Ya, bukan tanpa alasan. Rehan baru saja mencatatkan namanya di Hall of Fame NASA (National Aeronautics and Space Administration).
Prestasi itu datang dari sesuatu yang tak banyak orang pahami. Rehan menemukan celah keamanan pada sistem milik badan antariksa paling bergengsi di dunia itu.
Baca Juga:Wali Kota Makassar Ancam Copot Kepala Sekolah yang Gelar Perpisahan Siswa Berbayar
Rehan berhasil menemukan celah keamanan atau bug pada situs resmi NASA melalui program Vulnerability Disclosure Program (VDP) pada April 2026. Sebuah pengakuan bergengsi di dunia keamanan siber global.
"Saya mendapat informasi ada program VDP yang diadakan NASA dan diikuti oleh puluhan ribu orang. Jadi saya cari tahu sub domain yang menarik," kata Rehan.
Dari rasa penasaran itu, ia mulai mengumpulkan data dan mencoba memahami sistem. Hingga akhirnya, ia menemukan celah yang memungkinkan pengambilalihan username pada salah satu domain.
"Alhamdulillah saya bisa temukan celah di NASA," ujarnya.
Prestasi itu tidak datang tiba-tiba.
Rehan sudah tertarik pada dunia teknologi sejak kelas dua SMP.
Baca Juga:Bukan Hanya Siswa, Guru pun Terkena Aturan Baru Penggunaan Ponsel di Sekolah Sulbar
Ia belajar secara otodidak. Hanya mengandalkan aplikasi YouTube sebagai guru utamanya.
Dari coding dasar, ia kemudian beralih ke keamanan siber atau bug hunting. Awalnya semua ia lakukan hanya dengan ponsel.
"Saya mulai dari HP dulu, baru kemudian punya laptop," katanya.
Di tengah keterbatasan, semangatnya tidak surut. Ia terus belajar, membaca, dan menonton berbagai kasus kebocoran data untuk memahami bagaimana celah keamanan bisa terjadi dan bagaimana menutupnya.
"Saya sering lihat kasus website bocor. Dari situ saya belajar cara memperbaikinya," ujarnya.
Keberanian Rehan juga diuji saat memutuskan ikut program VDP NASA. Awalnya ia bilang sempat ragu.
"Siapa yang tidak tahu NASA, sistemnya pasti sangat kuat," katanya.
Namun, ia berpegang pada satu prinsip. Tidak ada sistem yang benar-benar aman. Keyakinan itu yang akhirnya membawanya menemukan celah tersebut.
"Saya tahu tidak ada sistem digital yang benar-benar sempurna," katanya.
Sebelum NASA, Rehan sebenarnya sudah lebih dulu mencatatkan prestasi. Ia pernah mendapat pengakuan dari Dresden University di Oslo, Norwegia, serta San Diego State University di Amerika Serikat.
Di dalam negeri, ia juga menerima penghargaan dari Komdigi setelah menemukan kerentanan pada domain milik pemerintah.
Namun di sekolah, Rehan nyaris tak terlihat menonjol.
Kepala sekolahnya, Handia Asyik mengaku sempat menganggap Rehan sebagai siswa biasa.
"Awalnya kami pikir dia biasa saja, tidak terlalu menonjol secara akademik," ujarnya.
Namun pandangan itu berubah setelah prestasi Rehan viral.
"Ternyata dia punya potensi besar di bidang digital. Kami malah merasa terlambat mengetahui itu," katanya.
Bagi sekolah yang berada sekitar 250 kilometer dari Makassar, capaian Rehan menjadi kebanggaan tersendiri.
"Meskipun kami di kampung, kami bisa menunjukkan prestasi," tambah Handia.
Di balik semua pencapaian itu, ada cerita tentang perjuangan.
Rehan berasal dari keluarga sederhana. Ayahnya bekerja sebagai kuli bangunan, sementara ibunya ibu rumah tangga.
Keterbatasan ekonomi tidak membuatnya berhenti bermimpi.
Ia justru menjadikan kondisi itu sebagai dorongan untuk terus belajar.
Cita-citanya jelas. Ia ingin kelak menjadi ahli keamanan siber.
"Saya ingin membantu mengamankan sistem, terutama milik pemerintah kita yang masih rawan," ujarnya.
Prestasi Rehan mendapat perhatian dari pemerintah daerah. Bupati Pinrang, Irwan Hamid secara khusus menyerahkan penghargaan dan bantuan pendidikan kepada Rehan dalam upacara Hari Pendidikan Nasional, Senin, 4 Mei 2026.
Momentum itu menjadi simbol bahwa dari daerah, anak muda juga bisa menembus panggung dunia.
Bagi Rehan, pencapaiannya bukan sekadar prestasi pribadi. Ia berharap kisahnya bisa menjadi pesan bagi anak-anak lain.
"Semoga semua anak bisa dapat pendidikan yang sama," katanya.
Ia juga berharap akses dan fasilitas pendidikan bisa lebih merata, sehingga semakin banyak anak dari daerah yang memiliki kesempatan untuk berkembang.
Kontributor : Lorensia Clara Tambing